Imam at-Tairmidzy al-Hakim, seorang
filosuf agung dan Sufi terbesar di zamannya pernah menulis tentang Khatamul Auliya’
(Pamungkas para wali), sebagai konsep mengembangkan pamungkas para Nabi
(Khatimul Anbiya’). Ibu
Araby dalam kitabnya yang paling
komprehensif sepanjang zaman, Al-Futuhatul Makiyyah. Disanalah Ibnu Araby
menjawab 155 pertanyaan dalam Khatamul Auliya’-nya At-Tirmidy. Dalam pertanyaan
pertama berbunyi:
Berapakah Manazil (tempat pijakan ruhani) para Auliya’?
Ibnu Araby menjawab: Ketahuilah bahwa manazil Auliya’ ada dua macam. Pertama
bersifat Inderawi (hissiyah) dan kedua bersifat Maknawy. Posisi pijakan ruhani
(manzilah) yang bersifat inderawi, adalah syurga, walau pun di syurga itu ada
seratus jumlah derajatnya. Sedangkan manzilah mereka di dunia yang bersifat
inderawi adalah ahwal mereka yang seringkali melahirkan sesuatu yang luar
biasa. Diantara mereka ada ditampakkan oleh Allah seperti Wali-wali Abdal dan
sejenisnya. Ada juga yang tidak ditampakkan seperti kalangan Wali Malamatiyah
serta para kaum ‘Arifin yang agung, jumlah pijakan mereka lebih dari 100 tempat
pijakan ruhani. Setiap masing-masing tempat itu berkembang menjadi sekian
tempat yang begitu banyak. Demikian pijakan ruhani mereka yang bersifat
inderawi di dua alam (dunia dan akhirat).
Sedangkan yang bersifat Maknawy dalam dimensi-dimensi kema’rifatan, maka
manzilah mereka 248 ribu tempat pijakan ruhani hakiki yang tidak dapat diraih
oleh ummat-ummat sebelum Nabi kita Muhammad SAW, dengan rasa ruhani yang
berbeda-beda, dan masing-masing rasa ruhani memiliki rasa yang spesial yang
hanya diketahui oleh yang merasakan.
Jumlah tersebut tersari dalam empat maqamat: 1) Maqam Ilmu Ladunny, 2) Maqam
Ilmu Nur, 3) Maqam Ilmu al-Jam’u dan at-Tafriqat, 4) Maqam Ilmu Al-Kitabah
al-Ilahiyyah. Diantara Maqamat itu adalah maqam-amaqam Auliya’ yang terbagi
dalam 100 ribu lebih maqam Auliya, dan masing-masing masih bercabang banyak,
yang bisa dihitung, namun bukan pada tempatnya mengurai di sini.
Mengenai Ilmu Ladunny berhubungan dengan nunasa-nuansa Ilahiyah dan sejumlah
serapannya berupa Rahmat khusus. Sedangkan Ilmu Nur, tampak kekuatannya pada
cakrawala ruhani paling luhur, ribuan Tahun Ilahiyah sebelum lahirnya Adam as.
Sementara Ilmu Jam’ dan Tafriqah adalah Lautan Ilahiyah yang meliputi secara
universal, dimana Lauhul Mahfudz sebagai abian dari Lautan itu. Dari situ pula
melahirkan Akal Awal, dan seluruh cakrawala tertinggi mencerap darinya. Dan
sekali lagi, para Auliya selain ummat ini tidak bisa mencerapnya. Namun
diantara para Auliya’ ada yang mampu meraih secara keseluruhan ragam itu,
seperti Abu Yazid al-Bisthamy, dan Sahl bin Abdullah, serta ada pula yang hanya
meraih sebagian. Para Auliya’ di kalangan ummat ini dari perspektif pengetahuan
ini ada hembusan ruh dalam lorong jiwanya, dan tak ada yang sempurna kecuali
dari Auliya’ ummat ini sebagai pemuliaan dan pertolongan Allah kepada mereka,
karena kedudukan agung Nabi mereka Sayyidina Muhammad SAW.
Di dalam pengetahuan tersebut tersembunyi rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang
sesungguhnya berada dalam tiga pijakan dasar ruhani pengetahuan: 1) Pengetahuan
yang berhubungan dengan Ilahiyyah, 2) Pengetahuan yang berhubungan dengan
ruh-ruh yang luhur, dan 3) Pengetahuan yang berhubungan dengan maujud-maujud
semesta.
Yang berhubungan dengan ilmu ruh-ruh yang luhur menjadi beragam tanpa adanya
kemustahilan kontradiktif. Sedangkan yang berhubungan dengan maujud alam
beragam, dan memiliki kemustahilan dengan kontradiksi kemustahilannya.
Jika pengetahuan terbagi dalam tiga dasar utama itu, maka para Auliya’ juga
terbagi dalam tiga lapisan: Lapisan Tengah (Ath-Thabaqatul Wustha), memiliki
123 ribu pijakan ruhani, dan 87 manzilah utama, yang menjadi sumber serapan
dari masing-masing manzilah yang tidak bisa dibatasi, karena terjadinya
interaksi satu sama lainnya, dan tidak ada yang meraih manfaatnya kecuali
dengan Rasa Khusus. Sementara lapisan yang sisanya, (dua lapisan) muncul dengan
pakaian kebesaran dan sarung keagungan. Hanya saja keduanya yang menggunakan
sarung keagungan itu memiliki mazilah lebih dari 123 ribu itu. Sebab pakaian
kebesaran merupakan penampakan dari AsmaNya Yang Maha Dzahir, sedangkan sarungnya
adalah penampakan dari AsmaNya Yang Maha Batin. Yang Dzahir adalah asal
tonggaknya, dan Yang Batin adalah karakter baru, dimana dengan kebaruannya
muncullah pijakan-pijakan ruhani (manazil) ini.
Cabang senantiasa menjadi tempatnya buah. Maka apa yang ditemukan pada cabang
itu merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam tonggaknya, yaitu buah.
Walaupun dua cabang di atas itu munculnya dari satu tonggak utamanya yaitu
AsdmaNya Yang Maha Dzahir, tetapi hukumnya berbeda. Ma’rifat kita kepada Tuhan,
muncul setelah kita mengenal diri kita, sebab itu “Siapa yang kenal dirinya,
kenal Tuhannya”. Walaupun wujud diri kita sesungguhnya merupakan cabang dari
dari Wujug Rabb. Wujud Rabb adalah tonggal asal, dan wujud hamba adalah cabang
belaka. Dalam Martabat bisa akan mendahului, sehingga bagiNya ada Nama
Al-Awwal, dan dalam suatu martabat diakhirkan, sehingga ada Nama Yang Maha
Akhir. Disatu sisi dihukumi sebagai Asal karena nisbat khusus, dan dilain sisi
disehukumi sebagai Cabang karena nisbat yang lain. Inilah yang bisa dinalar
oleh analisa akal. Sedangkan yang dirasakan oleh limpahan Ma’rifat Rasa, maka
Dia adalah Dzahir dari segi bahwa Dia adalah Batin, dan Dia adalah Batin dari
segi kenyataanNya Yang Dzahir, dan Awwal dari kenyataanNya adalah Akhir, demikian
pula dalam Akhir.
Swedangkan jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah itu, ada356
sosok, yang mereka itu adala dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail,
dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356
tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut
demikian.
Sedangkan menurut thariqat kami dan yang muncul dari mukasyafah, maka jumlah
keseluruhan Auliya yang telah kami sebut diatas di awal bab ini, sampai
berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada 1 orang, yang tidak mesti muncul
setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammady, sedangkan yang lain
senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul
Muhammady pada zaman ini (zaman Ibnu Araby, red), kami telah melihatnya dan
mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di
Fes (Marokko) tahun 595 H.
Ibnu Araby Tentang
Khatamul Auliya' - Page 2
Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para
Wali : Ummahat, Aqthab; A’immah; Autad; Abdal; Nuqaba’; dan Nujaba’.
Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’
sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad SAW.?
Ibnu Araby menjawab:
Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup
Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia
adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana
turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali
dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah
Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak
ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun
seperti Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia.
Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya
mengikuti aturan Nabi Muhammad SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat
Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.
Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa,
sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut
terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu
mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.
Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada
seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595
H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya
dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya
melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah
Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan
keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.
Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu
juga Allah menutup Kewalian Muhammady, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah,
bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim,
Musa, dan Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul
Auliya'’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad
SAW. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul
Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Isa Alaissalam.
Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Isa As, dan
sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.
Wallahu A’lam bish-Shawab.
Kualitas Wali Itu
Bertingkat-tingkat
Page 1 of 2

Bila mengacu pada al-Qur’an
(Yunus, ayat 62-64), kriteria kewalian itu adalah iman dan taqwa. Dengan sudah
terpenuhinya dua kriteria tersebut, berarti seseorang berhak menyandang
predikat wali. Apakah
sesederhana itu? Menurut Dr. Asep Usman Ismail,
kriteria kewalian dengan kadar keimanan dan ketaqwaan yang baru standar,
barulah memenuhi konsep kewalian secara umum. Untuk tidak mengaburkan istilah
wali yang demikian kudus, tentunya kita tidak bisa berpatokan pada pemahaman
harpiyah dari ayat di atas. Kalau berbicara tentang kadar keimanan saja,
sebagaimana dipaparkan dosen UIN Jakarta ini, standar kewalian itu haruslah
mengenal Allah melalui penyaksian mata batinnya. Dan pada level ini pun masih
bertingkat-tingkat kualitasnya.
Bagaimana pandangan Anda mengenai konsep kewalian?
Kalau kita kembalikan pada pengertian dasarnya, istilah wali itu kan maknanya
bisa dekat, bisa juga kekasih, bisa berarti bimbingan, atau juga pemeliharaan.
Jadi pengertian wali itu adalah orang yang dekat dengan Allah; karena
kedekatannya itu pula maka ia layak menjadi kekasih Allah; karena telah dekat
dan sekaligus menjadi kekasih-Nya, maka ia pun layak mendapat bimbingan dan
juga pemeliharaan dari Allah. Karena itu konsep kewalian itu bisa dijelaskan
dari sudut relasi, yaitu relasi antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Apakah dari sudut relasi itu juga dapat menjelaskan adanya tingkatan-tingkatan
diantara para wali Allah itu?
Ya, kalau berbicara tentang relasi, kondisi dan intensitas setiap manusia itu
kan berbeda-beda. Ada yang baru mendekat, ada yang sudah relatif dekat, ada
yang sudah dekat sekali, bahkan ada yang sudah menyatu. Karena kondisinya
berbeda-beda, maka kualitas kewaliannya pun menjadi berbeda pula. Itulah
sebabnya mengapa ada tingkatan-tingkatan wali.
Dengan adanya tingkatan-tingkatan tadi, apa saja kriterianya sehingga
seseorang layak dikategorikan sebagai wali pada tingkatannya yang paling dasar
misalnya?
Dalam al-Qur’an Surah Yunus ayat 62 sampai 64 itu disebutkan, persyaratan untuk
menjadi wali itu hanya dua saja. Satu beriman, dua bertaqwa. Dari ayat inilah
kemudian para ulama menyimpulkan tentang konsep walaayatul-aammah atau kewalian
secara umum, ada juga yang mengistilahkannya dengan walaayatut-tauhiid.
Sejauh mana kadar iman dan taqwa harus dimiliki sehingga seseorang
berhak menyandang derajat kewalian dalam konteks walaayatul-‘amah ini?
Kalau menurut Ibnu Taimiyah, kewalian secara umum itu baru konsisten atau
istiqamah dalam menjalankan segala yang diperintahkan serta menjauhi segala
yang dilarang Allah. Tapi belum sepenuhnya mengerjakan yang disunatkan, belum
meninggalkan yang dimakruhkan. Dan untuk kategori ini seseorang belum berhak
menyandang derajat kewalian dalam pengertiannya yang khusus.
Jika demikian, bila konsep kewalian secara umum ini ditonjolkan,
mungkin akan berdampak pada pendangkalan makna. Lebih-lebih istilah wali ini
sudah sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal konsep kewalian
dalam Islam itu kan begitu kudus. Jadi, apa sebenarnya makna kewalian secara
khusus?
Pandangan tentang konsep kewalian secara khusus itu cukup beragam. Misalnya ada
yang mengklasifikasikannya menjadi 8 tingkatan, yang masing-masing tingkatan
itu menunjukkan kualitas yang berbeda. Tapi ada juga yang membaginya menjadi
lima tingkatan saja, misalnya Hakim at-Tirmidzi.
Lalu, siapa saja yang sudah tergolong wali dalam pengertian yang khusus
ini?
Sulit juga kalau berbicara tentang person. Kita paling bisa berbicara tentang
konsep. Secara konseptual, ada yang disebut walayah haqqullah. Istilah haq yang
disandarkan kepada Allah itu mengandung beberapa pengertian. Dalam istilah Haq
Allah itu tercermin pengertian pesan, ajaran dan perintah Allah. Karenanya haqullah
bisa diartikan dengan syari’at Allah. Jadi auliya pada tingkatan ini adalah
mereka yang sudah mampu menjalankan syari’at Allah secara kaaffah, yaitu secara
komprehensif dan istiqamah. Jadi tidak ada konsep kewalian yang justru
mengabaikan aspek syari’ah. Kecuali itu, istilah haqullah juga mengacu pada
realitas wujud yang tertinggi. Jadi kewalian dalam tingkatan ini adalah mereka
yang sudah mampu berintegrasi dengan realitas yang tertinggi, yaitu Allah.
Pengertian berintegrasi ini tentunya harus mengacu pada apa yang dikonsepsikan
oleh para sufi itu sendiri. Ada yang mengkonsepsikannya dengan ma’rifah, ada
yang menyebutnya dengan ittihad, hulul dan lainnya.
Tingkatan berikutnya?
Ada lagi yang disebut waliyullah, tidak digandengkan dengan istilah haq lagi.
Tingkatan ini untuk menggambarkan bahwa sang wali itu, bukan berarti tidak lagi
berpegang pada syari’at. Tetapi perhatian dan orientasinya sudah pada
substansi, bukan lagi berkutat pada aspek formal dari syari’at. Jadi dia sudah
sampai pada tingkat merasakan inti atau substansi dari syari’at. Dalam konteks
ini, Imam Asy-Syathibi mengistilahkannya dengan hikmah syari’ah. Orang pada
level ini adalah mereka yang sudah mencapai Ghaayatush-shidqi fil-‘ibadah,
puncak kesungguhan dalam beribadah. Dia sudah mencapai tarap optimal dalam
kualitas ibadahnya. Ia sudah jauh melampaui batas minimal.
Kualitas Wali Itu
Bertingkat-tingkat - Page 2
Page 2 of 2
Apa perbedaan yang spesifik di antara kedua tingkatan tadi?
Kalau walaayah haqqullah disebut kaum shaadiquun. Sedangkan waliyullah
disebutnya sebagai shiddiiquun. Kalau mengacu pada pendapat Ibnu Taimiah
sebagaimana tadi sudah kita singgung, kewalian secara umum itu baru konsisten
menjalankan segala yang diperintahkan serta menjauhi segala larangan Allah.
Belum sepenuhnya mengerjakan yang disunatkan, belum meninggalkan yang
dimakruhkan. Nah, kalau kelompok shaadiquun itu, secara lahiriyah, mereka sudah
istiqamah menjalankan yang disunatkan serta meninggalkan yang dimakruhkan.
Adapun secara batiniyah, batinnya itu sudah terhubungkan dengan Allah. Dengan
kata lain, kelompok shiddiiquun adalah mereka yang sudah mencapai esensi dari
syari’ah. Artinya sudah sampai pada penyerahan diri secara total kepada Allah.
Dia tidak menganggap bahwa dirinya punya kemampuan. Bahkan kesadaran
eksistensialnya sudah sirna, sudah fana. Batinnya sudah mu’allqun billah, sudah
terpaut erat dengan Allah. Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah itu kan
umumnya karena mereka menganggap dirinya punya kemampuan, menganggap dirinya
punya eksistensi yang mandiri di luar Tuhannya.
Lalu tingkatan berikutnya?
Tingkatan berikutnya, ada yang disebut al-muniibuun, yaitu orang-orang yang
sudah senantiasa mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Dia sudah
berhasil menekan egonya, sudah dapat menekan kepentingan-kepentingan
pribadinya, persepsinya tentang hal-hal duniawi sudah jernih. Orang seperti ini
sudah mendekati karakter malaikat. Ada lagi yang disebut al-muqarrabuun, yaitu
orang yang sudah benar-benar dekat dengan Allah. Kalau kita, misalnya kita ini
betul memahami bahwa Allah itu dekat. Tetapi kita baru sampai pada taraf
kognitif, tarap pemahaman. Betul saya tidak pernah mengubah pendirian saya
bahwa Allah itu dekat. Saya yakin betul. Tetapi kita belum merasakan
kedekatannya. Nah wali al-Muqarrabuun ini selalu dapat merasakan kedekatannya
kepada Allah, dalam seluruh waktunya dan dalam sepanjang hidupnya.
Ada lagi tingkatan yang lebih tinggi dari yang tadi Anda sebutkan?
Yang lebih tinggi lagi adalah tingkatan al-munfariduun. Pada level ini berarti
sang wali sudah mencapai tarap menyendiri bersama Tuhannya. Untuk dapat
memahami tingkatan ini mungkin kita perlu analogi. Misalnya ada yang hendak
bertamu kepada seseorang yang sudah dikenalnya. Kalau yang masih tergolong ‘am,
kedekatannya itu kan baru pada taraf minimal. Saya kenal seseorang, saya tahu
siapa namanya, saya tahu apa pekerjaannya, saya tahu bagaimana karakternya,
saya tahu di mana rumahnya. Baru sebatas ini. Kalau pada level berikutnya,
misalnya, o ya saya sudah sampai ke pekarangan rumahnya, bahkan saya sudah
dipersilahkan masuk. Tapi kalau pada tingkat al-muqarrabuun, o saya bukan saja
sudah dipersilahkan masuk, tapi saya sudah diajak ke ruang tengah. Saya sudah
diajak berbicara. Hanya saja saya belum bertemu langsung dengannya. Sebab dia
masih berada dibalik hijab. Nah, kalau tingkatan al-munfariduun, pemilik rumah
sudah menampakkan diri. Bukan sekedar dekat bersamanya, tapi sudah berduaan
dengannya.
Lalu apa puncak dari tingkatan kewalian itu?
Puncak dari tingkatan kewalian itu adalah khatmul walaayah. Ini juga yang
disebut kutubul-auliya, poros tertinggi dari kewalian. Kalau pada tingkatan ini
bukan sekedar berduaan. Kalau berduaan kan masih bisa dibedakan antara dirinya
dengan Tuhannya. Jadi masih ada pemisah, aku dan Dia, atau aku dan Engkau.
Sementara pada tingkatan ini antara hamba dan Tuhan itu sudah benar-benar
menyatu, tidak ada lagi pemisah.
Siapa saja yang berada pada puncak kewalian ini?
Kalau berbicara tentang person, lagi-lagi tidak ada kata sepakat. Tapi umumnya
ulama berpandangan bahwa pada setiap zaman itu ada wali kutubnya. Pengertian
zaman di sini kurang lebih satu abad lamanya. Pada masanya Syekh Abdul Qadir
Jaelani, beliau ini dipandang sebagai kutubul-auliya. Ada yang meniilai bahwa
pada zaman itu juga sebenarnya ada sufi yang lain. Jadi kalau sudah berbicara
pada person, bisa berbeda-beda. Ada yang berpandangan bahwa pada masa Ibnu
Arabi, beliaulah wali kutubnya. Pada masa Abu Hasan As-Sazili, beliaulah wali
kutubnya. Jadi kalau berbicara tentang konsep umumnya bisa sepakat. Tapi siapa
yang memenuhi kriteria-kriteria pada setiap tingkatannya itu, nah itu yang
tidak sepakat.
Derajat kewalian itu kan pada hakikatnya merupakan kualitas hubungan personal
antara hamba dengan Tuhannya. Lantas, mengapa kemudian ada identifikasi bahwa
si A itu adalah wali. Bagaimana kita dapat mengetahuinya?
Ya, betul, derajat kewalian itu menyangkut essensi keberagamaan yang bersifat
pribadi dan berdimensi batini. Karena itu ada kelompok ulama yang berpandangan
bahwa la ya’lamul-waliyya illal-waliyyu. Artinya, tidak ada yang dapat
mengetahui bahwa seseorang itu wali, kecuali seorang wali juga.
Gerbang Cinta Para
Wali
Ada cahaya yang memendar nun jauh
di sana. Tak habis-habisnya mata memandang penuh pesona. Indah dan menakjubkan,
hingga tiada sesaat pun melainkan sebuah klimaks dari puncak rasa kita,
terkadang seperti puncak gelombang Cinta, terkadang menghempas seperti
sauh-sauh kesadaran di hempas pantai, terkadang begitu jauh di luar batas
harapan, padahal ia lebih dekat dari sanubari kita sendiri.
Tiba-tiba cahaya itu ada di depan mata hati kita. Ternyata sebuah gerbang
keagungan yang dahsyat penuh kharisma. Gerbang itu seakan bicara: “Akulah
gerbang para kekasih Tuhan”. Sejengkal saja kaki kita melangkah, memasuki pintu
gerbang itu, seluruh kesadaran kita sirna dalam luapan gelombang cinta yang
digerakkan oleh kedahsyatan angin kerinduan. Kata pertama yang berbunyi di sana
adalah deretan puja dan puji:
“Segala puji bagi Allah yang telah meluapi lembah kalbu para wali-Nya dengan
luapan Cinta kepada-Nya. Dia yang membangunkan istana khusus agar luapan arwah
para kekasih-Nya itu, senantiasa menyaksikan keagungan-Nya. Dia pula yang
menghamparkan padang ma’rifatullah melalui rahasia-rahasia jiwanya. Lalu
kalbunya berada di sebuah taman surga. Taman itu penuh dengan lukisan-lukisan
ma’rifatullah yang tiada tara. Sedangkan arwah-arwah mereka berada di Taman
Malakut, tak sejenak pun arwah itu melainkan berada dalam keabadian penyucian
pada-Nya. Duh, rahasia arwahnya, mendendangkan tasbih dalam tarian Lautan
Jabarut-Nya.”
Lalu sebuah gerbang yang begitu agung dan indahnya, mengukirkan prasasti yang
ditulis oleh Qalam Ruhani. “Segala Puja bagi Allah, yang telah membuka gerbang
Cinta-Nya bagi para Kekasih-Nya. Lalu Dia mengurai rantai yang membelenggu
jiwanya, sehingga mereka teguh dalam keharusan khidmah pada-Nya, sedangkan
cahaya-cahaya-Nya melimpahi akal-akal mereka. Lalu tampak jelas,
keajaiban-keajaiban kekuasaan-Nya, sedangkan kalbu-kalbu mereka terjaga dari
haru biru tipudaya yang menumpah pada pesona-pesona cetak lahiriyah jagad
semesta, sampai akhirnya menggapai ma’rifat paripurna. Amboi, ruh-ruh mereka
tersingkapkan dari kemahasucian paripurna-Nya, dan sifat-sifat keagungan-Nya.
Merekalah penempuh jalan hadirat-Nya, dalam kenikmatan rahasia kedekatan
dengan-Nya, melalui tarekat dahsyat rindu dendam-Nya, hingga mereka
termanifestasi dalam hakikat, melalui penyaksian Ketunggalan-Nya. Mereka telah
diraih dari mereka, dan Dia menyirnakan mereka dari mereka, lalu mereka
ditenggelamkan dalam lautan Kemaha-Dia-an-Nya. Dia memisahkan pasukan-pasukan
terpencar dalam kesatuan kitab-Nya bagi para kekasih terpilih-Nya. Lalu mereka
terjaga oleh kerahasiaan jiwa melalui limpahan cahaya-cahaya, agar ia menjadi
obyek manifestasi, di samping ke-Tunggal-Dirian-Nya.”
Kalau saja kita ingin mengenal gerbang-gerbang Kekasih Allah itu, semata
bukanlah hasrat dan ambisi untuk menjadi Kekasih-Nya. Sebab, mengangkat derajat
seseorang menjadi Kekasih-Nya adalah Hak Allah, dan Allah sendiri yang memberi
Wilayah itu kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.
Sekadar berkah atas cahaya kewalian dari kekasih-kekasih-Nya itu, sesungguhnya
lebih dari cukup bagi kita. Sedangkan pengetahuan kita atas dunia kewalian yang
menjadi bagian dari misteri-misteri Ilahi, tidak lebih dari limpahan-limpahan
Ilahi, agar kita lebih yakin kepada-Nya atas keimanan kita selama ini.
Para Auliya Allah adalah Ahlullah. Mereka terpencar di muka bumi sebagai
“tanda-tanda” Ilahiyah, dengan jumlah tertentu, dan tugas-tugas tertentu. Di
antara mereka ada yang ditampakkan karamahnya, ada pula yang tidak ditampakkan
sama sekali. Oleh karena itu hamba-hamba Allah yang diberi kehebatan luar
biasa, tidak sama sekali disebut Waliyullah, dan belum tentu juga yang tidak
memiliki kelebihan sama sekali, tidak mendapat derajat Wali Allah. Para Auliya
adalah mereka yang senantiasa mencurahkan jiwanya untuk Ubudiyah kepada Allah,
dan menjauhkan jiwanya dari kemaksiatan kepada Allah.
Di masyarakat kita, seringkali terjebak oleh fenomena-fenomena metafisikal yang
begitu dahsyat yang muncul dari seseorang. Lalu masyarakat kita mengklaim bahwa
orang tersebut tergolong Waliyullah. Padahal kata seorang syekh sufi, “Jika
kalian melihat seseorang bisa terbang, bisa menembus batas geografis dengan
cepat, bahkan bisa menembus waktu yang berlalu dan yang akan datang, janganlah
Anda anggap itu seorang Wali Allah sepanjang ia tidak mengikuti Sunnah
Rasulullah SAW.“
Mengapa? Sebab ada ilmu-ilmu hikmah tertentu yang bisa dipelajari, agar
seseorang memiliki kehebatan tertentu di luar batas ruang dan waktu, dan
ironisnya ilmu demikian disebut sebagai Ilmu Karamah. Padahal karamah itu,
adalah limpahan anugerah Ilahi, bukan karena usaha-usaha tertentu dari hamba
Allah.
Karamah sendiri bukanlah syarat dari kewalian. Kalau saja muncul karamah pada
diri seorang wali, semata hanyalah sebagai petunjuk atas kebenaran ibadahnya,
kedudukan luhurnya, namun dengan syarat tetap berpijak pada perintah Nabi SAW.
Jika tidak demikian, maka karamah hanyalah kehinaan syetan. Karena itu di antara
orang-orang yang saleh ada yang mengetahui derajat kewaliannya, dan orang lain
tahu. Ada pula yang tidak mengetahui derajat kewaliannya sendiri, dan orang
lain pun tidak tahu. Bahkan ada orang lain yang tahu, tetapi dirinya sendiri
tidak tahu.
Tetapi di belahan ummat Islam lain juga ada yang menolak konsep kewalian.
Bahkan dengan mudah mengklaim yang disebut Auliya’ itu seakan-akan hanya
derajat biasa dari derajat keimanan seseorang. Tentu saja, kelompok ini sama
kelirunya dengan kelompok mereka yang menganggap seseorang, asal memiliki
kehebatan, lalu disebut sebagai Waliyullah, apalagi jika orang itu dari
kalangan kiai atau ulama.
Meluruskan pandangan Kewalian di khalayak ummat kita, memang sesuatu yang
rumit. Ada ganjalan-ganjalan primordial dan psikologis, bahkan juga ganjalan
intelektual.
Al-Quthub Abul Abbas al-Mursi, semoga Allah meridlainya, menegaskan dalam kitab
yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as-Sakandari,
“Waliyullah itu diliputi oleh ilmu dan ma’rifat-ma’rifat, sedangkan wilayah
hakikat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan
nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan izin Allah. Dan
harus dipahami, bagi siapa yang diizinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan,
pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara
isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
“Dasar utama perkara Wali itu,” kata Abul Abbas, “adalah merasa cukup bersama
Allah, menerima Ilmu-Nya, dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah
kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka
Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath-Thalaq: 3). “Bukankah Allah telah
mencukupi hambanya?” (QS. Az-Zumar: 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya
Allah itu Maha Tahu?” (QS. al-‘Alaq :14). “Apakah kamu tidak cukup dengan
Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu Menyaksikan segala sesuatu?” (QS.
Fushshilat: 53).
Syekh Agung Abdul Halim Mahmud dalam memberikan catatan khusus mengenai
Lathaiful Minan karya as-Sakandari mengupas panjang lebar mengenai Kewalian
ini. Hal demikian dilakukan karena, as-Sakandari menulis kitab itu memulai
tentang wacana Kewalian, karena memang, buku besar itu ingin mengupas tuntas
tentang biografi dua Waliyullah terbesar sepanjang zaman, yaitu Sulthanul
Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzili ra dan muridnya, Syekh Abul Abbas
al-Mursi.
Dalam sebuah ayat yang seringkali menjadi rujukan utama dunia Kewalian adalah:
“Ingatlah bahwa sesungguhnya para Wali-wali Allah itu tidak punya rasa takut
dan rasa gelisah. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertaqwa. Mereka
mendapatkan kegembiraan dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat.
Tidak ada perubahan bagi Kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah
kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)
Dalam salah satu hadits Qudsi yang sangat populer disebutkan, “Rasulullah SAW
bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang memusuhi Wali-Ku, maka
benar-benar Aku izinkan orang itu untuk diperangi. Dan tidaklah seorang
hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding apa yang
Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku itu senantiasa mendekatkan pada-Ku dengan
ibadah-ibadah Sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Maka bila Aku mencintainya,
Akulah pendengarannya di mana ia mendengar, dan menjadi matanya di mana ia
melihat, dan menjadi tangannya di mana ia memukul, dan menjadi kakinya di mana
ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Akupasti memberinya, jika ia memohon
perlindungan kepadaKu Aku pasti melindunginya.”
Karenanya al-Hakim at-Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad
pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul
Auliya’ (Tanda-tanda Kewalian), yang di antaranya berisi 156 pertanyaan
mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan
Tanda-tanda Kewalian itu. Beliau juga menulis kitab ‘Ilmul Auliya.
Ragam Para Wali
Para Syekh Sufi membagi macam para Wali dengan berbagai versi, termasuk derajat
masing-masing di hadapan Allah Ta’ala. Dalam kitab Al-Mafakhirul Aliyah fi
al-Ma’atsir asy-Syadzilyah disebutkan ketika membahas soal Wali Quthub. Syekh
Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta’ala menceritakan: “Saya sedang duduk
di hadapan guruku, lalu terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa
makna Quthub itu wahai tuanku?” Lalu beliau menjawab, “Quthub itu banyak.
Setiap muqaddam atau pemuka sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya.
Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-Jami’ itu hanya satu. Artinya bahwa
Wali Nuqaba’ itu jumlahnya 300. Mereka itu telah lepas dari rekadaya nafsu, dan
mereka memiliki 10 amaliyah: empat amaliyah bersifat lahiriyah, dan enam
amaliyah bersifat bathiniyah. Empat amaliyah lahiriyah itu antara lain:
1) Ibadah yang banyak, 2) Melakukan zuhud hakiki, 3) Menekan hasrat diri, 4) Mujahadah
dengan maksimal. Sedangkan lelaku batinnya: 1) Taubat, 2) Inabat, 3) Muhasabah,
4) Tafakkur, 5) Merakit dalam Allah, 6) Riyadlah. Di antara 300 Wali ini ada
imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.
Sedangkan Wali Nujaba’ jumlahnya 40 Wali. Ada yang mengatakan 70 Wali. Tugas
mereka adalah memikul beban-beban kesulitan manusia. Karena itu yang
diperjuangkan adalah hak orang lain (bukan dirinya sendiri). Mereka memiliki
delapan amaliyah: empat bersifat batiniyah, dan empat lagi bersifat lahiriyah:
Yang bersifat lahiriyah adalah 1) Futuwwah (peduli sepenuhnya pada hak orang
lain), 2) Tawadlu’, 3) Menjaga Adab (dengan Allah dan sesama) dan 4) Ibadah
secara maksimal. Sedangkan secara Batiniyah, 1) Sabar, 2) Ridla, 3) Syukur), 4)
Malu.
Adapun Wali Abdal berjumlah 7 orang. Mereka disebut sebagai kalangan paripurna,
istiqamah dan memelihara keseimbangan kehambaan. Mereka telah lepas dari
imajinasi dan khayalan, dan mereka memiliki delapan amaliyah lahir dan batin.
Yang bersifat lahiriyah: 1) Diam, 2) Terjaga dari tidur, 3) Lapar dan 4)
‘Uzlah. Dari masing-masing empat amaliyah lahiriyah ini juga terbagi menjadi
empat pula: Lahiriyah dan sekaligus Batiniyah:
Pertama, diam, secara lahiriyah diam dari bicara, kecuali hanya berdzikir
kepada Allah Ta’ala. Sedangkan Batinnya, adalah diam batinnya dari seluruh
rincian keragaman dan berita-berita batin. Kedua, terjaga dari tidur secara
lahiriyah, batinnya terjaga dari kealpaan dari dzikrullah. Ketiga, lapar,
terbagi dua. Laparnya kalangan Abrar, karena kesempurnaan penempuhan menuju
Allah, dan laparnya kalangan Muqarrabun karena penuh dengan hidangan anugerah
sukacita Ilahiyah (uns). Keempat, ‘uzlah, secara lahiriyah tidak berada di
tengah keramaian, secara batiniyah meninggalkan rasa suka cita bersama banyak
orang, karena suka cita hanya bersama Allah.
Amaliyah Batiniyah kalangan Abdal, juga ada empat prinsipal: 1) Tajrid (hanya
semata bersama Allah), 2) Tafrid (yang ada hanya Allah), 3) Al-Jam’u (berada
dalam Kesatuan Allah, 3) Tauhid.
Ragam lain dari para Wali ada yang disebut dengan Dua Imam (Imamani), yaitu dua
pribadi, salah satu ada di sisi kanan Quthub dan sisi lain ada di sisi kirinya.
Yang ada di sisi kanan senantiasa memandang alam Malakut (alam batin) -- dan
derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya yang di sisi kiri --, sedangkan yang
di sisi kiri senantiasa memandang ke alam jagad semesta (malak). Sosok di kanan
Quthub adalah Badal dari Quthub. Namun masing-masing memiliki empat amaliyah
Batin, dan empat amaliyah Lahir. Yang bersifat Lahiriyah adalah: Zuhud, Wara’,
Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Sedangkan yang bersifat Batiniyah: Kejujuran hati,
Ikhlas, Mememlihara Malu dan Muraqabah.
Wali lain disebut dengan al-Ghauts, yaitu seorang tokoh agung dan tuan mulia,
di mana seluruh ummat manusia sangat membutuhkan pertolongannya, terutama untuk
menjelaskan rahasia hakikat-hakikat Ilahiyah. Mereka juga memohon doa kepada
al-Ghauts, sebab al-Ghauts sangat diijabahi doanya. Jika ia bersumpah langsung
terjadi sumpahnya, seperti Uwais al-Qarni di zaman Rasul SAW. Dan seorang Qutub
tidak bisa disebut Quthub manakala tidak memiliki sifat dan predikat integral
dari para Wali.
Al-Umana’, juga ragam Wali adalah kalangan Malamatiyah, yaitu mereka yang
menyembunyikan dunia batinnya, dan tidak tampak sama sekali di dunia
lahiriyahnya. Biasanya kaum Umana’ memiliki pengikut Ahlul Futuwwah, yaitu
mereka yang sangat peduli pada kemanusiaan.
Al-Afraad, yaitu Wali yang sangat spesial, di luar pandangan dunia Quthub.
Para Quthub senantiasa bicara dengan Akal Akbar, dengan Ruh Cahaya-cahaya
(Ruhul Anwar), dengan Pena yang luhur (Al-Qalamul A’la), dengan Kesucian yang
sangat indah (Al-Qudsul Al-Abha), dengan Asma yang Agung (Ismul A’dzam), dengan
Kibritul Ahmar (ibarat Berlian Merah), dengan Yaqut yang mememancarkan cahaya
ruhani, dengan Asma’-asma, huruf-huruf dan lingkaran-lingkaran Asma huruf. Dia
bicara dengan cahaya matahati di atas rahasia terdalam di lubuk rahasianya. Ia
seorang yang alim dengan pengetahuan lahiriah dan batiniyah dengan kedalaman
makna yang dahsyat, baik dalam tafsir, hadits, fiqih, ushul, bahasa, hikmah dan
etika. Sebuah ilustrasi yang digambarkan pada Sulthanul Aulioya Syeikhul Quthub
Abul Hasan Asy-Syadzily – semoga Allah senantiasa meridhoi .
Wali Allah Menurut
Hakim At-Tirmidzi
Hakim at-Tirmidzi lahir di Tirmidz,
Uzbekistan, Asia Tengah pada tahun 205 H/820 M. Nama lengkapnya adalah Abu Abd
Allah Muhammad bin Ali bin Hasan al-Hakim at-Tirmidzi. Ia berasal dari keluarga
ilmuwan ahli fiqih
dan hadits. Memasuki puncak
ketasawufan setelah mengalami goncangan batin sebagaimana yang di kemudian hari
dialami al-Ghazali. Ia mendefinisikan Wali Allah adalah seorang yang demikian
kokoh di dalam peringkat kedekatannya kepada Allah (fi martabtih), memenuhi
persyaratan-persyaratan tertentu seperti bersikap shidq (jujur dan benar) dalam
perilakunya, sabar dalam ketaatan kepada Allah, menunaikan segala kewajiban, menjaga
hukum dan perundang-undangan (al-hudud) Allah, mempertahankan posisi (al-)
kedekatannya kepada Allah. Dalam keadaan ini, menurut at-Tirmidzi, seorang wali
mengalami kenaikan peringkat sehingga berada pada posisi yang demikian dekat
dengan Allah, kemudian ia berada di hadapan-Nya, dan menyibukkan diri dengan
Allah sehingga lupa dari segala sesuatu selain Allah.
Karena kedekatannya dengan Allah, seorang wali memperoleh ‘ishmah
(pemeliharaan) dan karamah (kemuliaan) dari Allah. menurutnya, ada tiga jenis ‘ishmah
dalam Islam. Pertama, ‘ishmah al-anbiya’ (ishmah para Nabi) merupakan sesuatu
yang wajib; baik berdasarkan argumentasi ‘aqliyyah seperti dikemukakan
Mu’tazilah maupun berdasarkan argumentasi sam‘iyyah. Kedua, ‘ishmah al-awliya’
(merupakan sesuatu yang mungkin); tidak ada keharusan untuk menetapkan ‘ishmah
bagi para wali dan tidak berdosa untuk menafikannya dari diri mereka, tidak
juga termasuk ke dalam keyakinan agama (‘aqa’id al-din); melainkan merupakan
karamah dari Allah kepada mereka. Allah melimpahkan ‘ishmah ke dalam hati siapa
saja yang dikehendaki-Nya di antara mereka. Ketiga, ‘ishmah al-‘ammah, ‘ishmah
secara umum , melalui jalan al-asbab, sebab-sebab tertentu yang menjadikan
seseorang terpelihara dari perbuatan maksiat.
‘Ishmah yang dimiliki para wali dan orang-orang beriman, menurut at-Tirmidzi,
bertingkat-tingkat. Bagi umumnya orang-orang yang beriman, ‘ishmah berarti
terpelihara dari kekufuran dan dari terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi
para wali ‘ishmah berarti terjaga (mahfuzh) dari kesalahan sesuai dengan
derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Masing-masing mereka mendapatkan ‘ishmah
sesuai dengan peringkat kewaliannya. Inti pengertian ‘ishmah al-awliya’
terletak pada makna al-hirasah (pengawasan), berupa cahaya ‘ishmah (anwar al-ishmah)
yang menyinari relung jiwa (hanaya al-nafs) dan berbagai gejala yang muncul
dari kedalaman al-nafs, tempat persembunyian al-nafs (makamin al-nafs),
sehingga al-nafs tidak menemukan jalan untuk mengambil bagian dalam aktivitas
seorang wali. Ia dalam keadaan suci dan tidak tercemari berbagai kotoran
al-nafs ( adnas al-nafs ).
Adapun yang dimaksud karamah al-awliya’ tiada lain, kemuliaan,
kehormatan,(al-ikram); penghargaan (al-taqdir); dan persahabatan (al-wala) yang
dimiliki para wali Allah berkat penghargaan, kecintaan dan pertolongan Allah
kepada mereka. Karamah al-awliya itu, dalam pandangan Hakim at-Tirmidzi,
merupakan salah satu ciri para wali secara lahiriah (‘alamat al-awliya’ fi
al-zhahir) yang juga dinamakannya al-ayat atau tanda-tanda.
Hakim at-Tirmidzi membagi karamat al-awliya ke dalam dua bagian. Pertama,
karamah yang bersifat ma‘nawi atau al-karamat al-ma‘nawiyyah. Karamah yang
pertama merupakan sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan secara
fisik-inderawi, seperti kemampuan seseorang unrtuk berjalan di atas air atau
berjalan di udara. Sedangkan karamah yang kedua merupakan ke-istiqamah-an
seorang hamba di dalam menjalin hubungan dengan Allah, baik secara lahiriah
maupun secara batiniah yang menyebabkan hijab tersingkap dari kalbunya hingga
ia mengenal kekasihnya, serta merasa ketentraman dengan Allah. At-Tirmidzi
memaparkan karamah yang kedua sebagai yang berikut:
Kemudian Tuhan memandang wali Allah dengan pandangan rahmat. Maka Tuhan pun
dari perbendaharaan rububiyyah menaburkan karamah yang bersifat khusus
kepadanya sehingga ia (wali Allah) itu berada pada maqam hakikat kehambaan
(al-haqiqah al-ubudiyyah). Kemudian Tuhan pun mendekatkan kepada-Nya,
memanggilnya, menghormati dan meninggikannya. Menyayanginya dan menyerunya. Maka
wali pun menghampiri Tuhan ketika ia mendengar seru-Nya. Mengokohkan
(posisi)-nya dan menguatkannya; memelihara dan menolongnya; sehingga ia
meresponi dan menyambut seruan-Nya. Dalam kesunyian ia memanggil-Nya. Setiap
saat ia munajat kepada-Nya. Ia pun memanggil kekasihnya. Ia tidak mengenal
Tuhan selain Allah.
Orang yang menolak karamah al-awliya’, menurut at-Tirmidzi, disebabkan mereka
tidak mengetahui persoalan ini kecuali kulitnya saja. Mereka tidak mengetahui
perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya orang tersebut mengetahui
hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah terhadap mereka; niscaya mereka tidak
akan menolaknya. Penolakan mereka terhadap karamah al-awliya’, menurut
at-Tirmidzi, disebabkan oleh kadar akses mereka terhadap Allah hanya sebatas
menegaskan-Nya; bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan kejujuran (al-shidq);
bersikap benar dalam mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi al-qurbah
(dekat dengan Allah). Sementara mereka buta terhadap karunia dan akses Allah
kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta (mahabbah)
dan kelembutan (ra’fah) Allah kepada para wali. Apabila mereka mendengar
sedikit tentang hal ini, mereka bingung dan menolaknya.
Adapun derajat kewalian, dalam pandangan al-Tirmidzi, dapat diraih dengan
terpadunya dua aspek penting, yakni karsa Allah kepada seorang hamba dan
kesungguhan pengabdian seorang kepada Allah. Aspek pertama merupakan wewenang
Allah secara mutlak; sedangkan aspek kedua merupakan perjuangan seorang hamba
dalam mendekatkan diri kepada Allah. Menurut at-Tirmidzi, ada dua jalur yang
biasa ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian. Jalur pertama
disebut thariqah al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah) sedangkan
jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam
beribadah). Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat kewalian di
hadapan Allah semata-mata karena karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja
yang dikendaki Allah di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui jalur kedua,
seorang sufi meraih derajat kewalian berkat keikhlasan dan kesungguhannya di
dalam beribadah kepada Allah. Seseorang yang meraih derajat kewalian melalui
jalur kedua disebut wali haqq Allah atau awliya’ huquq Allah dalam bentuk
jamak.
Menurut at-Tirmidzi derajat kewalian yang diraih melalui jalur kedua diperoleh
setelah seorang sufi bertaubat dari segala dosa dan bertekad bulat untuk
membuktikan sesungguhan taubatnya dengan konsisten di dalam menunaikan segala
yang diwajibkan; menjaga al-hudud (hukum dan perundang-undangan Allah) dan
mengurangi al-mubahat (hal-hal yang dibolehkan); kemudian memperhatikan aspek
batin dan menjaga kesuciannya dengan seksama.
Seorang sufi yang meraih derajat kewalian (al-walayah) melalui jalur kedua
desebut wali haqq Allah, karena sufi itu telah mencurahkan seluruh perhatian
dan usahanya untuk menjaga hak Allah. Perjuangan yang demikian berat ini telah
menambah kesucian hati sufi tersebut. Hatinya menjadi terformat sedemikian rupa
dengan sifat Allah al-Haqq sehingga al-Haqq menjadi salah satu sifatnya yang
mendominasi perasaannya yang terdalam (al-wujdan) dan membimbing seluruh
perilakunya. Tidaklah seorang sufi itu mengucapkan sesuatu kecuali melalui
Allah al-Haqq; tidaklah melakukan sesuatu kecuali menuju Allah al-Haqq; dan
tidaklah dia diam kecuali bersama Allah al-Haqq. Maka al-Haqq senantiasa
bersama-Nya dalam berbagai keadaan. Para wali yang memiliki kualifikasi ini
disebut juga al-awliya al-shadiqin.
Sementara itu, memperoleh derajat al-walayah melalui jalur pertama, thariqah
al-Minnah, terbagi kedalam dua proses. Pertama, anugerah kewalian itu diperoleh
dengan tanpa usaha sebelumnya. Melalui proses ini orang yang menerima anugerah
al-walayah merasakan adanya kekuatan yang menarik dirinya kepada kualitas
al-walayah tersebut. Para sufi yang meraih derajat kewalian melalui proses ini
disebut al-mujtabun (yang diangkat) atau al-mujzubun (yang ditarik). Kedua,
anugerah kewalian itu diperoleh karena ada prakondisi sebelumnya. Derajat
al-walayah yang diberikan melalui proses kedua ini mengandung pengertian bahwa
anugerah al-walayah itu diberikan oleh Allah kepada seseorang yang telah berada
di dalam maqam al-shidq, suatu kedudukan terhormat di hadapan Allah yang hanya
bisa ditempati oleh para sufi yang telah memiliki kualifikasi wali di antara
al-awliya al-shadiqin. Hal ini terjadi semata-mata karena kasih sayang Allah
kepadanya.
Derajat kewalian dan kenabian, menurut at-Tirmidzi, merupakan anugerah Allah.
Allah telah memilih di antara hamba-hamba-Nya menjadi al-anbiya (Nabi-Nabi) dan
awliya (para wali). Kemudian Allah melebihkan derajat sebagian al-anbiya atas
sebagian yang lain. Sebagaimana Allah melebihkan sebagian derajat al-awliya
atas sebagian yang lain. Kelebihan Nabi Muhammad SAW. atas para Nabi yang lain
adalah kedudukannya sebagai khatam al-nubuwwah yang merupakan hujjat Allah bagi
makhluk-Nya pada hari kiamat, karena tiada seorang pun di antara al-anbiya yang
mendapat kedudukan setinggi ini.
Hujjat Allah yang menjadi inti khatam al-nubuwwah tersebut tiada lain, qadam
shidq, yakni kesaksian Allah bahwa Nabi Muhammad SAW. memiliki shidq
al-‘ubudiyyah (kesungguhan dalam kehambaan). Dengan qadam shidq tersebut Nabi
Muhammad SAW. mendahului barisan para Nabi dan Rasul. Kemudian Allah
menyambutnya dan menempatkannya di dalam al-maqam al-mahmud pada al-kursi.
Dengan demikian para Nabi mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah orang yamg
paling mengenal Allah. Beliau diberi bendera pujian (liwa al-hamd) dan kunci
kemulian (mafatih al-karam). Oleh sebab itu, khatam al-anbiyyin, menurut
at-Tirmidzi, bukan karena Nabi Muhammad SAW. paling akhir diutus; melainkan
karena al-nubuwwah telah sempurna secara total pada diri Nabi Muhammad SAW.
sehingga dia menjadi jantung kenabian (qalb al-nubuwwah) karena
kesempurnaannya; kemudian al-nubuwwah ditutup (pada diri beliau).
Bertitik tolak dari pandangannya tentang al-anbiya dan al-awliya, at-Tirmidzi
memandang bahwa khatam al-awliya (pamungkas para wali) adalah al-wali
al-majdzub yang memegang kepemimpinan (al-imamah) atas para wali. Di tangannya
terdapat bendera kewalian (liwa al-walayah). Para wali seluruhnya membutuhkan
syafa’at dari padanya; sebagaimana para Nabi membutuhkan syafa’at dari Nabi
Muhammad SAW. Ia memperoleh bagian kenabian yang paling sempurna; sehingga ia
dekat dengan al-anbiya; bahkan hampir mendahuluinya; sebagaimana tergambar pada
hadits yang berikut:
Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah, ada orang yang bukan Nabi dan bukan
syuhada; namun, banyak Nabi dan syuhada yang ingin seperti mereka, karena
derajat mereka disisi Allah ‘Azza wa jalla.” Mereka bertanya, “Wahai
Rasulullah, siapakah mereka? Beliau bersabda: “Mereka adalah suatu kaum yang
saling mencintai dengan motivasi karena Allah; padahal bukan di antara kerabat
mereka, juga bukan karena harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah
mereka niscaya laksana cahaya, mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak
merasa sedih, ketika orang-orang bersedih. Kemudian beliau membacakan satu
ayat:
(Q.S. Yunus: 62).
Maqam-nya (dihadapan Allah) berada pada peringkat tertinggi para wali (fi a‘ala
manazil al-awliya). Ia adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. Maka sebagaimana Nabi
Muhammad SAW. menjadi hujjah bagi para Nabi; wali ini pun menjadi hujjah bagi
para wali (al-awliya). Kecuali itu, al-Hakim at-Tirmidzi menghubungkan konsep
khatam al-awliya dengan konsep manusia sempurna. Menurutnya, khatam al-awliya
ialah manusia yang telah mencapai ma‘rifah yang sempurna tentang Tuhan. Dengan
demikian, ia pun mendapatkan cahaya dari Tuhan, bahkan mendapatkan quwwah
ilahiyyah (daya Ilahi). Menurut at-Tirmidzi, ada empat puluh orang dari
kalangan umat Nabi Muhammad SAW. yang mendapat kedudukan sebagai wali, satu di
antara empat puluh itu disebut khatam al-awliya sebagaimana Nabi Muhammad SAW.
menjadi khatam al-anbiya.
Sementara itu, Abu Yazid al-Busthami (w.264H/877M.) memperkenalkan konsep
al-wali al-kamil (wali yang sempurna). Menurutnya, wali yang sempurna ialah
orang yang telah mencapai ma‘rifah yang sempurna tentang Tuhan, ia telah
terbakar oleh api Tuhannya. Ma‘rifah yang sempurna akan membawa seorang wali
fana’ dalam sifat-sifat ketuhanan. Wali yang fana’ dalam nama Allah, al-zhahir
(yang nyata), akan dapat menyaksikan qudrah Tuhan; wali yang fana’ dalam
nama-Nya, al-bathin (yang tersembunyi) akan dapat menyaksikan rahasia-rahasia
alam; wali yang fana’ dalam nama-Nya, al-akhir (yang akhir), akan menyaksikan
masa depan.
Kedudukan khatam al-awliya merupakan anugerah Allah. Allah memberikan al-khatm
(penutupan [kewalian]) kepadanya agar pada hari kiamat hati Nabi Muhammad SAW.
merasa tenteram. Para wali pun mengakui kelebihan wali ini atas mereka. Ia
muncul menjelang terjadinya kiamat dan menjadi hujjat Allah bagi seluruh
penganut paham monoteisme (al-muwahhidin) yang datang sesudahnya.
Pemikiran al-Hikam at-Tirmidzi tentang khatm al-walayah lebih jauh dikembangkan
oleh Ibnu Arabi. Menurut Ibnu Arabi, konsep al-khatm (penutupan) mengandung dua
pengertian. Pertama, al-khatm berarti Allah telah menutup kewalian secara umum
(al-walayah al-ammah). Kedua, al-khatm dalam pengertian Allah telah menutup
kewalian umat Nabi Muhammad SAW. (al-walayah al-muhammadiyah).
Khatm al-walayah dalam pengertian yang pertama berada pada diri Nabi Isa as.
Beliau adalah wali dengan kenabian mutlak (al-nubuwwah al-muthlaqah) yang
muncul pada zaman ummat (Nabi Muhammad) ini. Kewalian Nabi Isa terputus dari
nubuwwat al-tasyri’, yakni kenabian khusus dengan kewenangan menetapkan
syari’at agama dan kerasulannya. Nabi Isa turun di akhir zaman sebagai pewaris
(Nabi Muhammad SAW.). Dan khatam [al-walayah] (pamungkas kewalian). Tidak ada
wali sesudahnya dengan kenabian mutlak sekalipun, sebagaimana Nabi Muhammad
SAW. sebagai khatam al-nubuwwah (pamungkas kenabian) tidak ada Nabi sesudah
beliau dengan nubuwwat al-tasyri’. Sedangkan khatam al-walayah dalam pengertian
yang kedua berada pada diri seorang laki-laki bangsa Arab dari kalangan
orang-orang terhormat.
Pengetahuan tentang syari’at (al-ilm al-syari’i) – yang menjadi dasar nubuwwat
al-tasyri’ diwahyukan kepada seorang Rasul melalui malaikat. Sedangkan pengetahuan
batin (al-‘ilm al-bathini) yang dimiliki wali, baik dalam kapasitasnya sebagai
Rasul, Nabi, maupun wali saja; bersifat pancaran dari seorang khatam al-awliya.
Adapun khatam al-awliya mendapatkan secara menyeluruh dari sumber pancaran
ruhaniah (manba‘al-faydl al-ruhi); yakni ruh Muhammad atau al-haqiqah
al-Muhammadiyah.
Ibnu Arabi menghubungkan konsepsi khatam al-awliya dengan kemampuan menangkap
al-‘athaya (pemberian dan anugerah) Allah. Menurut Ibnu Arabi, ada dua jenis
al-‘athaya (pemberian) yakni yang bersifat dzatiyyah dan yang bersifat
asma’iyyah. Adapun al-‘athaya al-dzatiyyah tidak terjadi kecuali melalui
tajalli ilahi; sedangkan tajalli merupakan pengetahuan tertinggi tentang Tuhan.
Pengetahuan ini tidak diberikan kecuali kepada khatam al-rusul (pamungkas para
utusan) dan khatam al-awliya (pamungkas para wali).
Tiada seorang pun di antara al-anbiya dan al-rusul dapat mengalami tajalli
al-dzat kecuali melalui misykah, teropong, khatam al-rusul; dan tiada seorang
pun al-awliya mengalami tajalli al-dzat kecuali melalui misykah, teropong,
khatam al-awliya bahkan al-anbiya dan al-rusul pun tidak dapat mengalami
tajalli al-dzat kecuali melalui misykat al-khatam al-awliya’; meskipun khatam
al-awliya merupakan pengikut khatam al-rusul dalam syari’at yang dibawanya.
Dalam pandangan Ibnu Arabi, khatam al-anbiya mempunyai kedudukan yang sebanding
dengan khatam al-awliya. Menurutnya setiap Nabi sejak zaman Nabi Adam hingga
Nabi terakhir; tiada seorang pun di antara mereka, kecuali mengambil dari
misykat (teropong) khatam al-nabiyyin; meskipun khatam al-nabiyyin tersebut
secara historis muncul terakhir. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad
SAW.: Aku sudah menjadi Nabi; sedangkan Adam di antara air dan tanah. Sedangkan
para Nabi selain Nabi Muhammad SAW. menjadi Nabi setelah mereka diutus (ke
dunia).
emikian juga khatam al-awliya telah menjadi wali, ketika Adam masih berada di
antara air dan tanah; sedangkan para wali yang lain menjadi wali setelah mereka
memperoleh syarat-syarat kewalian (al-walayah), yakni setelah diri mereka
tersifati oleh al-akhlaq al-ilahiyyah atau akhlak Tuhan, terutama berkenaan
dengan pernyataan Allah sendiri yang menyebut diri-Nya al-wali al-hamid (Wali
yang Maha Terpuji).
Hierarki Kewalian
Syaikhul Akbar Ibnu Araby dalam
kitab Futuhatul Makkiyah membuat klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya.
Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya
terdapat 9 tingkatan, secara
garis besar dapat diringkas sebagai
berikut :
- Wali
Aqthab atau Wali Quthub
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam
semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka
Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
- Wali
Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat.
Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi,
bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik,
bertugas menyaksikan alam malaikat.
- Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang
masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. Kadang
dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Haiyi, Abdul
Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid.
- Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu
tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh
orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah
dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul
baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa
al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu
Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan
bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar,
tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.
- Wali
Nuqoba’
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka
tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari
terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat
bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak
orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.
- Wali
Nujaba’
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.
- Wali
Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang
membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi
Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair bin Awam. Allah menganugerahkan
kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam
beribadah.
- Wali
Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab.
Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara
mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang.
Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit
langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak.
Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore
hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari
ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.
Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap
berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah
3 hari baru bisa berbicara.
Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun.
Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka
akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.
- Wali
Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali
Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi
Muhammd,saw.
Biografi Dzunnun
Al-Misry
Page 1 of 2
Sang Sufi Agung
Sufi agung yang memberikan kontribusi besar
terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam
antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama
lengkap al-Imam al-A’rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim, dan
terkenal dengan Dzunnun al-Misry. Kendati demikian besar nama yang disandangnya
namun tidak ada catatan sejarah tentang kapan kelahirannya.
Perjalanan Menuju Mesir
Waliyullah yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay
(satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di
propinsi Suhaj). Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya.
Sebagaimana lazimnya para sufi, ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama
Allah mencari jati diri, menggapai cinta dan ma’rifatulah yang hakiki.
Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih
Allah ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian
dan siulan khas acara pesta. Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya
pada orang di sampingnya: “ada apa ini?.” Orang tersebut menjawab: “Itu sebuah
pesta perkawinan. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian
yang diiringi musik.“ Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti
ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka. “Fenomena apa lagi ini?”
begitu pikir sang wali. Ia pun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang
tersebut menjawab: “Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota
keluarganya meningal. Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan
telinga.“ Di sana ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di
sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu:
“Ya Allah aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal
di sini. Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka
diberi cobaan tapi tidak bersabar.“ Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan
kota itu menuju ke Mesir (sekarang Kairo).
Perjalanan ke Dunia Tasawuf
Banyak cara kalau Allah berkehendak menjadikan hambanya menjadi kekasihnya.
Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan.
Kadang melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang
terjadi pada Dzunnun al-Misri. Bukan wali yang mengajaknya ke dunia tasawuf.
Bukan pula seorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam hakikat. Tapi seekor
burung lemah tiada daya.
Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah
bercerita bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya “Wahai Abu
al-Faidl!” begitu ia memanggil demi menghormatinya. “Apa yang menyebabkan Tuan
bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah Swt?“ “Sesuatu yang
menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu.” Begitu jawab al-Misri seperti
sedang berteka-teki. Al-Maghriby semakin penasaran “Demi Dzat yang engkau sembah,
ceritakan padaku.” lalu Dzunnun berkata: “Suatu ketika aku hendak keluar dari
Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku
membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari
sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah
dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari
sebutir biji. Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua
mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkuk berisi
biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan
dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk
bertekad: “Cukup… aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah
Swt. Akupun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha
Asih berkenan menerimaku”.
Perjalanan Ruhaniah
Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya
harta. Ketika politisi tak jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufipun
selalu haus dengan kedekatan lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada
kenyamanan yang berbeda. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama.
Maka demikianlah, Dzunnun al-Misri tidak puas
dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya
adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para wali, hardikan pendosa,
jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah.
Suatu malam, tatkala Dzunnun bersiap-siap menuju
tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya
baru saja mengarungi samudera kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan. Dalam
senyap laki-laki itu berdoa “Ya Allah Engkau mengetahui bahwa aku tahu
ber-istighfar dari dosa tapi tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku
telah meninggalkan istighfar, sementara aku tahu kelapangan rahmatmu. Tuhanku…
Engkaulah yang memberi keistimewaan pada hamba-hamba pilihan-Mu dengan kesucian
ikhlas. Engkaulah Zat yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya’ dari
datangnya kebimbangan. Engkaulah yang menentramkan para wali, Engkau berikan
kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal. Engkau jaga
mereka dalam pembaringan mereka, Engkau mengetahui rahasia hati mereka.
Rahasiaku telah terkuak di hadapan-Mu. Aku di hadapan-Mu adalah orang lara
tiada asa.“ Dengan khusyu’ Dzunnun menyimak kata demi kata rintihan orang
tersebut. Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik
ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama
sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di
hati sang wali ini.
Di saat yang lain ia bercerita pernah mendengar
seorang ahli hikmah di lereng gunung Muqottom. “Aku harus menemuinya.“, begitu
ia bertekad kemudian. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan iapun
bisa menemukan kediaman lelaki misterius. Selama 40 hari mereka bersama,
merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualitas dan saling
tukar pengetahuan. Suatu ketika Dzunnun bertanya: “Apakah keselamatan itu?”
Orang tersebut menjawab “Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Muroqobah
(mengevaluasi diri)” “Selain itu?”, pinta Dzunnun seperti kurang puas.
“Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!” “Selain
itu?”, pinta Dzunnun lagi. “Ketahuilah Allah mempunyai hamba-hamba yang
mencintai-Nya. Maka Allah memberikan segelas minuman kecintaan. Mereka itu
adalah orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika
sedang haus”. Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun al-Misri dalam
kedahagaan yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi.
Kealiman Dzunnun al-Misri
Betapa indahnya ketika ilmu berhiaskan tasawuf.
Betapa mahalnya ketika tasawuf berlandaskan ilmu. Dan betapa agungnya Dzunnun
al-Misri yang dalam dirinya tertata apik kedalaman ilmu dan keindahan tasawuf.
Nalar siapa yang mampu membanyah hujjahnya. Hati mana yang mampu berpaling dari
untaian mutiara hikmahnya. Dialah orang Mesir pertama yang berbicara tentang
urutan-urutan al-Ahwal dan al-Maqomaat para wali Allah.
Maslamah bin Qasim mengatakan “Dzunnun adalah
seorang yang alim, zuhud wara’, mampu memberikan fatwa dalam berbagai disiplin
ilmu. Beliau termasuk perawi Hadits“. Hal senada diungkapkan Al-Hafidz Abu
Nu’aim dalam Hilyah-nya dan al-Dzahabi dalam Tarikh-nya bahwasannya Dzunnun
telah meriwayatkan hadits dari Imam Malik, Imam Laits, Ibn Luha’iah, Fudail ibn
Iyadl, Ibn Uyainah, Muslim al-Khowwas dan lain-lain. Adapun orang yang
meriwayatkan hadis dari beliau adalah al-Hasan bin Mus’ab al-Nakha’i, Ahmad bin
Sobah al-Fayyumy, al-Tho’i dan lain-lain. Imam Abu Abdurrahman al-Sulamy
menyebutkan dalam Tobaqoh-nya bahwa Dzunnun telah meriwayatkan hadis Nabi dari
Ibn Umar yang berbunyi “Dunia adalah penjara orang mu’min dan surga bagi orang
kafir.”
Di samping lihai dalam ilmu-ilmu Syara’, sufi Mesir
ini terkenal dengan ilmu lain yang tidak digoreskan dalam lembaran kertas, dan
datangnya tanpa sebab. Ilmu itu adalah ilmu Ladunni yang oleh Allah hanya
khusus diberikan pada kekasih-kekasih-Nya saja.
Karena demikian tinggi dan luasnya ilmu sang wali
ini, suatu ketika ia memaparkan suatu masalah pada orang di sekitarnya dengan
bahasa Isyarat dan Ahwal yang menawan. Seketika itu para ahli ilmu fiqih dan
ilmu ‘dhahir’ timbul rasa iri dan dan tidak senang karena Dzunnun telah berani
masuk dalam wilayah (ilmu fiqih) mereka. Lebih-lebih ternyata Dzunnun mempunyai
kelebihan ilmu Robbany yang tidak mereka punyai. Tanpa pikir panjang mereka
mengadukannya pada Khalifah al-Mutawakkil di Baghdad dengan tuduhan sebagai
orang Zindiq yang memporak-porandakan syari’at. Dengan tangan dirantai sufi
besar ini dipanggil oleh Khalifah bersama murid-muridnya. “Benarkah engkau ini
zahidnya negeri Mesir?” Tanya khalifah kemudian. “Begitulah mereka mengatakan”.
Salah satu pegawai raja menyela: “Amir al-Mu’minin senang mendengarkan
perkataan orang yang zuhud, kalau engkau memang zuhud ayo bicaralah.”
Dzunnun menundukkan muka sebentar lalu berkata
“Wahai amiirul mukminin…. Sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yang menyembahnya
dengan cara yang rahasia, tulus hanya karena-Nya. Kemudian Allah memuliakan
mereka dengan balasan rasa syukur yang tulus pula. Mereka adalah orang-orang
yang buku catatan amal baiknya kosong tanpa diisi oleh malaikat. Ketika buku
tadi sampai ke hadirat Allah Swt, Allah akan mengisinya dengan rahasia yang
diberikan langsung pada mereka. Badan mereka adalah duniawi, tapi hati adalah
samawi…….”.
Dzunnun meneruskan mauidzoh-nya sementara air mata
Khalifah terus mengalir. Setelah selesai berceramah, hati Khalifah telah
terpenuhi oleh rasa hormat yang mendalam terhadap Dzunnun. Dengan wibawa
khalifah berkata pada orang-orang datang menghadiri mahkamah ini: “Kalau mereka
ini orang-orang Zindiq maka tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini”.
Sejak saat itu Khalifah al-Mutawaakil ketika disebutkan padanya orang yang
Wara’ maka dia akan menangis dan berkata “Ketika disebut orang yang Wara’ maka
marilah kita menyebut Dzunnun”.
Biografi Dzunnun
Al-Misry - Page 2
Page 2 of 2
Pujian Para Ulama’ Terhadap Dzunnun
Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun
al-Misri menjadi lebih terpuji.Sebab apa yang dia harapkan dari pujian makhluk
sendiri ketika Yang Maha Sempurna sudah memujinya. Apa artinya sanjungan
berjuta manusia dibanding belaian kasih Yang Maha Penyayang? Dan hanya dengan
harapan semoga semua menjadi hikmah dan manfaat bagi semua paparan berikut ini
hadir.
Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan
“Dzunnun adalah orang yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada
bandingannya. Ia sempurna dalam Wara’, Haal, dan adab”. Tak kurang Abu Abdillah
Ahmad bin Yahya al-Jalak mengatakan “Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak
menemukan seperti keempat orang ini: Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan
Abu Abid al-Basry”. Seperti berlomba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh
Muhiddin ibn Araby Sulton al-Arifin dalam hal ini mengatakan “Dzunnun telah
menjadi Imam, bahkan Imam kita.”
Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya
diungkapkan dengan kata-kata. Imam al-Munawi dalam Tobaqoh-nya bercerita :
“Sahl al-Tustari (salah satu Imam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun
tidak duduk maupun berdiri bersandar pada mihrab. Ia juga seperti tidak berani
berbicara. Suatu ketika ia menangis, bersandar dan bicara tentang makna-makna
yang tinggi dan Isyarat yang menakjubkan. Ketika ditanya tentang ini, ia
menjawab “Dulu waktu Dzunnun al-Misri masih hidup, aku tidak berani berbicara
tidak berani bersandar pada mihrab karena menghormati beliau. Sekarang beliau
telah wafat, dan seseorang berkata padaku padaku : berbicaralah!! Engkau telah
diberi izin”.
Cinta dan Ma’rifat
Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang : “Dengan
apa Tuan mengetahui Tuhan?” “Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku.“, jawab
Dzunnun. “Kalau tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku.” Lebih jauh
tentang ma’rifat ia memaparkan: “Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang
paling bingung tentang-Nya.” “Ma’rifat bisa didapat dengan tiga cara: dengan
melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat
keputusan-keputusan-Nya, bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan
merenungkan makhluq, bagaimana Allah menjadikannya”.
Tentang cinta ia berkata: “Katakan pada orang yang
memperlihatkan kecintaannya pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan
sampai merendah pada selain Allah! Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah
adalah dia tidak punya kebutuhan pada selain Allah.” “Salah satu tanda orang
yang cinta pada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad Saw dalam
akhlak, perbuatan, perintah dan sunnah-sunnahnya.” “Pangkal dari jalan (Islam)
ini ada pada empat perkara: “cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana,
mengikuti pada Alquran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam
kesesatan)”.
Karomah Dzunnun al-Misri
Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami’ al-karamaat“
mengatakan: “Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika aku
menghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas
dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku
“engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam
keadaan bergembira.” Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan
izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai kota
Balkh (kota di Iran).
Suatu hari Abu Ja’far ada di samping Dzunnun. Lalu
mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun
mengatakan “Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur
ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya.”
Maka ranjang itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya.
Imam Abdul Wahhab al-Sya’roni mengatakan: “Suatu
hari ada perempuan yang datang pada Dzunnun lalu berkata “Anakku telah dimangsa
buaya.” Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang
ke sungai Nil sambil berkata “Ya Allah… keluarkan buaya itu.” Lalu keluarlah
buaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam
keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata
“Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu.
Sekarang aku bertaubat kepada Allah Swt.”
Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup
waliyullah, sufi besar Dzun Nun al-Misry yang wafat pada tahun 245 H. semoga
Allah me-ridlai-nya.
Sumber : www.al-hasani.com
& kitab klasik.