Kamis, 19 Desember 2013

MAHKOTA BLAMBANGAN

MAHKOTA BLAMBANGAN
Episode Pertama
SABDA BRAHMANA
@ Mas Sirno, 2007






Seorang pemuda dengan wajah kusut tampak terburu-buru langkahnya berjalan menyusuri pematang sawah yang baru saja ditenggala. Kakinya belepotan lumpur, rambutnya panjang terjurai dibiarkan awut-awutan. Sebentar-sebentar ia menoleh ke belakang seakan ingin memastikan dirinya aman dari kejaran para prajurit Mataram.  Anak muda itu sebenarnya badannya cukup tegap, langkah kakinya juga gesit, tetapi saat itu terlihat agak gontai, mungkin  kelelahan dari sebuah perjalanan jauh. Mungkin juga perutnya belum terisi makanan. Keringatnya membasahi sekujur tubuh dan dahinya mengucur deras, sepertinya tidak dihiraukan lagi.  Langkah kaki itu tampak dipercepat,  ketika melihat ada seseorang  tua yang berjalan di ujung pematang sawah.  Pemuda itu agak setengah berteriak:

_ Tunggu, Ki!– (teriak pemuda itu sambil setengah berlari mendekati seorang petani tua yang dipanggilnya). Mendengar panggilan itu, seketika orang tua itu menghentikan langkahnya seraya menoleh ke belakang. Cangkul di pundaknya segera diturunkan perlahan.  Sambil berdiri tertegun, pandangannya  tertuju pada anak muda yang kini langkah kakinya  kian mendekat. Dengus napas anak muda itu terdengar terengah-engah ketika berhenti di dekat orang tua yang disapanya,  dadanya tampak bergerak turun-naik,  kemudian bertanya dengan suara agak gugup:

_ Maaf, Ki!  Apa aki tahu, arah menuju ke desa Panawijen ? _  (tanya anak muda itu dengan nada suara terputus-putus). Petani tua itu masih saja berdiri mematung sambil tidak henti-hentinya  mengamati anak muda itu mulai dari rambut sampai ujung kakinya. Melihat keraguan di wajah orang tua itu, anak muda itu lebih mendekat.  Orang tua itu merasakan desahan napas anak muda itu menerpa wajahnya. Setelah beberapa lama menatap, pikirannya berkata:

         “Anak muda ini kelihatannya  bukan berasal dari sekitar desa ini, dari pertanyaannya sudah dapat ditebak bahwa  ia  belum mengenal daerah di sekitar sini dengan baik, siapa sebenarnya anak muda ini ?”
         
  Petani tua itu kemudian bertanya:

  _Kisanak ini siapa? – (tanya orang tua yang berdiri termangu itu setengah tertahan).

   _ Saya ini dari perjalanan jauh, ingin pergi ke pedepokan  Panawijen. Ternyata aku tersesat di desa yang belum kukenal ini, Ki._  (jawab pemuda  itu berbohong tetapi nada suaranya berusaha ditenang-tenangkan setelah beberapa saat  mengatur napasnya).

 _Panawijen masih jauh dari desa ini. Kira-kira masih hampir satu hari perjalanan berkuda. _  (sahut orang tua itu dengan suara pelan).

 _Kalau begitu terima kasih, Ki._ (kata pemuda itu singkat diiringi anggukan kepala seraya bergegas melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu).  Melihat anak muda itu beranjak pergi, orang tua itu hatinya mulai terusik, dipandanginya langkah demi langkahnya yang kelihatan gontai itu dengan perasaan  iba. Dalam hati kecilnya terbersit keinginan untuk menahannya. Beberapa saat hatinya berkecamuk antara keinginan menahannya dan membiarkannya pergi, sementara hatinya masih saja berkecamuk:

Hari sudah senja begini anak muda  ini akan melanjutkan perjalanan cukup jauh seorang diri hanya berjalan kaki tanpa berkuda, kelihatannya ia tidak membawa bekal selayaknya seorang pengembara. Perkiraanku ia pasti akan bermalam di hutan. Kalau kulihat dari sorot matanya tersirat secercah kejujuran tetapi dari guratan-guratan di wajahnya menunjukkan kehidupannya banyak diwarnai kekerasan”.

Pandangannya masih saja menatap anak muda yang berjalan kian menjauh,  tanpa sadar ada semacam getaran halus merayap seluruh tubuhnya. Seketika ingatannya menerawang: “selama ini aku belum pernah memiliki anak, kalau aku mempunyai anak mungkin sudah seumur dengannya, mengapa aku membiarkannya pergi? Kelihatannya ia butuh pertolongan walau tidak mengutarakan.  Bukankah aku dapat mengajaknya menginap di gubukku? Setidaknya aku dan isteriku dapat merasakan sedikit kegembiraan di tengah kehampaan tidak memiliki anak selama ini. Apalagi kalau anak muda itu mau kuanggap sebagai anak angkat, betapa senangnya.  Ya .......... aku lebih baik mencobanya. Siapa tahu anak muda itu mau menuruti ajakanku”.
 Seketika orang tua itu terhentak  ketika sosok anak muda itu tidak tampak lagi di balik rerimbunan semak.  Orang tua itu celingukan mencari sementara hasrat hatinya semakin memuncak tidak tertahankan. Akhirnya orang tua itu memanggil-manggil setengah berteriak berkata:

_ Berhentilah, Nak !

Mendengar teriakan, anak muda itu menghentikan langkahnya, sebentar berdiri termangu. Perlahan kembali berjalan berbalik arah, ketika muncul dari balik semak-semak  ia berkata:

_ Ada apa, Ki._ (kata anak muda sambil menatap orang tua yang berbadan kurus itu dari jarak beberapa puluh langkah)

        _ Apa kisanak bermaksud melanjutkan perjalanan ? _  (tanya aki tua sambil berjalan mendekati anak muda itu).

        _ Iya...ki, ada apa ?_  (kata anak muda itu singkat sambil sedikit mengangguk).

          _ Tidak baik melanjutkan perjalanan di waktu candikala seperti saat ini. Kalau  kisanak tidak keberatan, singgahlah bermalam di pondokku barang semalam. Aku melihat kisanak sangat lelah, tentu butuh istirahat untuk menghilangkan kepenatan,  besok pagi kisanak  dapat kembali meneruskan perjalanan ._   (kata petani tua itu dengan nada mengajak).

Anak muda  itu masih terlihat berdiri mematung,  sepertinya  sedang berpikir, dalam hatinya berkata:

“Kalau aku bermalam di desa ini, apa keberadaanku tidak akan tercium prajurit Daha yang mengejarku.  Ada kemungkinan sebelum kedatanganku, prajurit-prajurit itu  telah mengobrak-abrik desa ini hanya untuk mencari buronan sepertiku. Tetapi kalau aku meneruskan perjalanan juga belum tentu aman karena kemungkinan seluruh tapal batas desa sudah dijaga ketat oleh prajurit dan jagabaya desa.  Bermalam di hutan kukira lebih aman daripada menginap di dusun, tetapi kuakui keadaanku saat ini benar-benar lelah dan lapar. Aku butuh makanan dan istirahat setelah beberapa hari terakhir ini dikejar-kejar prajurit Daha”. 

Beberapa saat anak muda itu baru tersadar dari lamunannya ketika orang tua itu mendesak bertanya:

_  Bagaimana, Nak ?_

_ Maaf ki, sebenarnya aku lebih suka bermalam di hutan._ (kata anak muda dengan nada suara lemah).

_ Ah...........itu tidak baik, nak!_ (sahut orang tua itu dengan nada menasehati).

_ Tetapi apakah tidak merepotkan?_  (jawab anak muda itu berbasa-basi sambil pandangan matanya seakan menjajagi hati orang tua yang tampak polos itu).

_ Oh tidak, hidup di desa ini orang sudah terbiasa saling tolong menolong sesama, tanpa melihat apakah yang ditolong itu sudah dikenal sebelumnya atau tidak dikenal seperti kisanak ini.  Mari nak  ikut aki pulang, hari sudah semakin gelap !_

            Anak muda  itu hanya bisa mengangguk seakan tidak kuasa menolak ajakannya, kata-kata yang meluncur dari bibir orang tua itu dirasakan seperti mengandung kekuatan gaib yang menyihir dirinya, tanpa dirasa  langkah kaki anak muda itu diayunkan mengikuti langkah orang tua yang sedang menyusuri jengkal demi jengkal jalan setapak di pinggir sawah itu.  Kadang-kadang pandangannya masih  menoleh ke arah belakang sepertinya ingin memastikan dirinya aman dari kejaran prajurit Kediri.

        _ Apa rumah Aki masih jauh dari sini ?_ (tanya  anak muda itu ketika kakinya terasa semakin berat melangkah).

_ Ah ..tidak,  sebentar lagi akan sampai._  (jawab petani tua sambil melirik). Setelah beberapa saat berjalan, tangannya meraih caping anyaman bambu yang bertengger di kepalanya yang sudah dipenuhi uban itu,  kemudian berkata:

_ Itu pondokku sudah kelihatan, Nak !_ ( kata orang tua itu sambil tangannya menunjuk ke arah sebuah pondok bambu beratap ilalang yang terletak di pinggiran hutan)._

   Pandangan anak muda itu tertuju ke arah  pondok itu. Keadaannya  sangat sederhana, dibanding layaknya rumah di kutaraja Dahanapura tetapi tampak bersih, tertata rapi dan asri. Beberapa pohon, kamalasana dan mahoni tumbuh di halaman depan dan samping, sebagian dahannya menaungi atap serambi.   Sementara di sekitar regol depan tampak bunga-bunga soka merah dan kuning tumbuh berjajar rapi,  aromanya wangi semerbak mengambar halus seperti sedang menyambut kedatangan anak muda itu. Sejenak ia menatap bunga-bunga itu, tanpa terasa ada getaran halus menggugah pesona keindahan dalam lubuk hatinya yang terasa gersang selama ini.  Aki tua itu tampak bergegas menuju kandang yang terletak di belakang pondok, cangkul dipundaknya diturunkan, perlahan diletakkan di salah satu sudut kandang,  langkahnya segera  ke pakiwan. Dinyalakannya obor di depan bilik penyekatnya. Nyala apinya bergerak-gerak tertiup angin tetapi cukup menerangi sekitarnya yang sudah mulai tampak gelap.  Sesaat kemudian terdengar suara gemericik air mengalir dari batang bambu,  bilik penyekatnya terbuat dari kepang hampir sebahu tingginya. Beberapa saat  anak muda itu tampak berdiri termangu mematung di halaman pondok sambil  pandangan matanya mengamati keadaan sekelilingnya.  Dalam hatinya  berkata diiringi desahan napas:

  Desa ini tampak sepi sekali, jarak pondok  ini dengan lainnya cukup jauh, kukira cukup aman untuk disinggahi, karena saat ini aku  tidak mungkin lagi meneruskan perjalanan, apalagi  kembali ke desa Pangkur, Karuman atau ke Padhang Karautan. Pasti prajurit Daha keparat itu telah memasang perangkap untuk menjebakku.  Aku sebenarnya cemas tentang keadaan orang tua angkatku  Bango Samparan dan orangtuaku Kedhawung  akan mengalami perlakuan kasar dari prajurit bangsat itu, kasihan mereka”.
   Ketika itu keremangan senja berangsur sirna semetara kegelapan mulai merayap perlahan. Kelelawarpun mulai tampak keluar dari persembunyiannya. Gerakan sayapnya lincah berjumpalitan di udara seakan sedang memamerkan kemahirannya menangkap mangsa. Diamatinya gerakan terbang binatang itu, seketika anak muda itu terkesiap sepertinya terkejut. Dalam hatinya berkata:

   ­_ Hem .......tidak kusangka kelelawar yang biasa kujumpai setiap senja itu kali ini seakan memberi isyarat padaku, sepertinya binatang itu dapat mengerti keadaanku sebagai seorang buron. Binatang itu seperti mengatakan sesuatu padaku:

   mengembaralah bebas sepertiku, niscaya kau tidak akan tertangkap, karena raung gerakmu leluasa. Janganlah kau berdiam di satu tempat terlalu lama, ruang gerakmu akan menjadi sempit sebatas besar tubuhmu”.

    _ Hem....benar juga, aku harus senantiasa bergerak bebas seperti yang dilakukannya, tentu tidak seorangpun dapat menjebakku karena sulit menduga ke mana arah pelarianku. Orang buronan sepertiku ini hanya bisa diperdaya ketika berdiam di tempat persembunyiannya, cepat atau lambat keberadaanku pasti akan terendus oleh teliksandi musuh._ (guman Senepo dalam hati).
  
_ Silahkan bersihkan badan dulu, Nak ! (kata aki tua sambil berjalan  keluar  dari bilik pakiwan).

   Anak muda itu setengah kaget seketika  tersadar dari lamunannya, setelah mengatur napas beberapa saat,  kakinya bergegas melangkah menuju ke pakiwan. Sementara bulan sabit terlihat menggurat langit biru di ujung mega-mega merah yang tipis maya-maya. Tidak lama anak muda itu berjalan keluar dari pakiwan, sementara  dilihatnya orang tua itu terlihat sedang duduk berjongkok di kandang, kedua tangannya menggoreskan  batu pematik untuk menyalakan bediang perapian dari tumpukan jerami padi bercampur kotoran lembu dan kuda yang telah kering. Tidak berselang lama asap putih tebal kekuning-kuningan itu terburai dari onggokannya, kepulannya bergulung-gulung menebarkan bau khas seperti yang sering dijumpai di desa orang tuanya di kala senja tiba. Aki tua itu kini duduk di atas  dipan bambu, sementara anak muda itu berjalan mendekatinya, perlahan duduk di sampingnya.  Temaram sorot sinar  lampu minyak yang nyala apinya bergerak-gerak tertiup angin itu menerpa wajah anak muda yang kini tampak lebih segar, pandangan matanya menatap sekilas wajah anak muda yang duduk di sisinya sambil dalam hatinya bertanya:

“Anak muda ini sebenarnya gagah dan  cukup tampan, perawakannya tidak begitu tinggi, berbadan kekar, kulitnya kuning, roman mukanya terang bersinar seakan memancarkan prebawa gaib, sorot matanya tajam berkilat setajam mata elang mengincar mangsa.  Aku yang tua ini dapat  merasakan ada getaran halus terpancar dari tubuhnya, anak ini berbeda dengan anak muda sebayanya di desa ini. Siapa sebenarnya ?  Mengapa sampai tersesat jalan sampai di desa ini”.

  Orang tua itu masih saja diam membiarkan lamunannya berkejar-kejaran memenuhi benaknya. Sesaat kemudian  ia tersadar dan bertanya: 

        _ Siapa namamu, Nak ? _ (tanya aki petani tua itu dengan lembut)

Anak muda itu seketika terkejut mendengar pertanyaan itu, sejenak terdiam memikirkan jawaban yang tepat. Pikirannya berkecamuk di antara keinginannya berterus terang atau merahasiakan jati dirinya sebenarnya.  Pemuda itu  berkata dalam hati:

  Aku harus hati-hati dengan setiap orang termasuk dengan aki tua ini,  karena aku belum mengenalnya dengan baik. Jangan-jangan akan mendapatkan kesulitan jika aku membeberkan jati diriku. Bagaimanapun baiknya aki tua ini padaku tetapi ia tetap orang yang belum kukenal, jadi lebih baik aku terpaksa berbohong dan waspada”.

Setelah beberapa saat diam termangu , anak muda itu berkata:

       _ Namaku Wahila, Ki. Aku  berasal dari brang wetan._ (jawabnya singkat sambil pandangan matanya mencoba memandang ke arah  aki tua yang duduk di sampingnya agar tampak wajar).

Hati anak muda itu terasa gelisah,  jantungnya terasa sedikit berdebar karena ia terpaksa berbohong dengan orang yang menolongnya. Dalam hatinya berkata:

Dapat saja aku menutupi kebohonganku secara lahir tetapi batinku tetap tidak dapat berdusta. Sebelumnya aku sudah menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti ini, tetapi aku berusaha sedapat mungkin tidak menampakkan kegelisahan.  Hatiku  yang sedang resah ini harus dapat kukendalikan agar aki tua ini tidak curiga. Kalau aku berterus-terang tentang jati diriku yang sebenarnya, kemungkinan penyamaranku akan terbongkar. Itu artinya akan menyempitkan ruang gerakku sendiri.  Lebih baik aku tetap merahasiakan daripada nanti tersandung masalah berkepanjangan”

 Kemudian anak muda itu berkata:

 _Orang tuaku menyuruhku belajar di padepokan Panawijen._  (katanya sambil menggerakkan tangan untuk menyakinkan). Mendengar jawaban itu, Aki tua itu  terlihat  mengangguk-anggukan  kepala, hatinya terasa sedikit lega, teka-teki di benaknya  berangsur sirna.   Bibirnya tersenyum kemudian berkata:

      _ Orang-orang di desa ini memanggilku Karta, aku tinggal berdua dengan isteriku. Apa kisanak, ....ee......siapa tadi namamu, Nak ? –

      _ Wahila 

      _ Oh ......ya !  Nak Wahila,  maafkan aki ini sudah sering lupa, maklum usia aki sudah tua._ (jawab orang itu sambil tersenyum agak malu).

      _ Ah tidak apa, Ki.   Sebenarnya aku sudah lama  ingin pergi  ke Panawijen, tapi baru kali ini ada kesempatan. Hanya saja tadi tersesat jalan, daerah di sekitar desa ini belum kukenal sebelumnya. (jawab anak muda itu berbohong).

Aki tua itu mengangguk kecil mendengar penuturan anak muda itu,  dalam hatinya masih saja berkecamuk teka-teki tentang jati diri anak muda yang sama sekali belum dikenal sebelumnya.

 Anak ini berjalan kaki cukup jauh dari brang wetan ke Panawijen. Tentu memakan waktu dua atau tiga hari perjalanan.  Dari balik sorot matanya tampak memendam sebuah rahasia, kalau kedatangannya dengan cara wajar mungkin aku tidak menaruh curiga, tetapi sepertinya ia lari ketakutan ketika melintasi persawahan, aku sebenarnya khawatir jangan-jangan anak muda ini buronan yang selama ini dicari prajurit Daha.  Tetapi mungkin juga bukan, orang  anak muda ini mengaku  ingin puruhita ke padepokan Panawijen “.

_ Ada apa, Ki ?  (Wahila bertanya balik sepertinya dapat menebak isi hati  orang tua itu yang kelihatan seperti mulai menaruh curiga pada dirinya)

_Oh.....tidak, Nak !  Hanya beberapa hari ini prajurit Daha sering meronda ke desa ini. Aki tidak tahu apa yang mereka cari di sini._ (kata orang tua itu  dengan nada suara  pelan tetapi sorot matanya dirasakan penuh selidik).

Wahila terkejut seperti tersengat  kalajengking, wajahnya terasa panas meranggas, darahnya terasa terkesiap, otot-otot di wajahnya terlihat menegang, pandangan matanya agak nanar, mulutnya sedikit  ternganga. Dalam kesadarannya yang tersisa, Wahila  berusaha mengendalikan diri untuk tenang agar  tidak tampak perubahan pada dirinya. Tetapi aki tua secara diam-diam dapat menangkap gelagat kegelisan pada  anak muda itu. Sementara Wahila-pun dapat menangkap gelagat kecurigaan ki Karta. Dalam hati Senepo berkata:

“Lebih baik aku mempengaruhi cara pandang orang tua ini terhadap prajurit-prajurit Daha itu, daripada terus menerus mencecarku dengan pertanyaannya yang penuh selidik. Kebanyakan orang desa seperti aki tua ini cara berpikirnya masih sederhana, ia  menganggap segala sesuatu yang datang dari kerajaan selalu dianggap benar sekalipun punggawa dan prajurit kerajaan itu bermental bejat,  sedangkan orang yang jadi buronan selalu dituduh di pihak yang salah dan dipojokkan”.

_ Ada apa Nak, kelihatannya kau seperti ketakutan ?_ (tanya aki tua itu tanpa basa-basi).

Wahila merasa pertanyaan orang tua itu dirasakan seperti menohok dirinya, seketika darah mudanya serasa mendidih bergejolak hebat, jantungnya berdetak keras, matanya yang sebelumnya teduh kini berubah menjadi liar berkilat. Kata-kata orang tua itu dirasa sudah merupakan tuduhan tidak langsung terhadap dirinya. Kata-kata itu dirasakannya seperti menepuk ubun-ubun kepalanya. Hatinya membara seperti api, napasnya membekos bak deburan ombak tetapi Wahila berusaha untuk dapat mengendalikan dirinya. Dengan akal sehatnya yang tersisa ia meredam amarah yang sedang memuncak ibarat gunung berapi yang akan  memuntahkan lahar dari dapur magma.  Sesaat kemudian Wahila menarik napas panjang meredakan kobaran api amarahnya,  kemudian berkata dengan suara agak berat setengah bergetar:

_ Tidak !  Buat apa takut dengan prajurit-prajurit Daha! Ketahuilah! Mereka tidak ubahnya seperti penjahat kejam, menggunakan kekuasaan sebagai kedok._

   _ Berbuat kejam bagaimana, to Nak? Aki ini orang desa yang tidak mengerti apa-apa._  (sela Aki tua dengan kata-kata polos tampak agak kebingungan)

_ Mustahil kalau Aki tidak tahu!  Hampir semua kawula Blambangan mengetahui kesewenang-wenangan mereka. Memeras  kawula alit, memberandat kembang desa, menganiaya kawula yang berani membangkangnya. Lihatlah betapa kejamnya mereka dalam memungut pajak!_ (jawab Wahila setengah melampiaskan kejengkelannya ketika menceriterakan tabiat buruk prajurit Daha).

          Petani tua itu diam termenung memikirkan kata-kata yang meluncur dengan lancarnya dari mulut anak muda yang duduk di sebelahnya itu. Kata-kata itu terasa agak mengagetkan mengingat selama ini belum pernah sekalipun diucapkan oleh seorang pemuda di desanya seperti anak muda ini, beberapa saat kemudian orang tua itu berkata:

          _Bukannya mereka berusaha menjamin keamanan kawula alit dengan cara menangkap orang yang dianggap buronan kerajaan._

          _ Apakah buronan itu menganggu ketenteraman hidup kawula alit?_ ( Wahila ganti bertanya sambil menoleh ke wajah orang tua yang di sampingnya itu).

          _ Aku tidak tahu pasti, Nak ! Kata orang-orang desa, buronan yang bernama Mas Senpo itu selama ini malah membantu kawula alit yang dianiaya oleh bebahu demang penarik pajak._  (kata orang tua itu menceritakan berita yang tersiar dari mulut ke mulut di desanya).

_ Coba pikirkan hidup Aki sendiri sebagai petani! Berapa pajak yang harus aki bayar setiap tahunnya kepada pihak kerajaan? Bukankah aki selalu diwajibkan bayar pajak Saarik purih, Satampaking waluku, wadang pacul walau  hasil panen tidak mencukupi?  Apakah para demang pemungut pajak mengerti kesulitan aki kalau tanaman tidak panen akibat terserang hama atau terkena bencana alam seperti yang terjadi saat ini? Mereka tetap tidak mau tahu dan memaksa orang seperti aki ini tanpa ampun!  Mereka akan menganiaya kawula yang tidak mampu membayar pajak  bak sapi perahan!_

          _ Tetapi bukannya membayar pajak sudah merupakan kewajiban dan  bentuk kesetiaan terhadap raja?_ (kata ki Karta setengah menyanggah)

          _ Iya..........tetapi apakah raja dapat menjamin kalau tanaman yang aki tanam itu menghasilkan?  Kalau ternyata terserang hama atau dilanda bencana alam seperti sekarang ini bagaimana?   Lalu aki mau bayar pajak dengan apa?_  (kata Wahila dengan tangkas sambil menggerakkan tangannya untuk meyakinkan)

          _ Iya........iya Nak, Aki sekarang mulai mengerti. Seharusnya bebahu kerajaan seperti para demang sedikit memberi kelonggaran kepada kawula alit seperti aku ini untuk menunda membayar pajak pada musim panen berikutnya._

          _ Para demang itu selama ini tidak berani melaporkan keadaan dan beban hidup rakyat yang sebenarnya. Mereka hanyalah orang-orang yang mencari muka di hadapan baginda. Rakyat kekurangan dilaporkan kecukupan, rakyat resah dilaporkan aman dan tenteram, rakyat tidak mampu bayar pajak dilaporkan sebaliknya. Itu semua karena pamrih agar mereka memperoleh pujian dari baginda._ (kata Wahila)

             _ Mengapa baginda percaya dengan laporan  para demang   seperti itu?_

          _Karena tidak pernah melihat sendiri keadaan rakyat yang sebenarnya._

             _ Mengapa buronan seperti Mas Senepo menjadi musuh nomor satu kerajaan?_ (kata orang tua itu bertanya agak kebingungan )

       _ Aku tidak tahu pasti, Ki. Hanya saja kudengar dari teman-temanku dan para bakul sinambiwara kalau Mas Senepo dibiarkan terus-menerus menghasut rakyat melakukan pembangkangan, maka akan berakibat pundi-pundi kerajaan menjadi kosong tidak terisi.  Itulah yang ditakutkan oleh baginda sehingga Mas Senepo menjadi buron utama penangkapan. Tuduhan-tuduhan terhadap Mas Senepo seperti penjahat tatayi, merampok, memperkosa sengaja disebarkan untuk membenarkan tindakannya dalam memaksakan pajak, untuk menutupi kesewenang-wenangan yang selama ini mereka lakukan!_

       _ Waduh! Aki benar-benar tidak mengerti kalau perkaranya ada rentetan seperti itu, Nak !_

  _ Itulah ki! Kalau belum tahu duduk perkaranya jangan mudah percaya omongan orang, lalu menuduh orang lain sepertiku ketakutan seperti buronan. Buat apa kau takut pada mereka, aku merasa tidak punya kesalahan apa-apa. Merekalah yang menebar masalah di mana-mana!.  Mereka seenaknya  saja mengobrak-abrik desa hanya karena ingin menangkap orang yang berani melawan kekejamannya._ (jawab Wahila dengan nada agak jengkel ).

Mendengar kata Wahila, aki tua itu tampak kaget, wajahnya terasa terkesiap merasa timbul penyesalan karena tidak mengira kalau perkataan yang belum lama  dilontarkan tadi ternyata menyinggung perasaan anak muda itu, kemudian ia berkata:

        _Maafkan nak Wahila, aki sama sekali tidak menuduhmu sebagai buronan._ (kata aki Karta dengan wajah menampakkan penyesalan).

Wahila diam tidak menjawab sambil wajahnya tertunduk, wajah agak memerah, dalam hatinya ada perasaan jengkel pada orang tua itu, setelah beberapa saat terdiam dapat mengendalikan gejolak perasaannya, ia berkata:

       _Sudahlah ki, jangan bicarakan itu lagi!._  (tepis Wahila).

       _ Aduh......... nak, sekali lagi aki minta maaf atas kekhilafan ini.
         Sungguh ! Aki sama sekali tidak bermaksud menuduhmu, Nak._ (kata ki Karta setengah mengiba).

 _Tidak apa, Ki ! Memang kebanyakan kawula di pedesaan ini berpikirnya masih sederhana, kadang-kadang menyimpulkan sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri. Contohnya seperti menilai punggawa kerajaan. Apapun yang dilakukan oleh mereka selalu dianggapnya benar, sedangkan yang dilakukan orang lain yang  tidak disenangi oleh pihak kerajaan,  dianggap sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Mungkin tujuan punggawa itu benar, tetapi apa arti semua itu kalau akhirnya cara-cara yang digunakan tidak wajar! Dalam perkara seperti ini banyak orang terkecoh karenanya._

Mendengar penuturan Wahila, ki Karta hanya dapat diam membeku, tanpa disadarinya mengangguk-anggukan kepala. Dalam hatinya  membenarkan perkataan anak muda yang baru saja dikenalnya itu,  bahwa dalam menilai suatu kejadian harus mengetahui terlebih dahulu sebab yang jelas, tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Bisa keliru jadinya.

_Karena pandangan seperti itulah menyebabkan punggawa-punggawa semakin menjadi-jadi dalam bertindak sewenang-wenang,  bertindak seenaknya walau melanggar susila dan menindas hak-hak kawula alit. Itu semua disebabkan tidak ada orang yang berani melawannya. Selama orang-orang Blambangan masih berpikir seperti itu, maka mereka akan leluasa memperlakukan kawula alit tidak lebih derajatnya daripada hewan!. Mereka akan terus diinjak-injak haknya tanpa rasa kemanusiaan._

_ Iya......iya, nak.  tetapi bukannya prajurit seharusnya melindungi kawula alit seperti orang-orang desa ini ?  Kepada jadinya seperti itu, siapa lagi orang-orang lemah seperti aki ini meminta perlindungan ?

   _ Yang aki katakan itu baru sebuah harapan, bukan kenyataan. Sekarang aku ganti bertanya pada aki, jawablah yang jujur ! Apa yang telah dilakukan punggawa-punggawa itu untuk orang-orang desa selama ini ? _

  Ki Karta itu diam sejenak kemudian menarik napasnya dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepala.

_ Seharusnya mereka berbuat adil dan melindungi kawula alit seperti yang aki harapkan itu.  Tetapi apa yang terjadi?  Kenyataannya menjadi terbalik,  mereka berlaku kejam dan memeras. Apakah orang-orang seperti itu masih dapat dijadikan pengayoman ?_  (timpal Wahila)
 Aki tua itu tetap diam mematung, tanpa disadari kepalanya mengangguk-angguk membenarkan kata-kata anak muda, kemudian dalam  hatinya berkata:

 Tadi sudah kuduga, anak muda ini lain dari anak muda kebanyakan. Pikirannya cerdas dan sikapnya berani. Lidahnya setajam pedang. Ia sadar bahwa tindakan kekerasan dan sewenang-wenang yang dilakukan punggawa kerajaan harus dilawan sekalipun menempuh resiko. Anak muda ini dapat merasakan getaran hidup dan jerit penderitaan kawula alit. Ia dapat merasakan beratnya beban hidup kawula pedesaan. Ia dapat menangkap  denyut nadi, cucuran keringat dan air mata  kawula alit yang jauh dari kecukupan itu”.

_ Ada apa ki ?_  (tanya Wahila ketika memperhatikan orang tua itu diam termenung disertai pandangan matanya  tidak berkedip).

_ Oh.....tidak apa-apa nak. Aki hanya sedikit kaget dengan kata-kata yang  kau ucapkan tadi. Aki belum pernah mendengar sebelumnya   dari siapapun termasuk anak-anak  muda di desa ini.  Aki belum pernah melihat anak muda memiliki pikiran dan keberanian sepertimu. Aki juga terharu mendengar nak Wahila peduli terhadap nasib orang-orang kecil seperti aki ini._

_ Ah........ aku ini juga tidak lebih dari anak-anak muda di desa ini. Aku lahir juga sebagai manusia biasa seperti kawula alit kebanyakan yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Aku hanya punya harapan seperti kawula alit lainnya tetapi ..... (kata Wahila dengan nada merendah kemudian tertahan sejenak).

_Tetapi apa nak?_ (sahut orang tua itu sambil pandangannya menoleh ke arah anak muda yang duduk di sebelahnya).

_ Iya seperti aki ketahui sendiri! Harapan itu sepertinya sia-sia, ibarat menunggu tumbuhnya jamur di musim kemarau, terapungmya batu hitam, musnahnya pring sedapur._ (sahut Wahila dengan bahasa perumpaan).

_ Nak ! Menurut orang-orang di sawah tadi siang, prajurit-prajurit Daha itu datang di desa ini. Katanya mereka membuat geger dengan menggeledah dan mengaduk-aduk seisi desa mencari seorang buronan. Kemudian mereka menyampaikan wara-wara. Dalam wara-wara itu dikatakan: “Barang siapa dapat menyerahkan buronan yang bernama Senepo dalam keadaan hidup atau mati akan diberi hadiah seribu keping uang emas. Sebaliknya siapa saja orang yang kedapatan membantu atau melindungi buronan itu akan dipidana picis sampai mati di alun-alun kutaraja”._  (kata aki tua itu menirukan wara-wara yang didengarnya dari teman-temannya sewaktu di sawah tadi siang).

Mendengar perkataan orang tua itu, Wahila terdiam sesaat, dalam hatinya mengumpat prajurit – prajurit itu disertai luapan amarah yang bergejolak di dadanya, kemudian berkata:

_ Biarlah prajurit-prajurit itu berkoar-koar pamer kekuasaan di depan orang-orang desa yang masih polos, Ki !.  Apakah aki tahu apa kesalahan orang yang dituduh buronan itu ?_

_ Tidak._ (kata ki Karta sambil menggelengkan kepala).

_ Apakah prajurit-prajurit itu juga  sudi menolong orang-orang desa yang dilanda kelaparan ketika gagal panen ? Apakah mereka akan menolong penduduk ketika terlanda bencana alam ? Ketahuilah ki ! Mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri seperti yang dilakukan saat ini! Mereka mengelabui dengan dalih mengejar buronan, tetapi sebenarnya di balik omong besarnya itu mereka hanya menakut-nakuti penduduk desa agar membayar pajak! (kata Wahila dengan nada bersemangat dan bertubi-tubi)

    _ Aki tahu nak! Tetapi orang kecil seperti aki ini bisanya cuma apa selain  hanya bersabar dan mengelus dada._ (kata orang tua itu pasrah)

_ Iya......... ingatlah, Ki! Mereka hanya merampas tetapi tidak pernah memberi !. Camkan kata-kataku ini, Ki !_ (kata wahila singkat tetapi mantap  sambil menatap tajam ke arah aki tua itu).

Aki Karta mengangguk-angguk membenarkan perkataan anak muda yang sedikit-banyak telah menggugah kesadarannya, merasuki pikirannya, mengubah pandangannya. Kata-kata anak muda itu dirasakan masih saja terngiang-ngiang di telinga, sepertinya  tertanam kuat di dasar hatinya. Dalam hatinya semakin menjadi tanda-tanya, siapa sebenarnya anak muda bernama Wahila ini?

   Kedua orang itu terdiam sesaat seperti larut dalam lamunannya sendiri,  Aki tua itu baru tersadar dari lamunannya ketika mendengar  suara seorang perempuan tua memanggil-manggil dari dalam pondok.

        _ Pakne, tamunya mbok diajak makan dulu, nanti keburu dingin lho!_

        _ Nak Wahila  !  Itu istriku sudah memanggil-manggil. Mari nak !_ (ajak aki tua sambil bergegas bangkit dari tempat duduknya berjalan memasuki ruang tengah).

       _ Ee .....iya ki._ (jawab Wahila agak geragapan segera bangkit  mengikuti langkah aki tua itu). 
Ketika sedang menikmati makanan yang disajikan, Wahila masih saja belum dapat melenyapkan kegelisahannya, pikirannya seperti sedang mereka-reka,  kemudian berkata dalam hati:

       Kalau penduduk desa ini nanti mengetahui bahwa akulah yang dicari-cari oleh prajurit Daha, maka tidak urung akan banyak jatuh korban orang yang tidak berdosa seperti aki Karta ini akibat amukan prajurit keparat itu hanya gara-gara keberadaanku di sini. Aku tidak mau hal itu terjadi !  Lebih baik aku segera  pergi dari desa ini saat fajar nanti”.

_ Hayo, nak Wahila makannya tambah lagi ! Maklum lauknya hanya seadanya._(kata aki tua sambil tangannya mempersilahkan)  .

  _ Terima kasih,  kehadiranku sudah merepotkan aki dan nyai. _   (kata Wahila sambil sedikit tersenyum).

_ Ah...tidak. Jangan berkata begitu nak, kita hidup ini sudah semestinya tolong menolong. (kata orang tua itu lemah lembut). Kata-kata sederhana dan polos itu, membuat hati Wahila seperti tersiram banyu wayu sewindu yang dingin menyejukkan. Dalam hatinya berkata:

Walau orang tua ini agak menjengkelkan kalau berbicara, tetapi di balik itu, ia baik hati dan luhur budinya.   Sebenarnya ia tahu atau setidak-tidaknya menduga bahwa akulah buronan yang dicari-cari prajurit Daha, tetapi ia tetap saja rela legawa menolongku memberi tempat berteduh barang semalam. Padahal kalau ketahuan prajurit  Daha, ia dan keluarganya akan dihukum picis. Sungguh mulia hati orang ini. Menolong orang lain  lebih diutamakan daripada menuruti rasa ketakutannya menghadapi ancaman hukuman  picis. Kalau tadi ia mengatakan kalau aku adalah seorang pemberani, maka dalam pandanganku orang tua ini lebih pemberani daripada aku. Ketulusannya mengalahkan ketakutannya, keberaniannya mengalahkan kepengecutannya”.

_Baiklah ki, tetapi besok pagi buta, aku sekalian pamit  melanjutkan perjalanan ke Panawijen._ (jawab Wahila sambil menatap aki tua dan isterinya yang berdiri sambil meladeni sajian makan malam itu).

     _Sekarang beristirahatlah nak !, Kalau nak Wahila memerlukan kuda,  Bawalah seekor dari dua kuda yang berada di gedokan itu!_ (jawab aki tua itu)._

 _Tetapi bukannya kuda itu sangat penting bagi aki ! _ (tanya Wahila agak terheran-heran).

 _ Nak Wahila lebih membutuhkan kuda saat ini. Kuda itu akan membantumu untuk cepat sampai ke Panawijen._ (tandas aki tua itu diiringi tatapan mata tak berkedip).

     _Bagaimana aku bisa membalas kebaikan aki dan nyai, sedangkan aku belum tentu bisa memastikan kapan mengembalikannya._ (jawab Wahila)

     _Janganlah terlalu dipikirkan nak. Nanti kalau Gusti mengijinkan, tentu kita akan dapat bertemu lagi._ (tandas aki tua itu sambil menggerakkan kedua tangannya ).

     Mendengar kata-kata aki tua itu, Wahila kembali merasa kagum atas kerelaan hatinya.  Kuda itu adalah harta  miliknya yang berharga, tetapi ia dengan mudahnya menyerahkannya padaku. Kalau aku tadi kagum pada keberaniannya menolongku, kali ini aku bertambah kagum dengan ketinggian budinya yang menganggap harta tidak lebih berharga daripada kepentingan orang lain sekalipun baru dikenalnya seperti aku ini.

     Malam itu Wahila merebahkan tubuhnya di salah satu bilik di rumah aki tua, badannya terasa lelah setelah seharian penuh berjalan, tetapi kelelahan itu  tidak membuat matanya segera dapat dipejamkan. Pikirannya masih saja berkecamuk, pandangannya menerawang pada kejadiaan yang dialaminya akhir-akhir ini seakan muncul satu persatu di pelupuk matanya. 

“Ya, aku ingat  peristiwa pada hari respati di hutan Karautan itu, aku melawan sepuluh prajurit ronda sekaligus, satu persatu dapat kutumbangkan, tetapi ketika tinggal dua atau tiga orang yang kuhadapi, tiba-tiba datanglah secara mendadak seratus orang prajurit bersenjatakan lengkap berusaha membentuk gelar pagar betis untuk meringkusku. Tita dan Sampir sobatku kusuruh pergi lebih dahulu, sementara aku masih mencoba bertahan.  Waktu itu aku sudah terkepung, tetapi tekadku hanya satu melawan sampai titik darah penghabisan!  Lebih baik mati dengan cara ksatria daripada menyerah. Tetapi di saat yang kritis itu di luar dugaanku terjadi sebuah keajaiban. Tiba-tiba tubuhku seperti diselimuti sinar berwarna putih keperakan yang menyilaukan, disertai suara desiran angin kencang. Tubuhku terasa dikelilingi oleh pusaran angin seperti gasing. Tanpa terduga tubuhku terbawa arus pusaran angin itu.  Aku masih sempat melihat dalam sekejap ratusan prajurit Daha itu ternganga mulutnya menyaksikan kejadian sesaat itu sebelum tubuh mereka terguncang hempasan angin dahsyat ibarat daun kering berhamburan tinggi ke udara akhirnya  jatuh terhempas keras ke tanah . Tiba-tiba di luar kesadaranku, tahu-tahu  aku terdampar di sebuah desa  terpencil di dekat persawahan tempat aku bertemu dengan aki tua ini. Sebelum bertanya kepada aki Karta aku sempat bingung di desa apa tempat terdamparku itu.   Sebenarnya kekuatan apa yang melindungiku saat itu ? Siapa yang menolongku ?”. 

Malam merambat perlahan seakan tidak mau beranjak, suasana sunyi pun bertambah mencekam, hanya sesekali terdengar sayup-sayup suara lolongan panjang anjing hutan dari kejauhan, membuat bulu kuduk merinding bagi yang siapapun ciut nyalinya. Tidak terasa lamunan Anggara itu terhenti ketika matanya  mulai  terasa berat, mulutnya beberapa kali menguap, rasa kantuknya kali ini seperti tidak kuasa lagi ditahannya. Setelah beberapa saat, tiba-tiba ia terbangun sontak dari tidurnya.

_ Haahh ....aku harus segera pergi !_  (gumamnya ketika ia terjaga dari tidurnya,  perlahan ia terjaga di samping dipan bambu seperti sedang merajut kembali ingatannya).

Sementara suara kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan, itu tanda fajar akan segera  tiba”. (gumamnya sambil bergegas melangkahkan kakinya ke pakiwan).

“Aki tua dan nyai Karta rupanya telah bangun, mungkin menyiapkan minuman hangat untuk mengusir hawa dingin atau menanak nasi untuk bekal ke sawah”. (dalam hatinya berkata setelah mendengar suara kedua orang tua itu di dapur).

  _ Nak! Minumlah dulu, biar badanmu terasa hangat._ (sapa nyai Karta sambil menuang wedang kopi jahe panas ke dalam  cangkir tembikar yang sudah berwarna kusam ketika Anggara kembali dari pakiwan).

_Terima kasih, Nyai._ (kata Anggara sambil duduk di lincak bambu beralaskan tikar pandan setelah usai membasuh wajahnya di pakiwan ).

Dilihatnya  nyai Karta yang sedang sibuk di dapur dengan perasaan haru, tidak mengira kehadirannya membuat repot di rumah itu.

_ Ki!  Bagaimana aku membalas kebaikan aki dan nyai?_  (kata Anggara sambil menyeruput minuman panas).

 _Sudahlah nak, hal itu janganlah terlalu dipikirkan. Berangkatlah ke Panawijen dengan niyat mantap dan tekad yang bulat.  Gusti Yang Maha Wikan akan selalu melindungimu! _ (kata ki Karta dengan arif).

_ Iya ki._ (jawab Anggara sambil mengangguk seraya berdiri berpamitan). Anak muda itu bergegas menuju kandang kuda. Terlihat tangannya dengan cekatan melepas tali ikat kuda, kemudian dituntunnya ke arah regol depan rumah. Tangannya dengan cekatan memasangkan pelana yang sudah berwarna kusam di punggung hewan itu, kemudian  mengelus-elus kepalanya sepertinya  ingin mengenali binatang itu. Tangannya tampak menepuk-nepuk dahinya, hewan itu seperti mengerti diperlakukan seperti itu, kemudian membalasnya dengan anggukan kepala dan kibasan ekornya seperti mengerti apa yang dimaksud oleh pemuda itu. Segera Anggara meloncat ke punggungnya. Sementara ki Karta mendekati kuda itu sambil tidak lupa mengelus jidat binatang itu disertai tepukan pelan sambil berkata:
         
          _ Bibit! Ikutlah dengan nak Anggara._

Kuda itu meringkik keras diiringi gerakan kaki agak liar seperti menyatakan keberatan isi hatinya untuk berpisah dengan orang tua yang merawatnya semenjak masih belo. Tetapi tepukan tangan orang tua itu membuatnya menurut, perlahan kuda itu melangkah meninggalkan regol, tiba-tiba terdengar teriakan memanggil.
               
_ Tunggu  nak ! _ (Anggara menoleh ke belakang ketika nyai tua itu berjalan agak terburu-buru keluar dari pintu butulan, di tangan kirinya terlihat membawa bungkusan yang diikat kain tenunan berwarna putih agak kumal).

_ Apa ini nyai ? _  (kata Anggara setelah meloncat turun dari punggung kuda kemudian berjalan mendekati orang tua itu ).

_Sekedar bekal untuk di perjalanan, Nak! Nyai hanya dapat membawakan ini._ (kata perempuan tua itu  sambil kedua tangannya mengulurkan bungkusan disertai pandangan mata berkaca-kaca). Anggara merasa tersentuh hatinya atas ketulusan perempuan tua itu, kemudian berkata sambil sedikit tersenyum:

_ Terima kasih, Nyai._ (jawab Anggara sambil tangannya  meraih bungkusan kain itu, dikaitkan pada bahunya, sesaat meloncat kembali ke punggung kuda dengan gesitnya , tali  kekang kuda itu ditariknya perlahan sambil memberi aba-aba).  Satu-persatu langkah kaki binatang  itu  mulai meninggalkan regol luar rumah gubuk di pinggiran desa  Wungkal. Pandangan Anggara masih sempat melihat sekilas kedua orang tua itu berdiri mematung memandangnya, tampak nyai Karta mengusap air bening di sudut matanya yang berkerut itu dengan ujung kainnya. Kuda itu kini  tidak tampak lagi  setelah melintas jalan kelokan yang menyidat ke arah timur menyusuri pinggiran hutan  menelasak rerimbunan semak-semak, menyibak dinginnya embun pagi yang menerpa wajah penunggang kuda itu.

_ Nyai,  perasaanku mengatakan bahwa nak Anggara itu bukan anak muda biasa. Dari sorot matanya kukira ia anak yang pandai dan memiliki cita-cita tinggi. Dari wajahnya juga terlihat seperti diselimuti sinar yang memancarkan prebawa gaib._  (kata aki tua itu meyakinkan kepada isterinya).

_Iya, aku juga merasakan, pakne.  Sayang kita tidak punya anak seperti dia. Berpuluh-puluh tahun kita mengharapkan tetapi Hyang Agung tidak kunjung mengabulkan. Siapa tahu nak Anggara nanti singgah lagi ke sini, aku akan mengutarakan maksud kita untuk menjadikan dia  sebagai anak angkat.  Siapa tahu kalau nak Anggara tidak keberatan!_ (kata perempuan tua itu dengan wajah berharap ).

_ Tentu, nyai. Aku juga punya niat seperti itu, tetapi berhubung ia terburu-buru pergi, mungkin lain waktu kita akan mengutarakan dalam waktu yang tepat._  (jawab aki tua itu dengan sabar dan arif).

_ Aku juga senang memiliki anak seperti nak Anggara, kelihatannya dia pemuda yang baik walaupun wajahnya sedikit menyeramkan._

_ Aku juga berharap lain waktu nak Anggara sudi singgah di pondak kita lagi, nyai._

Pandangan orang tua itu masih saja menatap lorong jalan yang baru saja dilintasi Anggara dengan tatapan kosong. Sementara cakrawala di ufuk timur yang semakin terang rantak-rantak, sinar mentari pun perlahan menyibak awan putih tipis menerpa wajah anak muda yang berada di punggung kuda itu. 

v  

Di bawah terik sinar mentari, tumenggung Mahisa Walungan, panglima Gubar Baleman dan puluhan  orang prajurit Daha sedang menyusuri tlatah desa Limbahan. Desa itu letaknya tidak jauh dari desa Kapundungan.  Pasukan itu dalam beberapa hari terakhir telah mengobrak-abrik desa di sekitarnya, mulai dari Turyantapada, Tugaran, Gunung Pustaka, Kapundungan tetapi tetap  saja tidak menemukan jejak buronan yang mereka cari.  Sambil menggerutu kumenggung Mahisa Walungan berkata dengan nada kesal:

_ Bedebah, setan Karautan itu raib seperti ditelan bumi. Kita sudah mengaduk-aduk seluruh isi desa ini tetapi belum juga terlihat jejaknya._ (kata tumenggung Mahisa Walungan dengan nada kesal).

_ Aku juga heran, coba ingat peristiwa di Padhang Karautan beberapa hari lalu,  ketika kita hampir saja dapat meringkusnya.  Tiba-tiba terlihat sinar keperak-perakan keluar dari tubuhnya dan ketika  itu kita dikejutkan datangnya angin badai sangat dahsyat. Kita semua  terhempas karenanya. Aku heran elmu apa yang digunakan?  Sejak peristiwa itu sepertinya ia raib dari pengejaran kita! _ (sahut panglima Gubar Baleman geram bercampur heran).

_ Iya, aku ingat. Sepertinya ia memang anak setan penunggu hutan Karautan. Prajurit telik sandi yang kita sebar juga tidak berhasil mengendus jejaknya. Beberapa kali prajurit ronda gagal menangkapnya bahkan sebagian dari mereka terbunuh dalam pertarungan. Itulah yang membuatku penasaran untuk terjun langsung meringkus penjahat itu_ (tandas tumenggung Mahisa Walungan dengan nada kesal).

_ Apa rencana kita sekarang ? _ (tanya panglima Gubar Baleman sambil pandangannya menatap wajah Mahisa Walungan yang masih terlihat kesal)

_ Lebih baik kita ke pakuwon Tumapel di tlatah timur _
(jawab tumenggung berusia setengah baya itu agak tergesa-gesa).

_Maksudmu?_(tanya panglima Gubar Baleman memperjelas).

_Kita akan laporkan bahwa buron yang kejar selama ini memasuki tlatah Tumapel kepada Akuwu._ (kata tumenggung Mahisa Walungan)

_Sebentar ! Apakah kita sudah dapat  memastikan?   Iya kalau benar, bagaimana kalau ternyata sebaliknya?  Kita akan mendapatkan malu dari akuwu Tunggul Ametung yang masih kerabat dekat  baginda junjungan kita di Daha._ (kilah panglima Gubar Baleman dibarengi gerakan tangannya).

_Iya, kurasa pendapatmu itu masuk di akal,  kita memang belum dapat memastikan ke mana arah pelarian setan itu. Kalau kita tergesa-gesa melaporkannya kepada akuwu di Tumapel nanti akan menimbulkan silang pendapat.  Menangkap si keparat itu adalah tugas kita, bukan tugas Akuwu._  (tandas tumenggung Mahisa Walungan).

_ Sebaiknya, kita kembali saja ke kutaraja Daha! Tetapi jalan yang kita lalui adalah menyisir tlatah perbatasan timur mendekati wengkon Tumapel. Siapa tahu kita akan menemukan persembunyiannya di desa-desa yang akan kita lintasi. _ (kata pandega Baleman).

_ Kalau begitu, sekarang juga  perintahkan kepada prajurit teliksandi untuk mendahului perjalanan kita!_  (perintah tumenggung Mahisa Walungan).

_Baik!_ (jawab panglima singkat sambil setengah mengangguk).

Pandega yang bertubuh kekar itu seketika memberi isyarat tangan  kepada prajurit telik sandi untuk mendekat. Ketika pembicaraan berlangsung, tanpa disadari ada sepasang mata yang mengamati gerak-gerik mereka dari balik rimbunan semak-semak yang tak jauh dari tempat mereka bergerombol. Orang itu tidak saja dapat melihat dengan jelas semua gerak-geriknya tetapi juga dapat menguping semua pembicaraan mereka.

 _ Ada perintah apa gusti panglima? (kata salah  seorang pimpinan prajurit telik sandi setelah  mendekat).

Panglima itu memungut sebatang ranting pohon kering yang berserakan di sekitar tempat itu,  kemudian berkata:

_ Mendekatlah !_

Pimpinan prajurit  telik sandi itu mendekat diikuti ke empat anak buahnya. Dalam posisi duduk setengah berjongkok,  panglima yang berusia setengah baya itu menggoreskan sebatang ranting kering di tanah untuk menjelaskan rencana tugas yang diperintahkan.

_ Aku dan gusti Tumenggung akan menyisir daerah perbatasan, tetapi tidak sampai memasuki tlatah pakuwon Tumapel. Kamu dan anak buahmu menyebar ke tlatah desa-desa di sekitar perbatasan timur, sedangkan aku akan menuju desa Panitikan,  Pananjakan dan terakhir akan beristarahat di taman Baboji. Jika kalian  menemukan jejak tanda-tanda si keparat itu, segera laporkan secara berantai kepadaku!_  (jelas panglima Balemen sambil menunjuk  guratan titik-titik peta lokasi yang digambarkannya di tanah).

_ Iya gusti,  kami segera menyebar di beberapa desa di perbatasan seperti yang gusti perintahkan._ (jawab kepala prajurit telik sandi itu sambil undur diri dan segera bergegas pergi).

_ Jangan buang waktu dan bertindak gegabah! Jangan seperti anak kecil!_ (tegas panglima  itu). Tidak berapa lama dari keberangkatan para prajurit telik sandi itu, tumenggung Mahisa Walungan dan panglima Gubar Baleman memberi tanda kepada prajurit pengawal dan berkata:

_ Mahisa Taruna! Kita berangkat ke desa Panitikan!_

Mendengar perintah atasannya, pimpinan prajurit ronda  itu sigap memberi aba-aba berangkat pada pasukannya. Ketika rombongan prajurit berkuda itu akan melewati jalan persawahan yang sempit, langkah kudanya diperlambat. Sementara di tengah persawahan ada beberapa  orang petani yang sedang bekerja seketika salah seorang di antara mereka tampak tekejut sesaat kemudian berhenti mengayunkan cangkulnya, dari kejauhan sayup-sayup mendengar derap kaki kuda   dan berkata kepada temannya yang tengah bekerja di dekatnya:

_ Hei!  Kau dengar derap kaki kuda?_

Beberapa orang petani lain berhenti bekerja sejenak memasang telinga mencoba menangkap yang dikatakan temannya. Kemudian berkata:

   _ Iya aku mendengarnya. Tampaknya akan menuju ke arah persawahan  ini _ (jawab salah seorang petani  sambil ujung jari tangannya  menunjuk  pada lintasan jalan yang letaknya di ujung desa).  Pandangan mata ketiga orang petani itu seketika diarahkan pada ujung jalan yang berada agak jauh dari tempatnya bekerja.

   _ Derap kaki kuda itu terdengar semakin jelas !._  (sela salah di antara mereka).

   _ Hei....lihat itu ! Barisan prajurit berkuda itu sudah tampak di ujung desa. Debu-debunya berhamburan ke udara._   (kata salah seorang sambil tangannya menunjuk ke arah datangnya rombongan prajurit berkuda).

   _Iya, jumlah mereka satu...dua......tiga.......lima .....tujuh .....sepuluh ekor kuda!_ (sahut temannya ketika mencoba menghitung jumlah pasukan berkuda yang mulai tampak jelas dari pandangannya).

   _Tidak salah lagi mereka adalah prajurit kerajaan! Barisan terdepan ada dua orang membawa bendera dan panji pataka lambang kerajaan Kediri berwarna-warni.  Di belakangnya ada delapan orang prajurit berkuda mengikutinya. Sementara yang paling belakang tampak dua orang seperti pimpinannya. Jaraknya  beberapa puluh hasta dari rombongan pasukan di depannya._  (ujar salah seorang petani sambil tangannya menunjuk ke arah barisan pasukan berkuda itu. –

_ Ada apa mereka sampai melintas di persawahan ini?_

_ Mana aku tahu, mungkin mau menangkapmu!_

_ Hus.....enak saja kalau bicara! Memangnya aku punya salah apa!_

_ Sessts, diam! Sebentar lagi mereka akan melintas di depan kita!_

Pandangan beberapa orang petani yang masih polos itu seketika diam membeku, menyaksikan langkah-langkah kuda prajurit itu semakin mendekat. Tanpa disadari detak jantungnya terasa semakin keras, ada semacam kekhawatiran  kalau dirinya  berurusan dengan prajurit ronda yang wajah-wajahnya dingin tidak menampakkan keramahan itu.  Salah seorang di antara petani itu dalam angan-angannya berkata:

Betapa enaknya jadi prajurit kerajaan, pakaiannya bagus-bagus berhiaskan permata, di kepala, leher, kelat bahu dan gelang di tangan dan kakinya serba emas. Gebyar-gebyar menyilaukan ketika terkena sinar mentari. Kerjanya ringan tidak seperti petani setiap hari bekerja keras, mandi keringat, berkubang lumpur, kulit sampai hitam legam seperti jelaga tertempa teriknya mentari” .

Angan-angan salah seorang petani itu buyar ketika tiba-tiba dua prajurit berkuda di barisan paling depan menyentak ikat kendali kudanya. Kedua ekor kuda paling depan itu berhenti mendadak, kakinya terangkat ke atas sesaat diiringi suara ringkikan keras seakan meronta diperlakukan kasar.  Kemudian diikuti kuda-kuda di belakangnya. Tampak debu-debu jalan berhamburan ke udara. Mahisa Taruna pimpinan prajurit yang masih bertengger di punggung kuda itu matanya menatap beberapa orang petani itu sambil tangannya menunjuk. Seketika para petani itu berubah pucat dan agak gemetaran. 
     
_ Hei........kamu ke mari !_ (bentak salah prajurit itu dengan kasar, dibarengi pandangan mata melotot tidak berkedip, sementara tangannya memberi isyarat memanggil).

_ Heh...........kita dipanggil. Hayo ke sana !_ (ajak salah seorang kepada yang lain sambil saling berpandangan).

  _ Ah ...kamu yang dipanggil, bukan aku. Cepatlah  !_  (sahut salah seorang sambil mendorong salah seorang temannya).

  _ Goblok !  Kalian semua kemari !_ (bentak pimpinan prajurit ronda itu diiringi mimik muka tidak sabar).

  Wajahnya ketiga orang petani itu seketika berubah pucat, kakinya terasa ngoklok seakan sulit digerakkan, kemudian setengah lari tergopoh-gopoh melompati pematang kecil mendekati prajurit yang tampak angkuh tengah bertengger di punggung kuda. Sementara dua orang temannya mengiringinya  di belakang disertai perasaan cemas  tidak keruan.

 _ Aku tanya kalian! Jawab dengan benar, kalau dusta,  pedang ini akan menebas batang lehermu!_ (ancam seorang prajurit sambil memainkan sebilah pedang di dekat lehernya).

_ Kami ini hanyalah petani yang tidak tahu apa-apa.  Kalau kami tidak tahu bukan berarti kami berdusta._ (kata salah seorang petani itu dengan bibir bergetar memberanikan diri ).

      _ Diam kamu! Aku belum bertanya mulutmu sudah nyerocos lancang!_ (bentak prajurit itu dengan wajah merah padam disertai mata berkilat melototi petani ).

_ Hei.....apa  kalian tahu seorang pemuda, bernama Ken Arok  ?_ Dia penjahat kerajaan, berambut panjang sebahu !._  (kata Mahisa Teruna dengan angkuh).

        Bentakan kasar itu, membuat ketiga orang petani itu terkejut saling berpandangan, kemudian salah seorang berkata:

    _ Anu tuan.......anu ......kami tidak mengenal orang yang tuan cari. Di dusun kami tidak ada orang yang bernama Arok._ (jawab salah seorang petani lainnya dengan kata-kata terputus sementara bibirnya seperti terkunci).
             
    _ Goblok! Bukan itu maksudku! Yang kutanyakan, apa pernah kalian melihat buronan itu melintas di persawahan ini ?_  (kata prajurit itu dengan marah disertai  umpatan kata-kata kasar sementara pedangnya yang panjang putih berkilat dimainkan seakan siap tebas).

     _ Benar tuan, sungguh kami tidak tahu orang yang tuan cari._ (jawab salah seorang petani dengan wajah pucat disertai keluarnya keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya)

      _ Awas kalau ternyata bohong, kalian akan kuhukum picis jadi pengewan-ewan di alun-alun kutaraja ! _ (bentak prajurit itu sambil menggebrak lari kudanya).

      Mendengar ancaman itu ketiga orang petani itu hanya bisa terpaku bagai batu sampai saat menyaksikan para prajurit Daha itu menggebrak lari kudanya. Debu-debu jalanan yang berhamburan dibiarkan saja menerpa wajahnya.  Mereka masih berdiri mematung sambil menatap kepulan debu tebal  bergulung-gulung memenuhi sepanjang jalan yang dilalui kuda prajurit Kediri. Hatinya sebagai kawula alit terasa pedih-perih diperlakukan kasar tidak ubahnya seperti gedibal busuk yang  tidak ada harganya. Salah seorang petani itu menarik napas panjang seperti ingin menghilangkan perasaan terlukanya. Sebentar kemudian berkata:

                _ Mungkin sudah nasib, orang seperti kita ini selalu jadi bahan hinaan._ (kata  salah seorang dengan wajah tertunduk lesu dan nelangsa)

                _ Sudahlah, kang! Kita ini memang ini orang kecil, bisanya cuma sabar dan pasrah._ (sahut salah seorang yang lebih tua)

_Huh! Mentang-mentang berkuasa, memperlakukan orang miskin seperti kita tak ubahnya seperti hewan!  Sudah tidak sopan.......membentak-bentak lagi ! _ (sahut salah seorang kawannya yang usianya masih muda).

_Sudahlah,  memang sudah lagaknya, mau diapakan!_ (sahut salah seorang meredakan kejengkelan temannya).

      _Iya...tetapi._ (kata kawannya tertahan)

      _Tetapi apa?_ (desak kawannya )

      _Seharusnya mereka mengayomi kawula alit seperti kita-kita ini, bukan malah bertindak kasar menakut-nakuti!._ (sahut petani lain yang lebih tua)

_ Apa karena mencari buronan lalu tindakan mereka  berubah liar dan kasar seperti tadi?_

_Entahlah!  Setahuku sejak dahulu sudah begitu._ (sahut seorang petani menggelengkan kepala sambil beranjak pergi dari tempat itu diikuti kawannya yang lain ).


v           

        Sementara di salah satu sudut warung tidak jauh dari pasar Panitikan pagi itu tampak beberapa orang sedang mengobrol satu sama lain. Di sela-sela obrolan itu kadang terdengar tawa berderai, kadang tampak serius.

            _Saat ini keresahan penduduk desa terjadi di mana-mana. Mereka yang semula takut, kini semakin berani dan terang-terangan membangkang._  (kata Tita sambil menyeruput wedang kopi jahe kesukaannya).

  _Iya, habis apa lagi yang dibuat mbayar pajak! Untuk dimakan saja susah!_ (sahut salah seorang kawannya ngobrol)

 _Kau tahu sebabnya?_  (tanya Tita sambil ditatapnya wajah temannya satu persatu)

       _Iya karena hidupnya senin-kemis. Jadi mereka pilih membangkang daripada mbayar pajak._ (sahut salah seorang)

   _Bukan hanya itu. Mereka berani membangkang karena ada yang membelanya di belakang._ (kata Tita)

    _ Membela bagaimana?_

         _ Kau ingat peristiwa rajapati yang menggegerkan di desa  Kapulungan setahun yang lalu ? _

       _ Peristiwa apa ?_

 _Terbunuhnya  kelima anak buah demang Wuragang setelah menganiaya beberapa petani yang menolak membayar pajak._

_ Kau tahu.......siapa pembunuhnya ?_

Beberapa orang yang diajak bicara itu menggelengkan kepala hampir berbarengan sambil matanya menatap Tita tidak berkedip, kemudian berkata:

       _ Tidak._ (katanya dengan suara lirih  sambil menggelengkan kepala)

 _ Coba kau ingat-ungat kejadiaan di desa Telaga Pager yang menggemparkan beberapa bulan lalu ?

 _ Iya.......aku masih ingat, demang  Ketangi mati terbunuh. Waktu itu aku dengar dari bakul sinambiwara di pasar.   Menurut cerita dari orang desa itu,  tukang pukul demang itu sebelumnya menganiaya beberapa orang penduduk yang membangkang bayar pajak. Pada malam harinya tiba-tiba demang itu diculik, setelah dibunuh mayatnya digantungkan di pohon dekat tapal batas desa untuk dijadikan tontonan._

 _ Hih.........ngeri !_ (sahut salah seorang yang lain).

_ Coba kau ingat lagi peristiwa berdarah di desa Sigenggeng yang menggegerkan beberapa pekan lalu ?_

 _ Iya, ketika lima orang tukang pukul demang Lantur terbunuh secara mengerikan, mayatnya digeletakkan berserakan di pojok halaman rumah ki demang dengan isi perut terburai. Katanya  sebelum kejadian itu mereka  telah merampas beberapa ekor sapi milik penduduk yang menolak bayar pajak._

 _ Katakan! Siapa yang melakukan semua itu?_ (desak salah seorang kepada Tita)

Tita sejenak terdiam, diamati wajah kawannya satu persatu,  tidak lama kemudian berkata:

_Siapa lagi kalau bukan.............._ (kata Tita tertahan sambil mendekatkan mulutnya ke telinga temannya sambil berbisik)

_ Hah ! Ken Arok_ (pekik salah seorang kawannya setengah tertahan)

   _ Kalau Ken Arok, kenapa?_

_ Anak itu benar-benar pemberani. Bukankah dia sadar kalau tindakannya itu akan mengundang resiko bahaya bagi dirinya?_ (kata salah seorang setengah bertanya)

_ Ken Arok pernah mengatakan padaku, kalau ia telah siap menghadapi resiko segawat apapun._ (kata Tita menuturkan kembali perkataan Ken Arok sahabatnya).

   _Tetapi mengapa dia sembunyi-sembunyi dalam menghadapi punggawa pajak ?_ (tanya salah seorang kepada Tita).

     _ Dia hanya bertindak kalau ada sebab yaitu ketika punggawa pajak dan tukang pukulnya itu menganiaya penduduk desa._ (kata Tita sambil pandangan matanya menatap salah seorang kawannya).

_Jadi tindakannya yang tidak secara terang=terangan itu bukan karena Ken Arok takut ?_

_ Oh tidak, itu hanya sebuah siasat._ (kata Tita singkat sambil menggelengkan kepala dan meletakkan cangkir kopi yang baru diseruputnya)

_ Kalau begitu aku sekarang baru mengerti mengapa Ken Arok menjadi buronan kerajaan._ (sahut temannya).

_ Memang, dia buronan nomor satu sampai tumenggung  dan panglima sendiri turun tangan. Sebab kalau pembangkangan penduduk semakin meluas, maka pundi-pundi dan lumbung kerajaan lama kelamaan akan kosong. Pihak kerajaan menuduh kalau Ken Arok sebagai biang keladinya._ (Kata Tita sambil menggerakkan ujung jarinya).

  _ Heh.....Tita! Kau adalah sahabat dekatnya, mengapa kau tidak ikut serta kemanapun dia pergi?_

  _ Ah.........kau ini ada-ada saja. Bagiku mencari Ken Arok tidak sulit. Aku tahu di mana ia berada saat ini._

  Ketiga orang itu terdiam sesaat, tangannya meraih sepotong pisang goreng yang berada di atas meja. Kemudian Tita melanjutkan obrolannya. 

_Kalian tahu, apa sebab Ken Arok selalu gagal diringkus?_ (kata Tita setengah memancing)

_Iya, karena dia cerdik._ (sahut yang lain)

 _Bukan itu, tetapi karena penduduk desa  tutup mulut merahasiakan keberadaannya. Akibatnya prajurit yang mengejarnya tidak dapat melacak jejak persembunyiannya.  Itulah yang menyebabkan Ken Arok memiliki ruang gerak bebas-leluasa ke manapun pergi._ (kata Tita)

  _Kalau begitu, pertahanan Ken Arok adalah penduduk desa itu sendiri._ (simpul salah seorang teman Tita).

  _ Benar, katamu. Semakin luas pembangkangan pajak di kalangan penduduk desa maka semakin kuat pula pertahanan Ken Arok di daerah itu._ (kata Tita).

_ Jadi, dengan begitu ia  mudah mengecoh dan mengelabuhi  prajurit yang mengejarnya, karena setiap orang yang ditanyai menghindar dan tutup mulut._ (sahut salah seorang kawannya).

_ Luar biasa! Aku tidak mengira dia secerdik itu._ (sahut kawannya yang lain).

_ Ngomong-ngomong kenapa dia begitu peduli dengan nasib orang-orang kecil yang teraniaya?_ (celetuk salah seorang)

_ Karena selama ini tidak seorangpun yang berana terang-terangan membelanya._ (kata Tita sambil mengunyah pisang goreng)

_ Bukannya di Tumapel dan tlatah Kediri banyak pendekar yang kudengar juga tidak sejalan dengan kebijakan kerajaan?_ (sahut salah seorang kawannya)

_ Iya....tetapi mereka nampaknya masih menjaga jarak dengan punggawa kerajaan, belum memperlihatkan pembelaan  terhadap orang kecil._ (kata Tita dengan tenang)

_ Mengapa mereka tidak mendukung Ken Arok saja?_

_Aku tidak tahu hal itu,  mungkin  Ken Arok sendiri tidak mau melibatkan para pendekar._ (kata Tita sambil menggelengkan kepala)

_ Aneh........anak itu memang aneh._ (sahut salah seorang yang masih menjadi teka-teki di benaknya)

      _ Apanya yang aneh?_ (sahut kawan lainnya).

      _ Kalau Ken Arok memang membela kawula alit yang teraniaya, mengapa tidak bersekutu dengan para pendekar yang berseberangan dengan pihak kerajaan? Bukankah dukungan para pendekar akan dapat menguatkan gerakannya dalam membela kaum kecil ?_ (katanya sambil memacing Tita).

      _ Sudah kukatakan, aku tidak banyak tahu hal itu. Hanya Ken Arok pernah berkata padaku, kalau para pendekar itu punya urusan sendiri yang berbeda dengan urusan nasib kawula alit yang dibelanya selama ini._ (kata Tita sambil menatap satu persatu wajah kawannya)

          Ketiga orang temannya itu mengangguk-anggukan kepala , salah seorang menyahut:

      _ Pantas saja prajurit-prajurit itu berkoar di mana-mana seolah Ken Arok biang kerusuhan._

        _Iya tetapi prajurit-prajurit itu tidak memperoleh dukungan dari penduduk desa. _ (cela salah seorang dengan nada ketus).

_He! Kalian masih ingat ketika bertemu Ken Arok satu purnama lalu ?_ (kata Tita)

       _ Di mana?_ (sahut salah seorang kawannya)

_ Di dusun Paguhan._ (Kata Tita singkat)

_Ya, aku ingat! Kalau tidak salah waktu itu kau dan dia menghadiri pemakaman ki Panjula yang tewas akibat dianiaya prajurit Kediri. Ia muncul tiba-tiba di tengah-tengah kerumunan para pelayat menyampaikan ikut bela sungkawa kepada nyai Panjula. Kalau tidak salah waktu itu ia juga memberi bantuan untuk sekedar meringankan beban nyai Panjula.  Ia sempat mengelus-elus rambut bocah laki-laki kecil anak Ki Panjula yang sedang menangis memilukan. Kemudian ia mengucapkan beberapa patah kata di hadapan para pelayat._

Sejenak orang itu mengingat kata-kata Ken Arok, kemudian berkata menirukan:

        _ Iya......dia berkata: “kematian Ki Panjula bukanlah mati sia-sia, melainkan membela harga diri.  Ia boleh saja mati raganya  tetapi jiwa dan semangatnya tidak akan pernah mati. Karena jiwa dan semangatnya senantiasa hidup untuk terus menyadarkan kita bahwa tindakan kekerasan prajurit Kediri itu tidak boleh dibiarkan terus menghinakan kita.  Sekarang kita ganti bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita masih memiliki harga diri seperti Ki Panjula? Apakah orang-orang Tumapel seperti kita ini sudah kehilangan keberanian? Ingatlah! Kalau kita terus membiarkan kekerasan demi kekerasan  itu mengoyak-oyak kehidupan kita, berarti kita tidak lagi punya harga diri lagi! Contohlah yang dilakukan Ki Panjula yang dengan gagah berani mempertahankan keyakinannya walau harus ditebus dengan tetesan darah penghabisan!” _

         _Eh....ternyata ingatanmu masih tajam!_ (kata Tita setengah memuji temannya)

       _Bagaimana aku bisa lupa ? Kata-kata itu sepertinya  tertanam kuat di benakku, bahkan  hampir setiap orang desa itu mengingatnya, kata-kata itu seakan-akan punya kekuatan magis untuk menggugah kesadaran dan keberanian. Kata-kata itu laksana kobaran api yang membakar rasa ketakutan yang selama ini mencekam penduduk desa!_ (sahut salah seorang kawannya).
        Di tengah-tengah obrolan itu, tanpa disengaja pandangan mata Tita tertuju pada seorang yang duduk di sudut warung. Diamatinya gerak-gerik orang itu, kemudian berkata setengah berbisik kepada temannya:

       _Sests, lihatlah orang yang duduk di seberang sana! Sejak tadi diam-diam seperti mengamati kita!_ (kata Tita diiringi bahasa isyarat menggerakkan kepala dan mimik wajah ke arah orang asing itu).

       _Biarkan aja, kita nggak punya urusan apa-apa dengan dia!_ (sahut kawannya)

          _Iya....tetapi tampaknya ia memata-matai kita! Caranya mengamati kita sepertinya ia telik sandi._ (kata Tita dengan wajah serius)

          _Hei lihat! Orang itu memanggil pelayan! Dia sepertinya memberikan sesuatu sambil berbicara berbisik!._ (sahut yang lain ketika menyaksikan orang yang mencurigakan itu).

     _ Apa yang dia berikan?_

     _ Mungkin ia bayar makanan. Ia tampaknya terburu-buru!_

     _ Kukira bukan._

     _ Lalu apa?_ 

     _ Sests, lihat ke mana orang tadi! Cepat sekali ia lenyap! Baru sekejap saja kita tidak memperhatikannya, tahu-tahu ia sudah tidak ada di situ._

     Ketiga kawannya yang lain celingukan mencari orang yang baru saja dibicarakan itu tiba-tiba lenyap dari pandangan mereka.

     _Tidak salah lagi dia telik sandi kerajaan._ (kata Tita sambil pandangannya menatap satu persatu wajah temannya).

     _ Wah! Jangan-jangan orang tadi telah menguping pembicaraan kita. Bisa-bisa kita dituduh berkomplot dengan buronan kerajaan!_ (kata salah seorang dengan wajah yang mulai menampakkan sebersit ketakutan).

   _Jangan takut! Kita secepatnya bubar dari tempat ini! Sebentar lagi prajurit ronda pasti datang ramai-ramai menggerebek tempat ini!_ (kata Tita sambil bergegas pergi setelah meletakkan beberapa keping uang kepeng di meja kedai itu).

  _ Ke mana?_ (tanya salah seorang)

  _Diam kamu!  Ikut aku kalau tidak mau tertangkap._ (kata Tita sambil berjalan, sebentar kemudian menyelinap di balik kandang ternak yang jaraknya cukup jauh dari kedai).
       
        _ Hei....dengar! Ada suara derap kaki kuda menuju kemari! Jangan-jangan prajurit Kediri yang sedang ronda!_  (kata salah seorang kepada Tita sambil mengintai dari balik persembunyiannya, sementara ketegangan mulai merayap di sekujur tubuhnya).

   _Nah......itu mereka !_ (sahut salah seorang yang lain sambil tangannya menunjuk ke arah beberapa orang prajurit berkuda menuju warung di seberang pasar itu).

   Seketika orang-orang di sekitar pasar  itu terkejut, pandangannya tertuju pada sekelompok prajurit berkuda melintas cepat. Kini lari kudanya diperlambat ketika menyeruak di tengah-tengah keramaian pasar dan tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu pagar warung itu. Mereka melompat dari punggung kuda dan menambatkannya di salah satu pohon di depan warung.

   _Hei pelayan!_ (teriak salah seorang memanggil ketika memasuki pintu kedai).

   _Iya...iya, pesan apa tuan?_ (kata lelaki setengah baya itu membungkuk gemetaran sambil mendekati prajurit ronda itu).

    _Goblok! Aku ke sini bukan untuk makan tetapi menangkap komplotan Ken Arok!_(bentak salah seorang prajurit ronda sambil menuding pemilik warung sementara salah satu kakinya dinaikkan di atas kursi).

        _ Kami tidak tahu, siapa orang yang tuan maksud. Orang datang ke sini hanya untuk makan dan minum, tuan._ (kata pemilik warung itu kakinya gemetar  disertai wajah pucat pasi)

  _Bangsat! Kau masih saja mengelak! Laporan dari telik sandi mengatakan baru saja di sini ada empat orang komplotan Ken Arok. Lihat cangkir dan piring makanannya masih tergeletak di meja itu!_  (bentak salah seorang prajurit sambil tangannya mencengkeram leher baju pemilik warung itu, sementara tangan satunya menunjuk ke arah meja di sudut ruangan)

  _ Sungguh tuan, kami tidak mengerti ke mana perginya orang-orang yang tuan maksud!_ (kata pemilik warung setelah cengkeraman tangan prajurit itu dilepaskan sontak sambil didorong)

    _Baik! Kalau kau tetap tidak mau bicara, siapa mereka dan ke mana perginya, tempat ini akan kubakar dan kau akan kuseret ke kutaraja untuk dijadikan pengewan-ewan !_ (bentak salah seorang prajurit ronda menakut-nakuti).

   _ Ampun tuan, sekalipun tuan memaksa, kami tetap tidak tahu siapa dan kemana perginya!_ (kata orang tua itu memberanikan diri)

   _ Hei.......orang tua! warungmu terbukti jadi markas gerombolan pemberontak!  Berat hukuman orang yang bersekutu dengan pemberontak! Kalau kau tetap bandel, warung ini akan kubakar! (bentak prajurit itu sambil matanya memelototi pemilik waraung sementara tangannya berkacak pinggang)

_ Ampun tuan, jangan....jangan dibakar, tuan! Tempat ini satu-satunya kami bergantung hidup. Sungguh, kami tidak tahu menahu soal yang tuan maksudkan. Kami hanyalah orang kecil._  (pinta pemilik warung itu dengan nada memelas minta dibelas-kasihani). 

   _ Hei kawan! Nyalakan obor itu!_ (perintah pimpinan prajurit ronda kepada salah seorang kawannya).

Seketika salah seorang  prajurit ronda itu dengan sigap berlari ke salah satu sudut warung, tangannya meraih oncor bambu yang tergantung di sebuah tiang di pokok ruangan, disulutnya ujung oncor itu dengan api. Sementara orang-orang yang bergerombol di dekat pasar menyaksikan ulah para prajurit ronda itu dengan perasaan was-was tidak menentu. Jantungnya terasa berdetak keras ketika mendengar ancaman prajurit ronda itu.  Salah seorang berkata kepada kawannya:

   _Kasihan ki Bajani pemilik warung itu. Tidak tahu apa-apa dituduh bersekongkol dengan pemberontak!_ (katanya sambil berbisik)

  _ Prajurit itu memang keterlaluan, sok kuasa dan semena-mena, bisanya cuma mengobrak-abrik bikin keonaran tetapi tidak pernah bisa menangkap buronan. Kalau ulah semacam itu diteruskan, lama-lama prajurit-prajurit itu kehilangan simpati dari orang-orang desa._

 _ Sst, lihat! Ancaman prajurit itu sepertinya tidak main-main._  (kata salah seorang di antara orang yang berkerumun disertai perasaan tegang)

 _ Hei ......orang tua! Api itu akan segera meludeskan warungmu!_  (kata pimpinan prajurit ronda itu sambil menendang dada Ki Bajani). Pemilik warung itu jatuh terjengkang keras ke lantai, tangannya memegang dadanya yang kesakitan sambil mulutnya mengerang menahan rasa nyeri yang hebat. Sementara nyai Bajani menjerit sambil menangis menubruk suaminya yang renta itu jatuh tergeletak lemas tidak berdaya di lantai.

  _ Wo alah pakne, kenapa kita mengalami perlakuan seperti ini!_ (kata nyai Bajani sambil menangis sejadi-jadi sambil merangkul suaminya sebentar tampak mengguncang-guncangkan tubuh renta di hadapannya itu). Tiba-tiba isak-tangisnya terhenti,  wajahnya perlahan diangkat, pandangan matanya yang bersimbah air mata itu kini  menatap tajam prajurit-prajurit ronda itu dengan pandangan tidak berkedip.  Isteri pemilik warung itu tangannya menuding prajurit ronda sambil berkata setengah mengumpat:

  _Hei .......anak muda! Kalian benar-benar tidak punya belas kasihan! Rupamu tampan, tetapi kelakuanmu seperti penjahat! Ingatlah suatu saat kau akan menuai  karma dari perbuatanmu!_

   _Tutup mulutmu perempuan tua!_  (bentak prajurit itu sambil menuding disertai wajah merah padam). 

   Suasana di tempat itu seketika senyap, ibarat jarum jatuh pun akan terdengar, sementara ketegangan merayapi orang-orang yang menyaksikan kejadian itu, perasaannya cemas  tidak menentu, mulutnya  ternganga ketika pimpinan prajurit ronda itu berteriak:

        _ Bakar tempat ini!_

  _Oh....jangan tuan, jangan...........jangan!_ (cegah ki Bajani sambil berusaha bangkit, salah satu tangannya tampak meronta untuk mencegahnya, sementara tangan satunya berusaha menyangga tubuhnya untuk bangun).

  Prajurit yang memegang oncor itu tampak berjalan keluar dari warung dan secepat kilat melempar oncor itu ke atapnya, seketika api menjalar cepat menjilat-jilat melahap bangunan sederhana yang beratap ijuk itu.  Pemilik warung itu dan isterinya hanya dapat menjerit-jerit sambil berlarian ke sana-ke mari berusaha menyelamatkan barang-barangnya yang tersisa, sementara ke empat prajurit ronda itu menyaksikannya sambil tertawa terbahak-bahak:

  _Rasakan, kini hartamu ludes!_ (kata pimpinan prajurit ronda itu sambil melompat ke punggung kudanya diikuti anak buahnya meninggalkan tempat itu).

Seketika tempat itu geger poyang-payingan, orang-orang di pasar berlarian ingin menyaksikan ke tempat kebakaran itu. Suara riuh-rendah pun pecah di tengah kerumunan orang-orang itu. Beberapa orang berlarian menenteng timba berisi air untuk membantu memadamkan amukan api. Tetapi tampaknya upaya itu sia-sia, warung Ki Bajani  itu tinggal puing-puing berserakan disertai kepulan asap di sana-sini.   Orang-orang yang berdatangan itu hanya dapat menyaksikan tangisan ki Bajani dan isterinya yang menyanyat hati itu dengan perasaan haru dan nelangsa. Salah seorang mendekati:

_Sudahlah ki! Yang penting aki dan nyai selamat. Kalau aki dan nyai bermaksud mendirikan warung lagi, kami semua akan membantu!_ (kata orang itu meredakan kesedihan orang tua itu).

_ Benar, ki! Kami semua siap membantu, kapan pun aki memerlukan!_ (sahut yang lain).

_Terima kasih, perhatian kalian benar-benar membuatku terharu._(kata Ki Bajani dengan wajah sendu menyiratkan kepasrahan)

Sementara orang-orang yang berkerumun agak jauh dari tempat itu, berkata kepada yang lain sambil berbisik.

_Prajurit tadi menuduh kalau warung ki Bajani  sebagai sarang komplotan Ken Arok, makanya prajurit ronda itu membakarnya._

_ Ah, tidak mungkin. Aku tahu persis siapa ki Bajani. Dia orangnya jujur dan selama ini tidak pernah berurusan dengan kawanan pemberontak. Dia membuka warung hanya sekedar untuk menyambung hidupnya setelah tenaganya tidak kuat lagi menggarap sawah._ (sela yang lain).

_Katanya prajurit ronda itu punya bukti dari laporan telik sandi yang memergoki beberapa orang komplotan Ken Arok di warung itu!_ 

   _Kalau benar, komplotan Ken Arok singgah di warung ki Bajani, apakah berarti ki Bajani dapat dipersalahkan?_

Orang yang diajak berbicara itu hanya dapat mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepala. Sesaat kemudian, orang-orang yang berkerumunan itu satu persatu pergi meninggalkan puing-puing warung ki Bajani. Sementara ki Bajani dan isterinya dengan wajah tertunduk pasrah mengais-ais abu puing-puing reruntuhan itu untuk menemukan barang-barangnya yang mungkin dapat diselamatkan.

Dari tempat agak jauh dan tersembunyi ada beberapa pasang mata yang terus mengamati kejadian demi kejadian di warung ki Bajani. Dari balik persembunyiannya, Tita berkata:

   _ Apa yang bisa kau katakan dari kejadian itu?_

   _ Ya......aku merasa kasihan kepada orang tua pemilik warung itu. Kini warungnya rata dengan tanah._ (kata salah seorang temannya)

   _ Tentu, tetapi bukan itu maksudku?_

Orang itu hanya memandang wajah Tita dengan penuh teka-teki.

_ Maksudku, kejadian tadi adalah bukti bahwa pemilik warung itu tutup mulut. Sekali pun harus mengorbankan harta miliknya ludes di makan api, mereka toh tetap saja bungkam seribu bahasa untuk tidak memberitahukan keberadaan Ken Arok dan kawan-kawannya. Itu semua karena orang-orang seperti pemilik warung itu diam-diam bersimpati kepada Ken Arok._

Ketiga orang kawan Tita itu hanya mengangguk-angguk. Salah satunya berkata:

_Iya, tetapi hal itu cukup mengherankan. Kekuatan apa yang menjadikan mereka kuat bertahan di bawah ancaman prajurit ronda yang kejam itu._

_ Orang-orang desa umumnya merasa bahwa Ken Arok adalah pahlawan mereka. Ken Arok dianggap sebagai orang yang berani membela kepentingannya sekalipun harus berhadapan dengan tembok kekuasaan kerajaan._ (kata Tita)

_Benar katamu. Kuasa dan wibawa kerajaan sedikit demi sedikit runtuh , ibarat tebing sekeras apa pun akhirnya akan terkikis oleh deburan ombak yang terus menerus menghantamnya._

_Iya, saat ini nama baik prajurit kerajaan merosot di mata orang-orang di pedesaan. Semula mereka taat menjalankan semua titah raja termasuk kewajiban membayar pajak, tetapi kini mulai pudar, yang tampak adalah pembangkangan di sana-sini._

_Apa rencanamu selanjutnya?_ (tanya salah seorang kepada Tita)

_Pembakaran warung itu akan kulaporkan kepada Ken Arok!_ (kata Tita singkat).

Sementara langkah kaki kuda prajurit ronda itu perlahan  menyisir jalan pinggiran desa Panitikan. Sinar mentari yang terik siang itu menerobos sela-sela dedaunan menerpa wajah prajurit ronda yang melintas di bawah pepohonan di pinggir jalan itu. Salah seorang prajurit berkata kepada kawannya:

_ Aku merasa ada yang ganjil dari kejadian tadi._

  _ Apa?_

_ Coba perhatian!  Setiap kali penggerebekan yang kita lakukan selalu gagal. Tidak satu orang pun yang kita tanya menjawab sekalipun kita paksa. Mereka umumnya mengunci mulutnya, dengan berpura-pura tidak tahu._

  _Itu suatu tanda penduduk desa tidak mau bekerjasama dengan kita._

_Kukira wara-wara yang disebarluaskan ke setiap desa itu penyebabnya. Coba ingat!  Isinya bernada mengancam bagi siapa yang terbukti bekerjasama dengan buronan akan dihukum picis! Jadi menurutku itu yang menimbulkan di kalangan penduduk desa, mereka akhirnya menghindar dan tutup mulut mencari selamat daripada terseret-seret ini._

_Tetapi dalam wara-wara itu bukankah dikatakan “bagi siapa saja yang dapat menangkap Ken Arok dalam keadaan hidup atau mati akan dihadiahi seribu kepeng!”_

_ Masalahnya sampai kini tidak seorangpun tertarik  untuk memburu hadiah itu. Jangankan penduduk desa yang umumnya polos, pendekar-pendekar sekalipun yang biasanya giat memburu hadiah, kini tidak satu pun muncul. Kurasa ini agak ganjil!_

_ Kurasa ada semacam perasaan tidak senang terhadap kita. Lihat saja ketika kita melintas di jalan-jalan desa, begitu melihat kita dari kejauhan mereka sudah pada lari menghindar. Mereka kini tidak lagi memperlihatkan rasa hormat, kalaupun tidak menghindar mereka tampak melengos disertai pandangan tidak bersahabat!_

_ Iya aku juga merasakan rasa ketidak-senangan itu kini sepertinya menjalar cepat ke seluruh pelosok desa yang kita lalui._

   _ Ada apa di balik itu semua?_

   _ Mana aku tahu!_

  _ Kenapa itu hal itu tidak diteliti?_

  _ Itu urusan pandega pasukan telik sandi. Bukan urusan kita!_

  _ Hem........aku menangkap ada gerakan bawah tanah yang tidak kasat mata tetapi pengaruhnya makin kuat. Hal itu hanya dapat dirasakan._

  _Apa ada hubungan gerakan bawah tanah dengan pembakaran warung tadi ?

_ Iya..tentu, yang kita lakukan di warung tadi jelas  akan menimbulkan perasaan antipati penduduk terhadap kekuasaan kutaraja, Kalau perasaan tidak senang makin meluas maka dukungan terhadap gerakan bawah tanah yang membangkang terhadao kekuasaan kutaraja semakin kuat._ 

_ Ah tugas kita kan cuma meronda, kita tidak perlu memikirkan  sesuatu yang bukan tugas kita! Pasalnya kita hanya dihdapkan pada satu pilihan, yaitu bertindak tegas! Kalau tidak tegas seperti tadi, kita malahan akan disalahkan oleh gusti pandega dan gusti Tumenggung._

_Iya....kedudukan kita memang jadi sulit akhir-akhir ini, melaksanakan perintah atasan,  kawula alit seperti pemilik warung tadi menjadi korban, tetapi kalau berbaik hati,  menenggang perasaan terhadap kawula alit, kita ganti disalahkan oleh atasan. Sungguh serba repot._

Ketiga prajurit ronda yang lain diam mendengar keluh-kesah itu, hanya dapat menarik napas dalam-dalam sepertinya tidak berdaya mengambil sikap yang bijak dalam menjalankan perintah yang menjadi tugasnya. Ke empat prajurit ronda itu hanya dapat  diam termenung di atas punggung kudanya.

v      


     Siang itu terik sinar mentari terasa menyengat kulit.  Seorang pemuda masih memacu kudanya melintas lorong sempit di pinggiran persawahan desa Kagenengan yang letaknya di lereng selatan gunung Indrakila. Ia  sepertinya tidak mempedulikan kuda tunggangannya. Derap kaki kuda itu tampak makin lambat ketika melintas  jalan tanjakan memasuki kawasan hutan perbatasan wilayah Tumapel.  Tangan anak muda itu menarik tali kekang, seketika kuda itu berhenti di dekat pohon yang rindang di pinggiran hutan.  Dengan gesit anak muda itu meloncat turun,  berjalan mendekati parit yang airnya mengalir jernih, bergegas ia membasuh wajahnya yang penuh keringat itu. Sesaat kemudian ia kembali mendekati kudanya, tangan kanannya mengelus-elus jidatnya, sepertinya sedang mengajaknya bicara:

     _Maafkan aku bibit! Hampir setengah hari kita tidak berhenti. Sekarang kau boleh istirahat!  Makan dan minumlah sepuasmu! Di sini banyak rumput-rumput segar dan air jernih!_   (kata anak muda itu sambil menepuk-nepuk punggung hewan itu, sementara kuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengeluarkan dengusan suara seakan mengerti apa yang dikatakan tuannya).

Ketika beristirahat di bawah pohon mandira yang daunnya rindang, anak muda itu dengan tenang menyandarkan punggungnya di pohon itu sambil mengipas-ngipaskan kainnya untuk mengeringkan keringat yang membasahi leher dan badannya. Sekali-kali kain itu diusapkan di wajahnya untuk menyeka air basuhan dari parit yang masih menempel. Diraihnya tempat minum yang berbentuk bundar terbuat dari tempurung buah Sriphala itu, kemudian perlahan diteguknya. Tenggorokannya terasa lega, badannya terasa lebih segar ketika angin bertiup semilir seakan memulihkan otot bayunya setelah berkuda hampir setengah hari tanpa henti. Tangannya meraih bungkusan makanan yang dibawakan oleh nyai Karta, perlahan makanan yang dibungkus daun pisang itu. Dibukanya. Di tengah-tengah makan tiba-tiba ia teringat sesuatu, kemudian dalam hatinya berkata:

“Lebih baik aku menemui ki Sampar Angin di Kedung biru,  sahabat bapa angkatku Bango Samparan daripada aku ke Panawijen.  Paman Sampar angin adalah pendekar yang disegani karena berelmu tinggi dan termasuk pendekar golongan putih. Ya.........aku tidak ragu lagi, aku akan pergi menemuinya”.

     Usai makan ketika sedang meneguk minuman,  tiba-tiba Anggara dikejutkan suara orang tertawa nyaring. Suara itu makin lama terdengar keras serasa memekakkan telinga. Gemanya seperti menembus ke seluruh sudut penjuru hutan. Seketika anak muda itu bangkit dari tempat duduknya, memasang mata mengamati sekeliling hutan itu sambil berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang akan terjadi.  Dalam pikirannya berkata:

suara itu dilambari tenaga dalam yang hebat, sampai gema yang dilontarkan mampu menggetarkan seluruh isi hutan,  tetapi siapa? Sepertinya aku pernah mengenal suara itu!” (kata Anggara sambil mengingat-ingat). Belum sampai dapat memastikan, suara itu kembali terdengar menggema.

     _ Hei ....anak muda! Mengapa kau bingung? Aku tahu engkau sekarang dalam pelarian ke tlatah timur. Masuklah ke tlatah Tumapel, engkau akan aman, karena prajurit Daha tidak akan mengejarmu sampai ke sana!_
     (Anggara semakin terheran-heran mendengar kata-kata yang mengerti keberadaannya saat ini).

        _Siapa kau sebenarnya ? _ (teriak Anggara dengan suara lantang sambil telapak tangannya di dekatkan mulutnya agar suaranya menggema).

           _Hua......haa......hwaaaaaa...... haaaa. _ (gema tawa panjang itu kembali memecahkan kesunyian hutan Kagenengan).

        _Arok................Arok kau ini masih muda tapi sudah seperti kakek-kakek pikunan saja,  huwa haa.....haaaa !._ (suara orang itu tanpa memperlihatkan diri).

        _ Uh..............dia sudah mengenalku !, ia tahu rencana prajurit Daha.  Siapa dia sebenarnya ? (kata Ken Arok dengan wajah memperlihatkan rasa semakin penasarannya).
            
        Ketika sedang bingung belum dapat memastikan teka-teki itu, tiba-tiba dikejutkan datangnya angin kencang disertai gema suara tertawa keras, kali ini lebih keras dari suara tawa sebelumnya. Debu dan daun-daun kering di sekitar tempat itu berhamburan di udara diterjang angin bayu bajra. Tampak berkelebat sesosok bayangan dengan gerakan yang sulit diikuti oleh pandangan mata, tiba-tiba  seorang tua dengan rambut panjang memutih sudah berdiri gagah di hadapan Ken Arok. Anak muda itu terkejut  ketika melihat sosok orang tua yang berdiri gagah di hadapannya itu. Seketika anak muda itu lari tergopoh-gopoh mendekati orang tua itu sambil memberi hormat, sambil berkata: 

     _Paman Sampar Angin !_(teriak Ken Arok terkejut)

_Bangkitlah !_ (kata orang tua itu dengan arif sambil tangannya menepuk bahu anak muda)

 _Bagaimana, paman  tahu aku berada di sini ? _ (tanya Ken Arok).
  
_ Kakang bango Samparan, orang tuamu yang mengatakan. Semula aku dari kutaraja Daha, lalu singgah di kediaman orang tuamu di Karuman._

_ Iya paman, niatku semula memang akan pergi ke Panawijen tetapi rupanya keadaan saat ini tidak memungkinkan aku tinggal di padepokan itu._

_ Ada apa ?_

_Aku tidak ingin jatuh korban atau setidak-tidaknya  pedopokan itu akan diporak-pondakan prajurit gara-gara keberadaanku di situ._

_ Iya aku mengerti,  saat ini tidak mungkin kau menetap di satu tempat. Itu akan memudahkan prajurit kutaraja menjebakmu._

_ Setelah aku singgah di Karuman, orang tuamu bercerita....._ (kata Ki Sampar angin tertahan tidak diteruskan)

_ Cerita apa,  paman ?_

Pendekar tua itu diam sejenak sambil memainkan jari-jarinya di mulutnya, berjalan beberapa langkah mondar-mandir sambil terlihat sekali-kali  menarik napas panjang. Sepertinya ada ganjalan untuk mengatakannya terus-terang kepada anak muda itu.

_Apa yang terjadi dengan orang tuaku, paman ?_ (desak Ken Arok  tidak sabar).

Pendekar berjenggot putih itu tampak masih diam  termangu, sesaat kemudian tangannya terlihat mengelus-elus jenggotnya yang putih sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu.  Perlahan orang tua itu berkata pelan:

_Prajurit-prajurit Daha........._ 

_ Apa yang mereka lakukan, paman? (sahut Ken Arok sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ki Sampar angin).

_ Mereka menganiaya orang tuamu._

Mendengar  penuturan Ki Samparangin,  Ken Arok terguncang hebat bagai disambar petir. Tanpa disadari ia meloncat bagaikan seekor singa menubruk  mangsa.  Suara geram dari mulutnya bagaikan suara seekor naga yang mendesis-desis.

       _ Huh........bedebah! Sudah kuduga mereka akan berbuat licik._  (cetus Ken Arok sontak dengan nada marah, hatinya  seperti terbakar api menyala-nyala, dadanya sesak seakan mau meledak, detak jantungnya berpacu keras memburu, wajahnya berubah merah padam, kerotan giginya  terdengar gemeretak,  desah napasnya membekos.  Kilatan matanya liar, sorotnya menyala tampak melotot tanpa kedip. Otot-otot wajahnya tampak menegang, telapak tangannya dikepalkan seperti akan meremuk besi geligen).

        _ Kurang ajar! Prajurit-prajurit itu cecunguk itu tidak memiliki jiwa ksatria, bisanya cuma menebar kekerasan, menindas kawula alit yang tidak berdosa dengan kedok kekuasaan!_ (geram Ken Arok dibarengi tubuhnya yang bergetar hebat menahan murka, dadanya tampak naik-turun seperti kepundan gunung yang akan meletus memuntahkan lahar panas, jari-jari tangannya dikepal-kepalkan).

        _Tenanglah  Arok ! Orang tuamu masih dilindungi oleh Hyang Agung.  Aku merawatnya  selama beberapa hari dan tidak lama lagi akan pulih kembali seperti sedia kala_ (kata orang tua menenangkan).

        _Terima kasih, paman telah merawatnya._  (jawab Ken Arok sambil mengatur napasnya  untuk meredakan amarah).

         _Sebelum aku meninggalkan Karuman, orang tuamu sempat berpesan kepada paman untuk mencarimu. Pesannya, untuk sementara waktu kau jangan pulang ke Karuman, lebih baik  puruhita ke Panawijen atau ke Lohgawe._ (kata orang tua berjubah itu).

        _Iya.........tetapi rasanya tidak mungkin saat ini aku menetap di padepokan Panawijen atau Lohgawe, Paman!_
. 
                _ Aku mengerti ! Paman akan segera menyuruh orang untuk memberitahu orangtuamu bahwa kamu telah selamat, lolos dari kejaran prajurit Daha dan kini aman bersamaku.  Berita ini niscaya dapat mengobati kecemasannya memikirkanmu dan  membuatnya merasa lega._ (kata Ki Sampar angin).

        _ Terima kasih, paman._ (jawab Ken Arok).

        _ Bagaimana kejadiannya sampai kamu dikejar-kejar prajurit Daha kali ini ?_ (orang tua itu bertanya).

        _Ceritanya agak panjang paman._  (jawab Ken Arok menceritakan awal mulanya bentrok dengan prajurit Kediri sampai akhirnya dijebak di hutan Karautan)

             _ Iya............aku tahu tindakan prajurit-prajurit itu memang brengsek.  Tetapi aku mendengar berita burung dari orang-orang di kedai-kedai dan pasar-pasar tlatah kulon, bahwa kamu telah menjadi begal yang paling disegani  di padhang Karautan. Saudagar-saudagar dari Kediri yang akan ke Tumapel ketakutan melintas daerah itu._ (kata orang tua itu sambil mengamati anak muda yang berdiri di hadapannya).

                     _ Aku akui hal itu, paman. Tetapi yang  kurampok adalah punggawa-punggawa yang memeras rakyat ! Uang pajak yang kurampok itu kukembalikan lagi kepada penduduk desa!_

                     _ Para saudagar dari kutaraja juga kau rampok ?_

                     _ Iya..... terpaksa kulakukan, karena dikawal oleh prajurit Kediri yang diupah oleh mereka.  Jadi kalau mereka kurampok tujuanku adalah mempermalukan prajurit-prajurit itu._

                       _ Hebat....hebat! Kau sungguh berani menghadapi mereka sendirian anakku. Karena keberanian itu, kau difitnah merampok rakyat kecil;._

             _ Biarkan saja,  itu dalih hanya yang biasa mereka gunakan. Sudah biasa orang yang mempunyai kekuasaan suka memutar-balikkan kejadiaan._

             _Pihak kerajaan sangat bernafsu menangkapmu, bahkan menyebar wara-wara disayembarakan._

             _Iya.....paman, sayembara itu  semakin membuka mata bahwa mereka sebenarnya tidak becus menangkapku._

             _Bagaimana paman tahu rencana prajurit Kediri tidak mengejarku sampai tlatah Tumapel ? _ (tanya Ken Arok menanggapi perkataan ki Sampar angin sewaktu masih belum menampakkan diri).

             _Aku menguping pembicaraan mereka pinggiran hutan Limbahan._ (jawab orang tua itu menuturkan kejadiannya).

Ken Arok mengangguk-anggukan kepala sambil mengingat kejadian di hutan Karautan dekat desa Limbahan, kemudian berkata:
         
        _Berarti yang menyelamatkanku di padhang Karautan adalah paman sendiri ?_  (simpul Ken Arok setelah mendengar penuturan orang tua itu).

        Pendekar  tua itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, kemudian berkata:

        _ Iya.....tentu ! Karena mereka menjebakmu dengan seratus orang prajurit. Kau bisa mati konyol menghadapi prajurit sebanyak itu._

             _ Waktu itu aku sudah pasrah, lebih baik mati berkalang tanah daripada menyerah!_

             _ Lain kali jangan nekat seperti itu, gunakan akal cerdikmu, lakukan apa yang tidak disangka oleh lawan._

             _ Iya paman, kuakui waktu itu aku terburu nafsu._

      _Sudahlah!, hal itu jangan dipikirkan. Waktu itu hanya suatu kebetulan saja ketika paman melintas di hutan itu tiba-tiba terdengar suara keributan ternyata prajurit Kediri itu sedang beramai-ramai mengeroyokmu._

      _Sekarang, ikutlah bersamaku! Nanti kita bicarakan apa yang sebaiknya kau tempuh._  (ajak orang tua itu dengan lemah lembut sambil tangan kanannya menepuk-nepuk bahu anak muda itu.  Ken Arok menganggukkan kepala sambil bergegas  mengemasi perbekalan dan tangannya perlahan meraih tali ikat kendali kudanya, kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat itu mengikuti jejak langkah Ki Sampar angin).

        Pada suatu malam ketika Ken Arok duduk bersila saling berhadapan dengan ki Sampar Angin di dungau kecil di sudut depan halaman balai pendapa. Tampak sesekali Ki Sampar Angin menuang minuman ke dalam cangkir yang terbuat dari tembikar.

        _ Kau tahu perkembangan terakhir di kutaraja?_ (tanya Ki sampar angin membuka pembicaraan)

        Ken Arok hanya menggelengkan kepalanya, diam sejenak mengambil napas lalu berkata:

        _Sepekan lalu, aku mendengar berita kalau baginda mengeluarkan perintah untuk menurunkan gaji para punggawa dan prajurit, selanjutnya aku tidak tahu lagi, paman._

        _ Benar, baginda menempuh cara itu untuk menghemat kas kerajaan yang kian menipis akibat hasil setoran pajak tidak mencukupi untuk menutup pengeluaran selama ini._

        _ Kau tahu apa akibatnya?_

        _ Tidak paman._

        _ Kudengar para punggawa dan prajurit itu walau tidak berani menolak putusan baginda tetapi mereka menggunjing putusan itu di belakang._

        _ Kau dengar apa yang mereka gunjingkan?_

        _ Tidak._

        _ Mereka diam-diam akan membalasnya dengan bermalas-malasan karena merasa tidak dihargai._
      
        Ken Arok terdiam mendengar penuturan pamannya, dalam hatinya belum dapat menduga arah pembicaraan itu. Sesaat kemudian pendekar tua itu bertanya:

        _ Apa artinya semua ini ?_

        _ Aku belum mengerti maksud paman._

        _ Ketahuilah! Mengendornya semangat mengabdi di kalangan punggawa dan prajurit ini akan menggerogoti kewibawaan singggasana dari dalam._

        _ Apa hal itu ada hubungannya dengan kawula alit ?_

       _ Iya, tentu bahkan mempunyai hubungan timbal-balik dengan apa yang kau lakukan selama ini._

      _ Dengan aku, paman!_

      _ Iya.......mengapa tidak!_

      _ Bagaimana duduk perkaranya?_

      _ Kau tahu sendiri di kalangan kawula terjadi pembangkangan pajak di mana-mana, sedang di kalangan punggawa dan prajurit sendiri terjadi melemahnya semangat. Itu artinya baginda gagal. Gagal memajukan kesejahteraan kawula dan membina kekuatan pendukungnya. Surutnya dukungan terhadap baginda ini akan berakhir dengan perubahan besar terhadap kekuasaan kutaraja. Ini semua mempunyai hubungan dengan apa yang kamu lakukan yaitu mengobarkan pembangkangan pajak._

        _ Itu semua kulakukan karena kawula alit memang tidak mampu membayarnya. Kedua, aku tidak tega melihat keadaan mereka yang terus-menerus dianiaya sewenang-wenang. Karena itu aku membela mereka. Aku tidak punya maksud lebih jauh dari itu apalagi sampai menguasai kekuasaan kutaraja._

        _Iya,  tetapi bendera perlawanan telah kau kibarkan, kini kekuatan kutaraja menyambutnya dengan mengerahkan segenap kekuatannya untuk menangkapmu yang dianggap biang-keladinya._

        _ Aku tahu, paman._

        _ Sebab kalau kau tidak tertangkap dan pembangkangan pajak semakin luas, maka pundi-pundi kerajaan makin kosong._

        _Lalu apa maksud perubahan besar seperti paman katakan?_

        _Iya tentu, melemahnya dukungan rakyat dan punggawa tentu akan mengancam kedudukan baginda itu sendiri. Menjadi raja ibarat menaiki seekor harimau, kalau tidak dapat mengendalikannya,  harimau itu akan menerkamnya._

        _Mengancam kedudukan baginda? Maksud paman, apa baginda akan digulingkan?_

       Pendekar tua itu diam sejenak sepertinya sedang merangkai kata-kata. Sesaat kemudian:

        _Mungkin. Di dalam suatu pergulatan tentu ada yang tersisih dan ada yang mengambil-alih!_

        _ Menurut paman, siapa yang mengambil-alih?_

        _Tentu ada dua kemungkinan, kalau bukan dari rakyat, iya dari lingkungan dalam kerajaan itu sendiri atau mungkin juga dari kerajaan lain yang melihat  melemahnya dukungan itu sebagai peluang._

        _ Aku tidak menduga paman mempunyai pemikiran sejauh itu ke depan._

        _ Tidak Arok, pandangan itu baru suatu kemungkinan, bukan suatu kepastian._

        _Bagaimana kepastiannya, paman?_

        _Kita akan lihat saja perkembangannya. Kalau perlu kita kawal perubahan demi perubahan yang berlangsung._ 

        _Apa mungkin kawula alit memiliki kekuatan sebesar yang diperlukan untuk merubah kekuasaan kutaraja ?_

        _ Awalnya mungkin orang berpandangan hal itu tidak mungkin terjadi. Tetapi roda sejarah yang terus berputar ini akan membuktikannya, suatu ketidak-pastian dapat berubah menjadi sebuah kepastian. Begitu juga sebuah kepastian dapat berubah menjadi ketidak-pastian. Pasang-surut, silih berganti  dalam kehidupan ini wajar terjadi, tidak ada hal yang mustahil._

        Mendengar penuturan pendekar tua itu, Ken Arok terdiam sambil mencerna makna di balik kata-kata bersayap yang penuh arti itu. Dalam hatinya berkata: “apa mungkin orang sepertiku dapat ikut serta menggerakkan roda sejarah ke arah perubahan kekuasaan di kutaraja?”. Setelah sejenak terdiam, Ki Sampar angin berkata:

        _ Apa yang kau pikirkan, anakku?_

        Ken Arok menarik napas, wajahnya diangkat menatap pamannya, teka-teki di benaknya dikatakan kepada pamannya:

        _ Apa mungkin orang seperti aku ini dapat menggerakkan roda sejarah seperti paman katakan itu?_

        _ Pertanyaan itu hanya kamu sendiri yang dapat menjawabnya. Tetapi paman hanya bertanya, bukankan selama ini kamu sudah  menjadi bagian dari sejarah kekuasaan kutaraja?_

        _ Pelaku sejarah?  Seorang buronan separti aku ini, paman?_

        _Iya.........mengapa tidak! Tidakkah kau sadar bahwa keberadaanmu sebagai buronan kerajaan sedikit banyak mempengaruhi kekuasaan kutaraja. Kamu di satu sisi telah mempengaruhi kebijakan kutaraja, terbukti kamu dianggap biang keladi pembangkangan dan kerusuhan. Sedang di mata rakyat kamu adalah pahlawan pembela mereka. Semakin luas pembangkangan berarti semakin kuat dukungan rakyat kepadamu.  Apa yang kau lakukan selama ini bukan peran sejarah? Ketahuilah anakku! Peranmu selama ini telah mengantarkanmu di pangung kekuasaan kutaraja. Bagaimana kau bermain di panggung itu,  terserah kepiawaianmu sendiri. Nanti pada akhirnya sejarah akan menentukan, apakah arah angin perjalanan sejarah itu berpihak padamu atau tidak?_

        Ken Arok tampak menarik napas dalam-dalam, mendengar penuturan panjang-lebar itu. Dalam hatinya memuji wawasan dan kecerdikan orang tua itu. Mungkin diperolehnya dari pengalamannya selama bertahun-tahun malang-melintang di dunia persilatan termasuk hubungan kedekatannya dengan punggawa-punggawa tinggi kerajaan. Semua itu menjadikan paman Sampar angin sebagai tokoh utama dunia persilatan tetapi juga kaya pengalaman, matang dan mumpuni  di bidang ketataprajaan.

        _Apakah tekad dan keberanian cukup dijadikan bekal dalam memerankan lakon sejarah saat ini,  paman?_

        _ Tentu saja tidak, anakku. Masih dibutuhkan pengetahuan, kecerdikan, kadigdayaan dan yang paling penting adalah dukungan luas dari semua pihak termasuk rakyat._

        _Dukungan rakyat, paman! Bukankan selama ini mereka telah mendukungku!_

        _Benar, untuk saat ini. Tetapi maksud paman, pada waktu mendatang, apakah kamu mampu menyatukan dukungan itu secara serempak? Kejelian dan ketepatanmu  memanfaatkan dukungan itu adalah kunci keberhasilannya._

        _Baik paman, nasehat paman benar-benar membuka pikiran dan kesadaranku._

        _ Arok! Paman ingin menghadiahkan dua elmu kadigdayaan. Elmu itu bisa kau gunakan sebagai perisai diri menghadapi lawan yang jumlahnya  banyak seperti di padang Karautan seperti belum lama ini._ (kata ki Sampar angin dengan tenang tetapi cukup membuat Ken Arok terkejut).

         _Terima kasih paman,  begitu besar perhatian paman kepadaku. Tetapi .........apakah aku mampu menjalani syarat tapa brata lelakunya seperti yang sering paman lakukan  ? _ (kata Ken Arok merendah).

        Mendengar  perkataan anak muda itu, Ki Sampar angin tersentuh oleh kerendahan hati anak muda itu, tidak lama kemudian tersenyum dalam hatinya memuji:

“biasanya anak muda seumur dia sangat bernafsu menginginkan elmu kanuragan tingkat tinggi tanpa melihat kemampuan dan kematangan jiwanya. Berbeda dengan anak muda di hadapanku ini, ia berbicara apa adanya, merendah malahan mempertanyakan kemampuan dirinya untuk kuat-tidaknya menerima elmu yang akan aku berikan”.

        Ki Sampar angin menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum  lalu berkata: 

        _ Arok......Arok, ternyata selain kau pemberani juga memiliki sifat rendah hati dan berterus terang.  Dua sifat yang kau miliki itulah yang sebenarnya menjadi syarat utama untuk mempejarinya._

_ Belajar elmu tidak hanya cukup dengan jalan bertapa brata tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana menguasai sifat dan lelaku dari orang yang menuntut atau memiliki elmu itu? Betapa tingginya elmu seseorang kalau pemiliknya tidak memiliki sifat terpuji, maka elmu itu akan menjadi bencana bagi orang banyak dan akan menjadi bumerang dirinya sendiri,  elmu itu akan sirna bersamaan dengan pemiliknya. Ada pepatah yang mengatakan:

Suro diro jayaningrat, suh brastha tekaping ulah darmastuti”,  artinya bagi siapa saja yang bertindak angkara murka walau sakti mandraguna sekalipun, ia pasti akan dapat dihancurkan oleh kekuatan kebenaran yang menjadi hukum kehidupan di alam semesta ini.  Sebaliknya walau elmu itu biasa-biasa saja tetapi kalau diamalkan secara tepat dan dilambari rasa ikhlas, maka ibarat menamam pohon, pohon itu  akan berbuah dan memberi manfaat bagi banyak orang._  (tutur Ki Sampar angin dengan arif).

             _Iya, akan kuperhatikan, Paman!_ (kata Ken Arok dengan wajah tertunduk takzim).

        _ Karena itu kau tidak perlu ragu. Pertama, elmu bayu bajra seperti yang kau saksikan sendiri di hutan Karautan. Kedua, elmu garuda muksa.  Elmu ini kalau digunakan, akan dapat terbang melayang-layang seperti burung garuda  tanpa dapat  dilihat oleh lawan._  (kata  Ki Sampar menjelaskan kegunaan kedua elmunya).
        Pendekar tua itu berhenti berbicara beberapa saat lamanya,  kemudian berkata:

        _ Aku sudah tua, ibarat matahari sudah tergelincir di ufuk barat, sebentar lagi tentu akan tenggelam. Kalau paman meninggal sewaktu-waktu sudah tidak lagi membawa beban.  Itulah  alasanku mewariskan kedua elmu itu kepadamu. Aku menginginkan elmu itu jatuh di tangan orang yang tepat, agar dapat membawa manfaat bagi bebrayan agung._ (tutur  Ki Sampar angin dengan nada haru, tanpa terasa ada setitik air bening berlinang dari sudut matanya yang sudah tampak keriput itu).

        _ Kenapa paman berkata begitu? Bukankan hidup dan matinya  seseorang tergantung dari Yang Maha Agung. Apa namanya tidak mendahului takdir? _  (sahut Ken Arok)

       _Sebagai titah lumrah, tidak ada salahnya paman mempersiapkan diri,   ibaratnya orang akan pergi tidak ada salahnya menyiapkan bekal terlebih dahulu, membersihkan diri, melepas beban-beban duniawi agar sewaktu kembali ke pangkuan sang pencipta sudah ikhlas, keplas, bersih dan terang jalannya._   (jelas Ki Samparangin diiringi tatapan mata penuh arti).

      _ Iya ......., kini aku  mengerti alasan paman._ (sahut Ken Arok diiringi anggukan  kepalanya, hatinya merasa tersentuh oleh kata-kata bijak yang dilontarkan oleh pendekar yang masa mudanya telah tersohor malang melintang di dunia persilatan dengan sebutan pendekar Cakar Rajawali itu. Kini ia mengerti alasan pendekar tua itu menurunkan kedua elmunya kepada dirinya).

_Apa rencanamu sekarang?_ (tanya orang tua itu agak menganggetkan Ken Arok).

Ken Arok sesaat diam sambil wajahnya  tertunduk seperti belum mendapat  jawaban atas rencana  yang ditanyakan Ki Sampar angin.

_ Entahlah, Paman! Sampai saat ini masih belum ada kepastian. Ibarat angin belum tahu arah ke mana  harus bertiup.  Kalau aku menetap di salah satu padepokan sesuai pesan bapa Bango Samparan, aku khawatir cepat atau lambat keberadaanku akan tercium oleh prajurit-prajurit Kediri. Aku tidak mau ada korban tidak berdosa yang  jatuh akibat keberadaanku di tempat itu._  (jawab Ken Arok dengan ekspresi wajah sedih sementara ujung jari tangannya digerak-gerakkan di permukaan meja.).

      _Aku mengerti kegelisahanmu._  (Pendekar tua itu berhenti berbicara sejenak sepertinya  sedang memikirkan sesuatu). Ken Arok pun masih diam termenung sepertinya sedang memikirkan nasibnya sebagai seorang buronan. Hati kecilnya berkata: “jadi buronan, hidup liar tak menentu, berkandang langit berselimut mega, tanpa masa depan yang jelas. Berpindah dari tempat satu ke tempat lain”.  Beberapa saat lamanya, orang tua itu wajahnya tampak cerah sambil tersenyum, berkata:

_Aku sebenarnya dapat saja menitipkanmu ke padepokan Panawijen ataupun  Lohgawe, tetapi bagaimana kamu belajar dengan tenang, hatimu masih dihinggapi kekhawatiran.  Menurutku, masalahmu sekarang ini bukan kemana kamu harus melangkah tetapi bagaimana kau dapat membebaskan dirimu dari kekhawatiran yang menghantui langkahmu itu!_ (kata Ki Sampar angin dengan bijak).

      _Benar........yang paman katakan. Hal itu yang membuatku belum memiliki kemantapan. Ibarat bangau terbang belum tahu ke mana harus menapak.  Menurut paman, bagaimana aku mendapatkan kemantapan hati untuk melangkah?_   (tanya Ken Arok mencurahkan kekalutannya).
           
      _Kekhawatiran dan kegalauan itu disebabkan kamu terbawa hanyut oleh angan-anganmu sendiri. Kamu tampaknya perlu  mengerti makna dari apa yang telah kau lakukan selama ini. Buanglah jauh-jauh  perasaan bahwa dirimu tidak berharga menjadi seorang buronan.  Semasa muda aku juga pernah mengalami menjadi buronan, ketika itu aku diburu oleh prajurit-prajurit Kediri dan pendekar bayaran karena aku menolak bekerjasama dengan pihak kerajaan.  Ketahuilah! Menjadi buronan atau raja adalah permainan nasib. Dapat saja hari ini seorang menjadi buronan besok menjadi raja. Sebaliknya seseorang masih menjadi raja binatara menghiasi singgasana keprabon hari ini, tetapi besok  berganti menjadi buronan. Bukankah kau pernah mendengar riwayat baginda maharaja Airlangga ketika sebelum menjadi raja pernah dikejar-kejar sebagai buronan selama tiga tahun oleh prajurit Wura-wari?_ (kata  pendekar tua itu sambil mengungkap cuplikan riwayat penderitaan mendiang baginda prabu Airlangga).

  _ Iya.....aku pernah mendengar cerita itu. Tetapi apa maksud, Paman ? _ (tanya Ken Arok menegaskan ).

  _Buanglah jauh-jauh beban pikiran yang menghambat langkahmu selama ini, sebaliknya bangkitkan rasa bangga karena kau telah berani berbuat sesuatu yaitu membela orang-orang yang lemah dan teraniaya. Apa kau selama ini tidak menyadari betapa orang-orang yang kau tolong itu sangat bangga dan berterima kasih padamu ?   Itu artinya orang lain menghargaimu, walau kamu tidak mengetahuinya. Keberadaanmu sebagai buronan jangan kau jadikan alasan tidak bisa berbuat sesuatu apalagi menjadikanmu putus asa,  tetapi terimalah dengan hati lapang.  Ibarat orang menanam kebaikan, akan menuai buahnya,  siapa tahu apa yang kau alami saat ini adalah bagian dari serpihan perjalanan hidupmu  yang akan  mengantarkan ke arah  cita-citamu._  (ungkap pendekar tua itu dengan kata-kata arif).

     Mendengar penuturan gurunya, Ken Arok terdiam sesaat tetapi dari wajahnya perlahan mulai tampak cerah, kemudian berkata:

   _Iya.......paman. Kini aku sadar dan  tidak ragu lagi untuk melangkah. Kini terbukalah tabir yang menyelumuti diriku.  Terima kasih yang tidak terhingga, paman telah menyadarkanku dari kekhilafan selama ini. Kalau sebelumnya aku hanya dapat termenung seperti gunung, kini aku akan  bergerak seperti ombak, berlari seperti badai, bangkit melejit laksana tatit. Sekarang ini, ibarat berlayar aku sudah tahu ke mana harus berlabuh, paman._ (jawab Ken Arok dengan wajah berbinar-binar setelah memperoleh kemantapan hati untuk melangkah).

_ Bagus!, Kau masih muda, raihlah cita-citamu setinggi langit !.  Besok pagi mengajakmu ke bukit di sebelah barat itu._ (kata Ki Sampar angin sambil tangannya menunjuk ke arah bukit yang dituju).

_ Iya......paman._

_ Aku akan mengajarkanmu dua elmu yang kujanjikan. Sekarang beristirahatlah! Besok tenagamu sangat diperlukan untuk berlatih._ (kata Ki Sampar angin sambil bangkit dari duduknya kemudian bergegas menunju bilik peristirahatannya).


v            




   Hari berganti pekan. Pekan berganti purnama, tanpa terasa hampir dua purnama Ken Arok menekuni latihan untuk mengusai elmu kanuragan yang diberikan oleh Ki Sampar angin. Perguruan ki Sampar angin di Kedung biru dirasakan sudah menjadi sasananya. Pada suatu malam, Ki Samparangin berkata:

_ Arok!, Paman perhatikan kau telah berhasil menguasai kedua elmu yang kuberikan dengan sempurna (kata pendekar tua itu)

       _Itu semua berkat bimbingan paman._  (kata Ken Arok singkat).
       
        _Tantanganmu ke depan tidak semakin ringan, semoga kedua elmu yang kuberikan dapat berguna untuk jadi perisai dirimu._

        _ Terima kasih, paman. Tetapi ada satu hal yang akan kutanyakan._

        _ Katakanlah!_

  _Beberapa waktu lalu, paman pernah mengatakan bahwa yang terjadi di kutaraja bukan hanya mengendornya semangat di kalangan punggawa dan prajurit, tetapi juga terjadi perubahan lain. _ (kata Ken Arok memotong).

Mendengar pertanyaan Ken Arok,  seketika orang tua itu wajahnya berubah agak menegang. Garis-garis keriput ketuaan di wajahnya semakin jelas terlihat. Pendekar tua itu diam sejenak, kemudian berkata setelah menarik napas panjang:

_Ketahuilah! Di kutaraja juga sedang terjadi perselisihan antara raja dan para brahmana. _  (kata Ki Samparangin terhenti sepertinya mereka-reka ulang kejadian yang dialaminya beberapa purnama lalu ketika menyaksikan peristiwa itu di kutaraja Kediri).

Ken Arok dalam hati berkata: “lebih baik aku diam,  menunggu paman berbicara, mungkin sedang mengingat sesuatu kejadian yang kurang mengenakkan hatinya sewaktu berada di kutaraja”

Suasana diam itu berlangsung cukup lama, hawa dingin disertai angin malam mulai terasa merayap menusuk tulang, sementara suara-suara binatang malam kutu-kutu walang ataba bersahut-sahutan terdengar semakin jelas. Sinar rembulan terlihat redup diselimuti mendhung yang menggelayut seredup suasana malam-malam yang dilewatinya di kutaraja beberapa purnama lalu.

_Ketahuilah Arok! Raja Dhandhang Gendis saat ini mulai melancarkan tuduhan-tuduhannya terhadap kaum brahmana. Mereka dituduh hanya enak-enakan tidur nyenyak terlena di atas karung hasil bumi  yang diterimanya dari kerajaan._

_ Apa sebab baginda menghina kaum brahmana seperti itu?_

        _Kaum brahmana dinilai gagal dalam menjalankan tugas sesuai dharmanya mendidik kawula yang saat ini banyak yang berani melakukan pembangkangan dalam membayar pajak._

        _Bagaimana sikap kaum brahmana menghadapi tuduhan itu?_

          Ki Samparangin diam sejenak, kemudian berkata:

             _Tentu saja mereka sangat prihatin. Tetapi mereka sepertinya tidak dapat berbuat apapun untuk mencegah baginda yang terus-menerus memojokkannya._

        _ Memojokkan bagaimana?_

        _Iya........memojokkan kaum brahmana dan resi untuk menyembahnya!_

        _Menyembah!  Gila!  Benar-benar sudah gila!_

        _ Baginda mengaku sebagai titisan batara._

        _ Hem........benar-benar aneh, Paman. Apa tujuan baginda seperti itu?_

        _Aku sendiri tidak tahu pasti. Tetapi.........paman dengar dari salah seorang brahmana di kutaraja bahwa saat ini sang prabu sedang menghadapi krisis kepercayaan, wibawanya semakin melorot tajam di mata kawula dan kaum brahmana. Oleh karenanya baginda berusaha mengembalikan kewibawaannya dengan cara mengaku dan meneguhkan dirinya sebagai titisan bathara._ 

         Mendengar kata-kata gurunya, Ken Arok tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

          _ Ada apa kau tersenyum?_

          _ Bagaimana tidak tersenyum, paman! Seorang raja yang ingin memperoleh kembali dukungan dari rakyatnya  dengan menggunakan cara mengaku sebagai titisan batara. Itu tindakan seorang raja yang telah gagal. Bagaimana alasan yang tidak masuk akal dan digaib-gaibkan itu dapat diterima!_

          _ Gagal bagaimana maksudmu?_

          _Iya...gagal dalam memahami kebutuhan dan keinginan rakyatnya akhirnya gagal di tengah perjalanan. Mengibaratkan dirinya sebagai titisan batara, ratu adil  dengan maksud kawula dan kaum brahmana kembali taat pada dirinya, itu tindakan bodoh. Aku yakin rencana itu tidak akan membawa hasil malahan akan menuai badai reaksi perlawanan dan pembangkangan secara luas._

         _Kukira pendapatmu masuk di akal! Jadi apa kesimpulanmu?_

        _Baginda sebenarnya telah gagal membawa Kediri ke arah kemakmuran! Di mata rakyat kini pihak kerajaan sudah dinilai sebagai penjarah. Cara-cara menyamakan dirinya sebagai titisan dewa itu adalah cara yang tidak dapat merubah pandangan kawula yang terlanjur tidak percaya.  Kawula alit hanya butuh hidupnya kecukupan, tenteram jauh dari kerusuhan. _ (kata Ken Arok)

        _ Mungkin ada sesuatu yang membuat baginda tidak peka terhadap kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kawulanya._ (sahut Ki Samparangin).

        _ Kukira begitu, tetapi sesuatu itu, Paman!_

        _ Aku tidak tahu. Tetapi belum lama ini aku menerima laporan dari telik sandi yang kukirim ke kutaraja, dikatakan baginda berencana menarik pasukan yang ditugaskannya menumpas kejahatan tatayi yang selama ini kau lakukan._

        _ Menarik pasukan?_

        _Iya...........menarik pasukan!_

        _ Mengapa ditarik ke kutaraja?_

        _ Karena mereka dinilai gagal menangkapmu._

        _ Lalu apa tindakan selanjutnya?_

        _ Kudengar baginda memerintahkan kaum brahmana dan resi untuk meredakan keresahan kawula, menghapus kejahatan tatayi yang kau lakukan._

        _ Gila! Brahmana dan resi ditugasi memadamkan kerusuhan, bukankah itu hal itu tugas prajurit, paman?_

        _Iya. Tetapi paman menangkap ada rencana di balik penugasan yang tidak wajar  itu._

        _ Mungkin juga, tetapi rencana apa, paman?_

        _ Kudengar baginda sengaja menyudutkan kaum brahmana dan resi. Karena itu  diberi tugas yang tidak mungkin dilakukan oleh mereka._

        _Gila! Masak brahmana diperintah memandamkan kerusuhan. Itu kan tugas prajurit, bukan tugas brahmana!_

        _Menurut kabar yang kudengar, baginda kesal terhadap tugas para perwira-perwiranya  yang tidak kunjung berhasil membawa kepalamu.  Kemudian tugas itu diserahkan kepada brahmana. Saat ini Mpu Pamor dan Mpu Sidhara mewakili kaum brahmana dipaksa baginda untuk menghentikan langkahmu. Apabila dalam waktu tiga purnama tidak berhasil, maka seluruh brahmana dan resi  di kutaraja akan dibunuh termasuk mereka yang telah dipenjarakan!._

_ Dibunuh !_ (pekik Ken Arok diiringi wajah merah padam sambil tubuhnya tampak terguncang).

_ Iya.....saat ini hidup kaum brahmana di bawah bayang-bayang ancaman maut yaitu hukuman mati !._

_ Hukuman mati !_ (sahut Ken Arok dengan nada geram).

        _Iya.  Baginda telah memporak-porandakan  tatanan sokoguru kehidupan semesta._

       _ Sewaktu aku bertemu  brahmana Mpu Lohgawe, hal itu juga sempat kutanyakan ? Mpu Lohgawe juga tidak dapat menerima tindakan raja yang merusak tatanan itu. Tidak itu saja seluruh brahmana dan pandita baik dari ring Kasyaiwan,  Kasogatan tetapi  kaum berhaji  pun menolak mentah-mentah perintah itu. Mpu Lohgawe sempat mengatakan setengah berbisik kepadaku bahwa tingkah laku baginda itu merupakan tanda._

_ Tanda apa, paman ?_

_ Tanda akan ada perubahan kekuasaan kutaraja!_

_ Maksud paman ?_

_Akan adanya perubahan tahta di Kediri. Menurut kakang Lohgawe  sudah saatnya berakhir, ibarat matahari sudah tergelincir di ufuk barat dan tertutup kabut tebal, tinggal tunggu saat tenggelamnya. Walau tidak dikatakan secara jelas kejadian apa yang menyebabkan runtuhnya tahta kencana itu._  (jelas Ki Samparangin sambil menggerak-gerakkan tangannya).

Ken Arok diam sambil menunggu, apa yang akan dikatakan pamannya berikutnya, tampak sesekali menarik napas panjang, seperti sedang merenungkan sesuatu. 

_ Arok !. Ketahuilah, kejadian di kutaraja itu erat hubungannya  dengan keberadaanmu._ (kata Ki Samparangin dengan tatapan mata yang penuh arti ke arah wajah anak muda yang duduk bersila di hadapannya itu).

_ Bukankah kemarin hal itu telah paman jelaskan?_ (tanya Ken Arok mengingatkan).

_ Bukan itu yang kumaksud._

   Ken Arok semakin tidak mengerti apa yang dikatakan pendekar tua itu. Tanpa sadar ia menoleh ke kanan dan kekiri perlahan sambil matanya menatap wajah orang tua di hadapannya itu. Kemudian bertanya:

       _ Apa maksud paman? Bukankah tidak bermaksud mirong kampuh jingga melengserkan baginda. _ (ungkap Ken Arok dengan nada agak kesal).

      Ki Samparangin tersenyum mendengar jawaban yang menunjukkan  ketidak mengertian Ken Arok, dalam hatinya berkata: “anak muda ini walaupun punya keberanian dan kecerdikan luas biasa tetapi sebenarnya pikirannya masih polos”. Perlahan orang tua itu mengangkat wajahnya sambil berkata:

   _ Aku tahu, yang kamu lakukan hanya sekedar membela kawula alit, bukan bermaksud memberontak menggulingkan baginda. Tetapi.................. ._

   _ Tetapi apa, paman?_

   _ Maksud paman, perselisihan baginda dengan kaum brahmana dan resi itu adalah peluang bagimu untuk memanfaatkan._

   Ken Arok berpikir sejenak mendengar kata-kata pamannya yang dirasa agak mengejutkan itu. Dalam benaknya masih belum mengerti apa yang dimaksudkan pamannya.
      _ Aku masih belum paham maksud, paman._

      _Dalam situasi ini kamu memancing di air keruh, tepatnya kamu dapat membangun dukungan dari kaum brahmana dan resi yang jelas-jelas dipojokkan kedudukannya oleh baginda._

      _ Iya....paman, aku baru mengerti sekarang._ (jawab Ken Arok singkat terlihat mengangguk-angguk kecil membenarkan alasan pamannya).

         _Tetapi.......ada sedikit kekhawatiranku._ (cetus Ki Sampar angin diiringi perubahan wajahnya menjadi muram).

          _ Kekhawatiran  apa, paman?_  (sahut Ken Arok  tidak sabar).

         _Paman menduga, setelah baginda menerima laporan dari tumenggung  Mahisa Walungan tentang pengejaranmu, maka dengan kembalinya pasukan ke kutaraja selanjutnya raja akan memerintahkan akuwu Tumapel Tunggul Ametung  sebagai orang yang berkuasa di pakuwon Tumapel untuk melanjutkan pengejaran dan penangkapan terhadap dirimu, karena tumenggung Mahisa Walungan dan  prajuritnya  lebih diperlukan di kutaraja daripada meronda di tlatah Tumapel. Kemungkinan kedua, raja memerintahkan Akuwu Tumapel untuk meneruskan perintahnya memaksa para brahmana di tlatah timur ini untuk menyembah raja di Kediri apabila terbukti tidak mampu menghentikan langkahmu.  Hal ini yang membuat risau paman, Arok._ (kata Ki Samparangin).

          _ Kalau Akuwu Tumapel akan melanjutkan pengejarannya kepadaku,  itu terserah mereka. Aku tidak takut.  Tetapi aku tidak bermaksud membuat persoalan baru  dengan punggawa Tumapel, apalagi sampai bermusuhan dengan brahmana. Tetapi menurut perkiraanku, kalau prajurit Kediri saja tidak dapat menangkapku, apalagi prajurit pakuwon Tumapel. Jadi rasanya tidak mungkin baginda memerintahkan akuwu untuk menangkapku !_

          _Jadi apa yang paling mungkin terjadi?_ (kata Ki Samparangin).

              _Aku sendiri tidak tahu, paman! Mungkin para brahmana dari kutaraja yang diperintah baginda itu mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikan perkaraku._

             _Hem.....kasihan kaum brahmana, kedudukannya ibarat di ujung tanduk! Tidak berangkat akan menerima hukuman dari baginda, tetapi kalau melawat ke Tumapel menyelesaikan urusan dengan kamu, hal itu sebenarnya bukan tugasnya._

             _Kalau begitu kita harus  berbuat sesuatu! _ (kata Ken Arok menimpal kata-kata gurunya).

             _ Apa yang akan kau perbuat untuk mereka?_

             _ Yang utama adalah menjaga keselamatannya. Selain itu aku berusaha tidak membuat masalah dengan mereka, niscaya mereka juga tidak akan membuat masalah terhadapku._

             _Mengapa begitu?  Apa alasanmu?_

_Mereka dalam tekanan. Kaum brahmana menjalankan tugas dammanya di bawah bayang-bayang ancaman hukuman. Jadi bagiku yang penting adalah menjaga keselamatannya agar terbebas dari hukuman baginda._

Ki Sampar angin mengangguk-angguk sambil tersenyum, sepertinya ia lega mendengar jawaban muridnya.

_Iya, aku setuju. Para brahmana itu harus ditolong agar terbebas dari jeratan hukuman. Secepatnya kita akan menemui para brahmana di Tumapel untuk membicarakan kedatangan brahmana dari kutaraja. Jangan sampai mereka jatuh terperangkap dalam tugas ini!_

_Kukira itu jalan yang terbaik, paman._ (sahut Ken Arok)

_ Tetapi Arok! .......Paman masih saja bertanya-tanya tentang dirimu._

_ Ada apa denganku,  paman?_

_ Mengapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri, malahan memikirkan kaum brahmana?_
Mendengar pertanyaan gurunya, Ken Arok hanya tersenyum, sesaat kemudian berkata sambil menatap gurunya:

_ Paman, sepintas kedudukan kaum brahmana dan aku tampaknya seperti saling berhadap-hadapan bahkan bermusuhan tetapi sebenarnya tidak._

_ Tidak bagaimana?_

_ Antara aku dan kaum brahmana memiliki kesamaan nasib, yaitu sama-sama jadi orang yang disudutkan oleh kekuasan kutaraja. Kutaraja ingin melenyapkan aku dan memojokkan kedudukan kaum brahmana. Oleh karenanya aku tidak khawatir para brahmana akan mencelakaiku. Tugas damma yang dilakukan tentu bukan melenyapkan aku seperti prajurit, melainkan mendidikku sesuai dengan dammanya._

_ Karena itulah kau membantunya?_

_ Mengapa tidak paman!  Menolong mereka ibarat menanam kebaikan, aku yakin  suatu saat buahnya dapat memberi arti yang sedikit-banyak dapat merubah hidupku kelak._

             _Bagus! Paman bangga dengan tekadmu._  Dalam hatinya memuji : “Anak muda ini selain cerdas dan tanggap juga memilki jiwa membela kaum tertindas, ia lebih mementingkan keberadaan orang lain daripada diri sendiri”.
         Ki  Sampar angin menghela napas panjang, tanpa terasa waktu telah menunjukkan tabuh dua dinihari. Ki Sampar angin berkata:

_ Istirahatlah, Arok. Besok pagi-pagi kita akan ke padepokan Lohgawe. (kata Ki Samparangin sambil beranjak dari tempat duduknya bergegas pergi menuju bilik peristirahatannya). Ken Arok menjawab dengan anggukan kepala, sementara dari dari kejauhan terdengar suara kokok ayam jantan menandakan tidak lama lagi sudah memasuki rantak fajar.  Anak muda itu merebahkan diri di pembaringan dalam biliknya.

v   

   Keesokan harinya, ketika matahari masih sepenggalah tingginya tampak  seekor kuda melesat ke arah timur melintasi jalan kecil di bawah bayang-bayang rerindangan pohon di pinggiran hutan. Sinar mentari menerobos di sela-sela daun menerpa tubuh pemuda yang berada di atas punggung kuda itu.  Di antara suara derap kaki kudanya tiba-tiba anak muda itu mendengar sayup-sayup suara gaduh. Seketika tali kekang ditarik sontak, seketika kuda itu berhenti mendadak.  Perlahan ia memasang telinga dan berkata dalam hati:

   “Aku mendengar adanya suara gaduh. Sepertinya suara pertempuran tidak jauh dari sini. Akan kucoba untuk mendekatinya”.  (kata anak muda itu sambil melompat turun dari punggung kuda kemudian berlari mengendap-endap mendekati suara keributan).

Ketika suara gaduh itu semakin jelas terdengar, anak muda itu berkata dalam hati:

“lebih baik aku menyelinap di semak-semak itu untuk melihat dari dekat siapa orang yang sedang bertempur ”.
       
         _Hah....sebuah pertempuran yang tidak seimbang ! Beberapa orang cantrik dikeroyok oleh sepuluh orang yang kelihatannya bermaksud tidak baik. Di dalam kereta kuda itu terlihat seorang tua berpakaian brahmana dan seorang gadis._  (pekik  anak muda itu tertahan ketika menyaksikan sebuah pertempuran dari balik rerimbunan semak-semak yang tidak jauh dari tempat itu).

           Tiba-tiba anak muda itu dikejutkan suara mengaduh.

  _ Aaahh...........!  Gedebuk-krosak !_  (salah seorang cantrik itu berteriak kesakitan sambil terhuyung jatuh berguling-guling ke tanah menerabas semak-semak. Tendangan keras lawan rupanya tepat  mengenai ulu hatinya). Melihat salah seorang temannya jatuh terkapar, cantrik lainnya mencoba untuk bertahan dari gempuran orang-orang yang berwajah seram itu.  Dalam beberapa jurus pertarungan itu kembali terlihat tidak seimbang, tiga orang cantrik  itu satu persatu mulai terdesak mundur. Melihat lawannya semakin lemah, para begal itu tampak semakin bernafsu untuk meningkatkan serangannya.  Pada suatu kesempatan, ketika salah seorang cantrik tangannya dapat menangkis tendangan lawannya, tanpa disangka salah seorang begal menyerangnya dari belakang dengan tendangan keras mengarah tepat pada tulang rusuk samping yang  terbuka itu , akibatnya:

  _Duuaak !._ (sebuah tendangan begal itu bersarang telak di tulung rusuknya)

  _ Huukk..............!_  (terlihat cantrik itu mulutnya meringis menahan rasa nyeri yang hebat,  langkahnya sempoyongan sementara salah satu tangannya mendekap tulang iganya terasa remuk). Cantrik itu masih mencoba bertahan walau tampak limbung, tiba-tiba salah seorang begal melompat sambil menyarangkan tendangan keras tepat mengenai dadanya. 

_Hiiyaat ......... duug!_

 Cantrik itu terpental ke belakang jatuh berguling-guling dan ambruk pingsan setelah sebelumnya terbatuk-batuk disertai semburan darah segar yang keluar dari mulutnya).

Satu persatu cantrik itu dengan mudah dibuat tidak berdaya,  kini para begal merasa leluasa bertindak. Sambil berkacak pinggang seorang begal tertawa terbahak-bahak menjijikkan. Mata liar begal itu mulai tertarik pada seorang gadis yang masih berada di atas kereta. Dua orang berjalan menghampiri kereta itu.  Tangan-tangan kasar itu kini semakin berani bergerak untuk   menjamah gadis yang berkulit kuning langsat yang duduk bersanding di atas kereta dengan seorang brahmana. Gadis itu meronta, salah satu tangannya mencoba berpegangan tangan orang tuanya yang juga berusaha menahannya dari rebutan tangan begal itu. Ternyata cengkeraman tangan-tangan kasar itu lebih kuat.  Ketika tangan gadis itu berhasil lepas dari tangan orang tuanya, begal itu membethotnya secara paksa turun dari kereta, mulut salah seorang begal itu  tertawa lebar terlihat giginya yang kotor dan menjijikkan,  sementara air liurnya menetes ibarat menemukan santapan lezat ketika sangat lapar, kemudian salah seorang  berkata kepada kawannya:

_ Hee....lihatlah ! Kita akan bersenang-senang dengan gadis ini !_(kata salah seorang begal yang tangannya memegang erat tangan gadis itu). Sementara salah seorang kawannya menyahut:

_ Iya tentu........kita sudah lama kita tidak bersenang-senang ! Hayo cah ayu, aku sudah tidak tahan melihat kecantikanmu!_ (kata salah seorang begal melarak tangan gadis itu disertai hasrat birahi yang memuncak. Sementara gadis itu meronta-ronta tetapi tidak dipedulikan).

Tanpa diduga brahmana yang berada di atas kereta itu melompat turun untuk merebut anaknya yang berada di tangan para begal itu. Ketika orang tua itu berusaha meraih tangan anaknya, tiba-tiba tanpa diduga sebuah tendangan cukup keras bersarang tepat pada dadanya. Orang tua itu jatuh terjengkang sambil menahan rasa sakit, tangannya memegangi dadanya yang terasa pecah. Berbarengan dengan kejadian itu,  ia menjerit sambil meronta sekuat tenaga  melepaskan diri dari cengkeraman tangan begal dan ia berhasil  lepas, seketika ia berlari menubruk orang tuanya yang jatuh terlentang itu.

_ Bapa !. _  (teriaknya diiringi linangan air mata haru tidak tega melihat orang tuanya jatuh terkapar lemah tidak berdaya). Salah seorang begal mendekati brahmana itu, tangan-tangan kasar itu segera meraih kain lembayung pakaian brahmana kemudian menarik dengan sontak sambil berkata kasar:

_ Hei ....orang tua !  Sekalipun kau brahmana..........aku tidak segan menebas  lehermu! Biarkan anak gadismu yang molek itu bersenang-senang denganku! Kau kubiarkan hidup! .....Hoo...hua.....haaaaa!_  (kata salah seorang begal dibarengi tangan kirinya menarik baju brahmana itu sampai tubuhnya hampir terangkat, sementara tangan kanannya mendekatkan pedang di leher orang tua itu, kemudian melepaskannya dengan mendorong ke belakang sambil tertawa keras). Tubuh orang tua itu jatuh terbanting di tanah. Anak gadisnya segera menubruknya kembali disertai tangisan memilukan.

_ Sudahlah nduk,  percayalah Yang Maha Kuasa akan menolong kita,!._ (kata brahmana tua itu dengan nada suara lemah sambil terbatuk-batuk).

_Tetapi keadaan bapa seperti ini !._ (ratap gadis itu menyaksikan keadaan  orang tuanya yang semakin lemah).
   Sesaat kemudian,  ketika gadis itu  membimbing orang tuanya duduk, tangan-tangan kasar itu kembali menghampirinya dan  tiba-tiba menarik lengan gadis itu. Gadis itu kembali meronta berusaha melepaskan diri, tetapi cengkeraman tangan-tangan kasar itu tampaknya lebih kuat. Tanpa disadari di balik semak-semak tidak jauh dari tempat itu, sepasang mata tajam terus mengikuti semua gerak gerik para begal yang semakin brutal tanpa  mempedulikan  jerit-tangis korbannya yang  meronta-ronta hebat.

“Kejadian ini tidak dapat dibiarkan sampai jatuh korban, aku harus segera bertindak!” (geram anak muda itu saat menyaksikan tindak kekerasan dan rudapaksa yang berlangsung).
         Ketika tangan-tangan kasar itu semakin berani menggerayangi tubuh molek, tiba-tiba  terjadi peristiwa di luar dugaan,  mereka berteriak kesakitan.  Tangan mereka seakan-akan terasa tulangnya patah terhantam benda keras yang dilontarkan dengan tenaga yang sangat dahsyat.

          _ Aaah !.......Aduuuh !  (suara teriakan panjang para begal itu tampak kakinya terhuyung  sambil berjalan surut mundur ke belakang tangan kirinya memengang tangan kanannya yang terluka. ).

          Di tengah kesakitan itu, tiba-tiba tanpa mereka duga, sesosok bayangan berkelebat cepat dengan gerakan sulit diikuti oleh pandangan mata,  melesat bagai anak panah menghantam wajah seram para begal itu.

          _ Aduh !.......Aduuuh !  (erang kesakitan para begal ketika jatuh terguling ke tanah).

Sementara beberapa kawanan begal lainnya hanya dapat menyaksikan kejadian yang berlangsung secepat kilat itu dengan wajah terbengong-bengong, salah seorang berkata:

_ Heh......siapa kau! _ (bentak salah seorang begal yang tinggi besar, mukanya ditumbuhi rambut lebat yang tampak kaget terguncang tubuh ketika tiba-tiba melihat kemunculan anak muda yang berdiri  di hadapannya itu).

   _ Itu tidak penting ! Hentikan perbuatan kalian !_ (bentak  anak muda disertai tatapan mata berkilat seperti mata rajawali mengincar mangsa).

_ Haa....haaa..........haaa!  Itu bukan urusanmu, bertahun-tahun hutan ini di bawah kekuasaanku, apa pedulimu ikut campur!, pergilah sebelum kepalamu pisah dengan tubuhmu! _ (ancam orang bertubuh tinggi besar dan menyeramkan itu sambil mengacungkan sebilah pedang ke arah anak muda itu).

 _ Aku tidak akan ikut campur, jika kau tidak menganggu urusan orang lain._ (kata anak muda itu dengan sikap gagah berani disertai tatapan mata dengan sorot tajam berkilat ).

_ Haah.....bedebah!  Banyak bacot, aku mau berbuat apapun, itu sesukaku!  Kau tidak perlu melarangku, kamu toh hanya seorang diri mau apa! (gertak orang berewokan sepertinya pimpinan para begal  itu sambil berjalan mendekati anak muda itu dengan  ujung  pedang diacungkan  ke wajah anak muda).

     _ Aku akan menghentikan perbuatanmu ! _(gertak anak muda itu dengan kata-kata mantap tampak tidak gentar sedikitpun)

_ Huuwaa......haa....haa !  Sombong sekali kau hanya  anak ingusan,   beraninya sesumbar ! Kau hanya seorang diri mau menghadapi kami yang berjumlah lebih dari sepuluh orang! Apa yang kau andalkan !_ (salah seorang begal tertawa dan  menggertak balik, tangannya bergerak  cepat menghunus pedangnya  yang putih berkilat memancarkan pantulan sinar menyilaukan. Pedang itu  dimainkan dengan gerakan berputar-putar turun-naik secara akrobatik untuk menakut-nakuti nyali anak muda yang masih tampak berdiri  mematung).

Anak muda itu hanya tersenyum mendengar gertakan para begal itu sekalipun di bawah ancaman pedang tajam dan terhunus. Ia tampak berdiri tegar tidak tampak gentar sedikit pun, pandangan matanya menatap tajam dan waspada sepertinya tidak menggubris gertakan lawannya.

     _ Aku sebenarnya tidak sudi berurusan dengan brandal tengik macam  kalian! Tetapi kalau kau memaksa,  apa boleh buat, terpaksa akan kuladeni!_  (tantang anak muda itu  sambil berjalan perlahan menghampiri satu persatu begal itu sambil sesekali tangannya menuding  ke arah wajah begal yang seram itu). Pimpinan begal itu dalam hatinya berkata: “luar biasa nyali anak muda ini! dia sama sekali tidak terpengaruh ancaman, tidak mempan gertakan,  sebaliknya kini malahan ganti menggertak! Siapa sebenarnya anak muda ini, dari gerak-geriknya kelihatan memiliki elmu kanuragan yang bisa diandalkan”.

_ Hayo ....kita jajal nyali anak muda ini!_ (teriak salah seorang begal mengajak kawanannya mengeroyok pemuda di hadapannya itu). Seketika begal-begal itu melangkah maju serempak menyerang dengan kibasan pedang yang dimainkan cepat dan liar,  pemuda itu masih tampak tidak bergeming sedikitpun, tidak memperlihatkan tanda-tanda menghindar. Ketika ujung pedang itu tinggal sejengkal dari lehernya, tiba-tiba tubuh anak muda itu dalam sekejap bergerak cepat melenting ke udara, kemudian berputar-putar seperti kitiran kemudian menghilang tidak tampak dari pandangan mereka. Begal yang menyerangnya itupun kaget, pandangan matanya celingukan mencari di mana keberadaan lawannya.  Seketika mereka melangkah mundur sambil pandangan matanya mengamati sekeliling tempat pertempuran itu. Salah seorang begal itu berkata:

     _Kurang ajar!  Ke mana anak itu? Ia bergerak seperti angin,menyambar seperti halilintar dan  menghilang seperti hantu!_ (kata seorang begal sambil matanya masih saja celingukan mencari anak muda yang telah menyerangnya).

_ Huh...biar elmunya tinggi aku tidak takut menghadapinya , hayo kita cari lagi di sekeliling tempat ini!  Hayo!_ (ajak salah seorang yang bertubuh gempal itu yang disahut seorang  temannya sambil berjalan mondar-mandir). Salah seorang berkata dalam hati:

 elmu anak muda itu tampaknya tidak sembarangan, dalam sekejap mata dapat menghilang tanpa jejak!  Pantas dia begitu tenang, apa mungkin anak muda itu hantu atau sebangsa peri? Hihh..mengerikan !  (kata seorang begal yang bertubuh kurus dan berbadan tinggi itu sambil bergidik bulu romanya).

     _Keparat!  Kita kehilangan jejak!._ (umpat salah seorang begal dengan nada kesal setelah tidak menemukan ).

    _ Kalau tidak kita temukan, lebih baik kita bawa gadis itu !._ 
(sahut salah seorang begal lainnya sambil tangannya menunjuk ke arah gadis yang mendekap orang tuanya di samping kereta).

_Benar!  Buat apa kita ngurusi anak setan itu !_ (sahut salah seorang begal yang bergegas menghampiri gadis itu sementara dari mulutnya tampak air liurnya menetes menjijikan ketika menyaksikan betis kuning mulus di balik kainnya panjangnya yang tersingkap).

 _Hayo, kita bawa gadis itu !. Tidak usah meladeni hantu!_ (teriak salah seorang yang bertubuh jangkung tangannya menunjuk ke arah anak  gadis itu).

    _ Hayo, manis!   Jangan menolak!  Kau akan kuajak bersenang-senang menari-nari di atas kenikmatan swargaloka._ (teriak salah seorang begal yang telah membethot lengan gadis yang sedang meronta-ronta itu, sementara tangannya yang satu memegang erat tangan orang tuanya agar tidak terlepas).

   Ketika pegangan itu terlepas dari orang tuanya, gadis ayu semampai itu kembali meronta sampai ikat rambutnya terlepas. Ketika rambutnya yang  panjang dan lebat  itu terurai, tangan kanannya memukul berulang kali wajah begal yang membopongnya secara paksa.  Tetapi pukulan gadis itu tidak digubrisnya sama sekali, malah begal itu tertawa:

 _ Hwaa....haa......haaaa !. Kau tampak lebih cantik dan menggairahkan kalau sedang meronta dengan rambut panjang  terurai seperti ini cah ayu!  Bibirmu yang selalu basah membuatku semakin bergelora!    (kata begal itu diiringi tawa menjijikkan sementara sorot matanya menyiratkan hasrat  yang tidak tertahankan).

_ Lepaskan..............aku ..... manusia rendah!_ (ronta gadis itu sementara tangan-tangan kuat itu menarik tangannya yang ramping).

_ Aduuuhhhhh..................!_  (teriak panjang  dua orang begal yang meruda paksa gadis itu hampir berbarengan mengerang kesakitan, tubuhnya terpelanting tinggi ke udara dan  jatuh berguling-guling beberapa kali  di  tanah). Sementara gadis yang dibopongnya tiba-tiba sudah berpindah tangan di bopongan anak muda itu. Beberapa saat anak muda itu menurunkan gadis itu, kembali pandangannya menatap para begal yang masih mengerang kesakitan. Mereka berusaha bangkit berdiri tetapi rasa kesakitan yang luar biasa itu tidak kunjung hilang, serasa tulang-tulangnya remuk terhantam benda keras yang berat.  Sementara kawanan begal  yang lain hanya dapat terkesima dengan mulut ternganga  menyaksikan kejadian mengagetkan yang berlangsung secepat kilat itu. 

   _Haa !   Hantu itu menyerang kita dengan cara licik!  (kata salah seorang begal kepada yang lain sambil pandangannya menatap anak muda yang menyerang kawannya).

_ Kurang ajar !  kita benar-benar dipermainkan! Awas kau! Kalau tertangkap akan kucincang!_ (sesumbar salah seorang begal sambil  mengacungkan pedang ke wajah anak muda itu).

_ Kau hanya dapat sesumbar!  Tangkap aku kalau bisa!_ (kata anak muda itu sambil melesat secepat kilat hilangnya  dari hadapan para begal).

_ Hei setan keparat ! .......Hayo perlihatkan batang hidungmu! Keluar, jangan sembunyi seperti pengecut !_
Beberapa saat lamanya tidak ada jawaban..............suasana tempat pertempuran itu  kini berubah  diliputi ketegangan.  Kedua begal yang terkapar di tanah itu  kini telah berdiri dengan tertatih-tatih seakan-akan otot bayunya terasa dilolosi, wajahnya tampak memar  hitam legam bekas pukulan,  kemudian  mencoba berjalan  dengan langkah kaki sempoyongan sementara pandangan matanya berkunang-kunang seakan bumi yang dipijaknya akan terbalik, tangannya memegang dadanya, dari mulutnya tampak  mengeluarkan darah segar ketika terbatuk-batuk. Suasana senyap itu tiba-tiba  berubah ketika dikagetkan datangnya hembusan angin badai yang sangat dahsyat  yang berputar mengelilingi para begal, makin lama makin cepat. Para begal itu seperti tidak berdaya ketika tubuhnya tersedot pusaran angin kencang itu. Tampak tubuh mereka berputar cepat berterbangan seperti daun-daun kering, sesaat kemudian angin puyuh itu melontarkan tubuh para begal itu  tinggi-tinggi ke udara dan akhirnya jatuh keras ke tanah setelah menghantam pohon besar di sekitar tempat itu. 
           
_Huaduuh........! (erang beberapa orang begal itu ketika tubuhnya membentur keras pohon Kosambi besar. Sebagian lagi terlempar menerabas semak-semak belukar sampai menimbulkan suara gemrosak ).  

_ Aduuhhh !._  (teriak sebagian yang lain hampir berbarengan). Beberapa orang mencoba untuk berdiri tetapi serasa otot bayunya dilolosi, kekuatannya seperti tersedot habis oleh pusaran angin, tubuhnya penuh dengan luka-luka goresan ranting-ranting kering, sementara napasnya seperti tersumbat   dan sesak  di dadanya seakan mau meledak).

          _ Bedebah!.....Kita dipermainkan seperti kelinci  oleh anak muda keparat itu!_ (kata seorang begal sambil menahan sakit di dadanya dan dari mulutnya tampak darah segar mengalir dari sudut bibirnya).

          _Kali ini kita menghadapi musuh tidak main-main.  Tenaga dalamnya sempurna, kecepatan geraknya seperti halilintar menyambar, pukulannya sekeras palu godam, hempasan angin pengabarannya menjadikan tubuh kita seperti daun kering!  Bagaimana ini ? _ (kata salah seorang kepada kawannya yang tampaknya mulai ragu-ragu mengetahui tingkat elmu kanuragan lawannya jauh di atasnya)

          _Huss........diam kau pengecut! Kita pantang mundur menghadapi lawan setangguh apapun!_ (bentak pimpinan begal itu dengan nada marah).

          _ Bukan ...begitu! Kalau nekat sama artinya dengan bunuh diri! Pulang hanya tinggal nama_(sahut kawan begal  lainnya).

          _ Iya .....kukira kita tidak perlu mati konyol! Kita ini hanya orang suruhan! Buat apa kita menyabung nyawa! _ (sela seorang yang lain dengan nada ketus). Dalam situasi kegalauan itu tiba-tiba kawanan begal itu dikejutkan oleh suara keras bergema seakan-akan merayap memenuhi sudut penjuru hutan:
         
          _ Kalian tadi sudah kuperingatkan tapi rupanya tetap saja bandel! Jika tetap nekat dan tidak segera angkat kaki,  kepala kalian sebentar akan menggelinding ke tanah !._
          Ancaman itu  rupanya membuat beberapa orang kawanan begal nyalinya semakin ciut, bulu kuduknya berdiri, wajahnya tampak pucat, kakinya mulai gemetaran. Pimpinan begal itu melihat perubahan anak buahnya yang ketakutan akhirnya menjadi ragu-ragu, sambil berjalan modar-mandir menghadapi  situasi yang tidak menentu  itu.  Akhirnya  ia berkata kepada yang lain:

          _ Baik ...................kita bubar!  (teriaknya disertai wajahnya bersungut-sungut). Kawanan begal itu akhirnya berhamburan pergi menyelusup di balik semak-semak belukar.

          _ Lihatlah bapa! Orang-orang jahat  itu semua sudah kabur ! rupanya mereka takut dengan ancaman pendekar tadi!_ Brahmana tua yang kini telah berdiri di dekat kereta itu berkata:

          _Iya.......nduk, do’a kita didengar oleh Hyang Maha Agung. Bathara telah mengirim pendekar muda itu untuk menolong kita._ (kata brahmana itu dengan nada tenang sambil terbatuk-batuk).

          Ketiga orang pengawal kereta yang tadi tergeletak lemah, kini mencoba bangun tertatih-tatih sambil tangan kirinya memegang dadanya yang masih terasa sakit. Sementara tangan kanannya berpegangan roda kereta, sambil mencoba berdiri. Ia berjalan merambat perlahan  walau langkah kakinya masih tampak terseok terseok.

         _ Bapa ...hayo kita tolong cantrik itu !_ (ajak gadis itu sambil tangannya membimbing orang tuanya berjalan menghampiri cantrik satu persatu ). Brahmana itu memeriksa luka-lukanya,   sementara anak gadisnya ikut  membantu.  Tiba-tiba pendekar muda yang mengusir para begal itu muncul menampakkan diri, berjalan  dengan tenang mendekati ke tiga cantrik pengawal yang sedang cedera.

 _Biarlah saya menanganinya, bapa !_  (kata anak muda itu sambil berjalan menghampirinya kemudian berjongkok, tangannya dengan cekatan memeriksa luka-luka memar di dada para cantrik pengawal sambil melakukan beberapa totokan ).

 _ Untung lukanya tidak seberapa._ (kata anak muda itu lirih, selanjutnya merapatkan  kedua telapak tangannya disatukan di depan dadanya, dalam sekejap terpancar sinar warna putih keperak-perakan keluar dari sela-sela jarinya perlahan telapak tangan itu disentuhkan ke dada para cantrik itu, terlihat tubuhnya tampak menggeliat menahan rasa sakit beberapa saat akhirnya kembali tenang. Satu persatu pengawal itu dialiri hawa murni yang sudah dilambari tenaga dalam melalui telapak tangan pendekar muda itu.  Terlihat anak muda itu mengeluarkan beberapa butir ramuan yang diselipkan di balik bajunya diberikan kepada para cantrik pengawal sambil berkata).

_ Minumlah ramuan ini, dalam beberapa hari lukamu akan segera pulih kembali._ (kata anak muda itu sambil tangannya  menyerahkan butiran ramuan itu yang diambil dari balik bajunya). Tanpa membuang waktu, ketiga pengawal itu menguntalnya. Tidak berselang lama badannya terasa segar, tenaganya  seperti pulih kembali seperti sedia kala, rasa sakitnya kini sudah tidak terasa  lagi. Mukanya sudah tampak memerah tidak lagi pucat seperti sebelumnya.

        _Terima kasih, tuan pendekar telah menolong kami, akhirnya semua bisa selamat dari berandal itu._ (kata salah seorang pengawal).

        _Sudahlah, jangan dipikirkan._ (jawab anak muda itu singkat).

       _ Anak muda,  kalau boleh tahu, siapa namamu ?_ (sapa brahmana yang berjubah putih itu).

  _Aku ini seorang pengembara, namaku Anggara, berasal  dari tlatah kulon._  (jawab Ken Arok  menggunakan nama samarannya dengan santun).

  _Aku berterima kasih padamu,  kau telah menolong kami semua selamat dari ancaman bahaya. Bagaimana jadinya kalau berandal itu tidak ada yang menghentikan._ (kata brahmana itu sambil memandangi anak muda di hadapannya).

     _ Sudahlah, bapa. Hal itu janganlah dilebih-lebihkan. Sudah menjadi dharma bagi setiap orang menolong sesamanya terutama yang sedang menghadapi kesulitan._ (kata Anggara dengan nada merendah).
Kata-kata yang meluncur dari anak muda itu dirasakan seperti embun pagi yang menyejukkan. Dalam hati brahmana itu memuji:

“tutur kata anak muda ini halus, sopan  dan menunjukkan kerendahan hati, walau elmu kesaktiannya pilih tanding tapi tidak ada satu katapun dari mulutnya yang menunjukkan kesombongan. Dari elmu pengabaran yang digunakan mengusir berandal itu sepertinya aku pernah mengenalnya, tetapi ............siapa pemilik elmu itu ?”._

Sementara itu diam-diam sepasang mata indah ibarat bawang sebungkal itu sekali-kali mencuri pandang ke arah  anak muda yang sedang berbicara dengan orang tuanya itu. Dalam hatinya gadis itu berkata: “Pemuda itu memiki jiwa ksatria, pemberani, suka menolong, sopan dan rendah hati, siapa  sebenarnya anak muda yang menyebut dirinya Anggara ini ?”.

        _ Kalau boleh tahu, bapa ini siapa ? _ (tanya Anggara dengan nada  merendah).

       _Orang-orang menyebutku Mpu Purwa dari Panawijen._

       _ Jadi bapa adalah brahmana Purwa dari Panawijen?_ (sahut Anggara setengah kaget)

       _Benar, kisanak. Akulah Mpu Purwa dari padepokan Panawijen. Tetapi kenapa, kisanak seperti terkejut ?_

       _Eee......tidak bapa. Aku hanya tidak mengira bapa mengalami perlakuan kasar dari para begal tadi._ (kata Anggara berbohong menutupi kata hatinya) Dalam hatinya berkata:
         
          Semula aku ingin berguru pada brahmana Purwa yang kini berdiri di hadapanku ini. Tetapi keadaanku sebagai buronan sepertinya tidak memungkinkan akan menetap belajar di padepokan Panawijen”.

       _ Kisanak! Perkenalkan ini anakku Ken Dedes._ (kata brahmana itu mengakhiri lamunan Anggara).

       _ Oh....iya, bapa._ (kata Anggara setengah geragapan).

         Pandangan mata gadis itu tanpa sengaja bertemu pandang. Sekejap Anggara menatap mata indah itu.  Seulas senyum tersungging dari bibirnya yang merah dan tampak basah itu.  Seketika anak muda itu terkesiap darah mudanya, jantungnya berdebar, hatinya berdesir seperti angin yang melahirkan sejuta rasa keindahan, gejolak mudanya bangkit menyebit-nyebit, keringat dingin tanpa terasa mulai membasahi sekujur tubuhnya.  Anak muda itu dalam hati berkata:

 “Mengapa hatiku terguncang ketika bertemu pandang? jantungku berdetak keras seakan hatiku terampas, darahku bergolak seakan tak kuasa menolak ? Tidak kusangka putri bapa brahmana ini kecantikannya luar biasa dan dari wajahnya memancarkan pesona dan prebawa gaib,  tidak seperti gadis-gadis di kutaraja yang kecantikannya hanya pulasan. Kecantikannya Dewi Supraba dari kahyangan Surendrabawana pun tidak dapat mengimbangi kecantikan dan pesonanya”.

   Ketika anak muda itu masih dipenuhi sejuta lamunan,  tiba-tiba  brahmana yang berdiri di hadapannya itu berkata:

    _Aku beserta para brahmana lain baru saja kembali dari  kutaraja Kediri._ (kata brahmana Purwa).

    _Oh...iya ......bapa._   (kata Ken Arok sambil kaget geragapan  dari perhatiannya terhadap anak gadis itu, sementara  wajahnya terlihat agak tersipu malu).

   _ Maafkan bapa, aku dengar berita tambang rawat-rawat kalau di kutaraja tengah terjadi perselisihan pendapat antara baginda dengan para brahmana ?­_   

   _ Jadi, kisanak  sudah mengetahui hal itu ?._  (sahut brahmana Mpu Purwa setengah  terkejut mendengar pertanyaan anak muda itu. Dalam hatinya berkata:  kalau anak muda ini saja telah mengetahui peristiwa di kutaraja,  itu artinya berita tentang kejadian itu telah tersebar luas sampai  di Tumapel).

   _ Apakah kisanak juga dari kutaraja ?_ (tanya brahmana Mpu Purwa).

   _ Tidak, bapa._ (kata Anggara sambil menggelengkan kepala).

  _  Lalu darimana kisanak mengetahuinya ?_ (kata brahmana tua sambil pandangan matanya menatap wajah anak muda itu).

  _  Dari Ki Samparangin, Bapa!_ (kata Anggara  singkat).
  
      Terkejut brahmana Mpu Purwa mendengar nama Ki Samparangin yang disebut-sebut  oleh anak muda itu. Ki Samparangin atau pendekar Cakar Rajawali adalah sahabatnya sejak muda. Brahmana tua itu menghela napas panjang, kemudian berkata:

              _Jadi, nak Anggara kenal dengan Ki Samparangin !._ (tanya brahmana sambil tangannya menepuk bahu anak muda itu).

                  Anggara menganggukkan kepada, sambil berkata:

  _ Iya ....., Bapa!  Ki Samparangin adalah sahabat orang tuaku Bango Samparan dan juga guruku._ (kata Anggara sambil  matanya sesekali mencuri pandang terhadap anak gadis brahmana itu. Hasratnya  untuk mencuri pandang gadis berkuning langsat itu sepertinya tak kuasa  ditahannya. Merasa ditatap wajahnya gadis itu  tertunduk dan tersipu malu, sementara jari jemarinya yang lentik tidak henti-hentinya sibuk memainkan  kain ujung selendangnya. Gadis itu sedikit gelisah kemudian berjalan menjauh dari orang tuanya ).

      Brahmana Mpu Purwa mengangguk-angguk kecil, kemudian berkata:

  _ Gurumu adalah sahabatku sejak masih muda, usiaku sedikit lebih tua dibanding gurumu, sehingga ia memanggilku “kakang”._

  _Iya..bapa. Paman Samparangin pernah menceritakan persahabatannya dengan bapa semenjak masih sama-sama muda. Kemarin paman berkata kepadaku dalam waktu dekat ini akan menemui bapa brahmana._ (kata Anggara dengan nada santun)

   _ Pantas,  ketika kau mengusir para begal itu tadi aku merasa pernah mengenal elmu kadigdayaan kau gunakan !_ (kata brahmana Mpu Purwa).

   _ Iya.....bapa!  Paman Samparangin menurunkan kedua elmu kanuragan itu kepadaku._ (kata Anggara santun).

    .Anggara beberapa kali mencuri pandang tetapi gadis anak brahmana itu  yang berpura-pura tidak melihatnya.

 _ Hem......hem....  (orang tua itu batuk-batuk kecil).  Seketika Anggara tersadar dari lamunannya).

     Sesaat setelah tenang, Anggara melanjutkan berkata:

 _ Menurutku para berandal yang menganggu perjalanan bapa tadi adalah bukan berandal seperti biasanya, tetapi ada kaitannya  dengan peristiwa di kutaraja ._  (kata Anggara datar).

     Orang tua itu terdiam sepertinya merenungkan perkataan anak muda itu, tetapi apa kira-kira alasannya (teka-teki orang tua itu dalam hati).
             
   _ Apa maksudmu? _ (tanya brahmana tua itu).

   _Iya .....Bapa, kalau mereka perampok sungguhan biasanya yang dijarah adalah para saudagar dan orang kaya. Sebejat apapun kelakuan mereka umumnya masih segan dan menaruh hormat  untuk tidak menganggu para brahmana, karena hal itu merupakan pamali._  (tandas Ken Arok dengan nada mantap).
Brahmana itu mengangguk-anggukan kepala membenarkan kata-kata yang dilontarkan anak muda itu.

   _Kelompok begal tadi tidak lain adalah orang bayaran yang diupah untuk menganggu para brahmana yang saat ini sedang tidak sejalan pendapatnya dengan baginda.  Untuk tidak kentara pihak kerajaan menggunakan orang-orang yang tidak baik itu untuk membegal para brahmana._ (kata  Anggara).
   Mpu Purwa  terdiam sesaat  dalam hatinya tidak mengira pihak kutaraja menggunakan cara-cara yang tidak terhormat seperti yang baru saja dialaminya.

  _Apa  Ki Samparangin sudah mengetahui hal itu?_  (tanya brahmana mpu Purwa). Anggara terdiam beberapa saat, ketika akan menjawab tiba-tiba terdengar suara keras dan lantang yang gemanya memenuhi seluruh sudut penjuru hutan.

  _Iya......kakang......aku sudah mengetahuinya!_ (gema suara itu terdengar begitu nyaring terasa begitu dekat,  tidak beberapa lama Ki Samparangin tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Mpu Purwa). Keduanya segera berangkulan hangat seperti layaknya dua orang saudara yang telah lama tidak berjumpa).

   Brahmana Purwa itu berkata:

   _Angin apa yang membawamu ke sini ?_ (kata Mpu Purwa dengan wajah berbinar menatap sahabatnya itu dibarengi kedua tangannya menggoncang-goncang bahu pendekar tua itu dengan  hangatnya).

   Ki Sampar angin sambil tersenyum menjawab dengan seloroh:

   _ Angin ribut ! Karena di sini dan di kutaraja sama-sama terjadi keributan !_
      Mpu Purwa tertawa berderai mendengar sahabatnya yang piawai bercanda yang sudah menjadi kebiasaannya  sejak masih muda.

      _ Nduk Dedes, beri hormat pada pamanmu !_

      Gadis ayu berkulit kuning langsat, tinggi semampai itu memberi hormat sambil membungkukkan badan seraya menggerakkan kedua telapak tangannya dirapatkan.

      _Pamanmu ini adalah guru besar dunia persilatan di tlatah Tumapel. Mendengar namanya saja, orang akan ciut nyalinya dan lari tunggang langgang, seantero Tumapel ini tidak ada pendekar yang memiliki elmu garuda muksa dan bayu bajra selain pamanmu ini._  (kata  Mpu Purwa kepada anaknya).

      _Kakang ini bisa saja, memangnya kakang tahu seluk beluk dunia persilatan?_ (seloroh ki Samparangin setengah meledek sahabatnya).

      _Dunia persilatan itu adalah duniamu sejak muda,  bukan duniaku._ (jawab Mpu Purwa meneruskan candanya sambil ujung jarinya disodokkan di dada sahabatnya).

      _Lantas selain brahmana, apa dunia kakang?  Bisa-bisanya tahu elmu kanuragan segala. Kalau begitu,  diam-diam kakang juga seorang pendekar ?_ (canda Ki Sampar angin).

      _ Pendekar........pendekar apa?  Satu juruspun aku tidak tahu! _ (balas Mpu Purwa dengan jenaka sambil membeber kedua telapak tangannya).

      _Iya....setidak-tidaknya pendekar bersilat lidah._ (kilah Ki Sampar angin meledek ). Kedua orang tua itu terlihat tertawa berderai, lepas seakan melupakan segala peristiwa gawat yang akhir-akhir ini dialaminya di kutaraja. Sewaktu kedua orang tua itu asyik berbicara, diam-diam Anggara berjalan mendekati Ken Dedes yang berdiri beberapa puluh langkah dari orang tuanya.

      _ Lihat  kakang !  Bapa kalau sudah bertemu dengan paman Sampar angin kebiasaannya  selalu bercanda seperti itu._ (kata Ken Dedes mengawali bicara).

      _ Bapa Sampar angin pernah bercerita padaku, bahwa bapa Mpu Purwa adalah sahabatnya sejak muda. Hanya saja bapa Mpu Purwa sangat tekun belajar agama, sedangkan bapa Sampar angin juga sangat tekun belajar ..........._ (kata Anggara tidak diteruskan).

      Mendengar Anggara tidak melanjutkan ceritanya, Ken  Dedes menoleh dan mendesak untuk meneruskan cerita itu.

      _  Belajar apa, kakang?_

      _Belajar berkelahi !_  (kata Anggara sambil  membisikkan kata-kata itu di telinga Ken Dedes).  Seketika dua anak muda itu tertawa berbarengan dengan suara agak ditahan agar tidak terdengar oleh kedua orang tuanya. Tanpa  sadar jari-jari lentik itu mencubit lengan Anggara. Dengan gurauan dan tatapan mata yang kerap beradu pandang itu tanpa disadari kedua insan anak muda terlihat semakin akrab dan tidak canggung lagi.

      _ Ah........kakang ini sama dengan paman Samparangin, pinternya cuma bercanda melulu._ (canda Ken Dedes sambil tersenyum disertai kerlingan mata yang terasa membelah dada).

Kerlingan mata itu dirasakannya bagaikan pedang yang menghunjam ke dasar ulu hatinya. Tetapi pedang itu terasa tidak menyakitkan melainkan menggugah citarasa keindahan hidupnya yang selama ini terasa kering tandus. Kini dalam sekejap seakan berubah menjadi serba indah  seindah bunga-bunga liar yang sedang mekar di semak-semak hutan itu.  Di tengah-tengah getaran pesona citra putri brahmana itu,  Anggara berkata:

_ Apa menurut Dinda, mengusir berandal tadi juga bercanda?_ (ledek Anggara sambil melirik gadis yang di telinganya tampak terselip sekuntum bunga locari putih itu yang baru saja dipetiknya).

_ Kakang ini bisa saja, kalau bercanda saja para berandal sudah lari tunggang-langgang, apa lagi kalau tidak bercanda ?_ (kata gadis itu membalas ledekan dengan tangkas sambil melempar seulas senyuman dari bibir merah yang menggetarkan).

 Sambil berjalan beriring kedua mata anak muda itu sesekali bertemu pandang, keduanya tersenyum untuk beberapa saat lamanya. Anggara dalam hatinya berkata: “Kenapa jantungku berdebar tidak keruan seperti ini “. Gadis itu sambil berjalan beriringan di tangannya ada setangkai mawar merah yang dimainkan oleh jari-jari lentik yang sesekali diciumnya. Kini tampak tidak lagi canggung lagi seperti sebelumnya. Dalam hatinya gadis itu berkata:  kenapa setelah bertemu kakang Anggara hatiku merasakan getaran halus merayap menguasai seluruh tubuhku serasa dibuai oleh sejuta pesona keindahan”. Kedua anak muda itu sambil terdiam beberapa saat sepertinya sedang hanyut terbawa suasana  dan perasaannya sendiri-sendiri.  Keindahan yang dirasakan saat itu ibaratnya sejuta  untaian kata tidak mampu melukiskan suasana hati kedua insan manusia yang saling terpesona itu.

      Sementara Mpu Purwa dan Ki Samparangin terlihat berbicara semakin serius:

      _Aku dan muridku sebenarnya akan pergi ke Lohgawe dan terus ke padepokan kakang di Panawijen._ (kata Ki Sampar angin).

      _Aku sudah hapal, kemunculanmu pasti ada hubungannya dengan peristiwa di kutaraja ?_ (kata Mpu Purwa menebak)

      _Benar! Saat ini kutaraja menggunakan berbagai cara tidak terhormat  untuk memojokkan kaum brahmana.         Para berandal tadi tidak lain adalah orang-orang bayaran yang disuruh mengacau atau mungkin menculik para brahmana._ (kata Ki Samparangin).

      _ Iya....tadi sempat kudengar dari salah seorang begal secara tidak sadar terlontar kata-kata bahwa mereka hanya orang suruhan yang dibayar._ (lanjut Mpu Purwa menuturkan kejadiannya).

    _ Penyerangan berandal tadi baru sebuah permulaan._ (kata Ki Sampar angin).

     _ Apa maksudmu ?_

    _ Aku menduga pihak kerajaan akan meningkatkan tekanannya dengan cara lain._

     _Iya.......tetapi moga-moga kejadian ini tidak sampai berlarut-larut._  (kata brahmana Purwa sambil mengangguk-anggukan kepala).

     _Aku mengerti cara pandang kakang sebagai seorang brahmana, tetapi perkara kekerasan seperti ini tidak semestinya terjadi! (kata Ki Samparangin dengan nada tekanan suara)

     _ Apa maksudmu ?_ (tanya brahmana Purwa).

     _Kutaraja jelas-jelas akan meningkatkan tekanannya kepada kaum brahmana! Tetapi kakang masih saja tidak mempedulikan!_

    _ Darimana kau tahu ?_

    _ Dari laporan telik sandi yang aku tanam di sana!  Kini baginda menyerahkan masalah kemanan para pemungut pajak kepada kaum brahmana!_

    _ Apa aku tidak salah dengar?_ (kata Mpu Purwa setengah tidak percaya atas penuturan ki Samparangin)

    _ Tidak kakang,  tidak salah dengar!  Kalau para brahmana tidak mampu menyirep daharu yang ditimbulkan oleh Ken Arok atau Anggara muridku itu, mereka akan dihukum gantung di alun-alun manguntur kutaraja dibuat pengewan-ewan !_ (kata Ki Samparangin dengan nada suara mantap sambil tangannya menunjuk pada Anggara).

     _Hem.....masalah ini semakin gawat!_ (kata Mpu Purwa dengan nada termangu, di wajahnya menyiratkan suasana kesedihan).

    _ Sebentar lagi wakil brahmana utusan dari kutaraja akan datang ke Tumapel ini untuk melaksanakan tugas baginda!_

     Mpu Purwa diam termangu seperti sedang memikirkan masalah berat seperti terbayang di pelupuk matanya yang teduh. Kemudian berkata:

    _ Kalau sudah begitu, bagaimana pendapatmu?_ (sahut Mpu Purwa)

_Sebaiknya, kaum brahmana perlu menyusun rencana untuk menghadapi berbagai tekanan yang semakin menyudutkan itu!._ (ungkap Ki Samparangin).

_ Iya...tetapi tidak dengan cara kekerasan!_

_Siapa yang menyuruh kakang untuk menempuh cara kekerasan?_

_Bukan begitu maksudku! Tetapi ...........(kata Mpu Purwa tidak diteruskan)

_ Tetapi apa ?_

_Tetapi,  sejak dahulu kaulah yang  menangani urusan kekerasan!_ (cetus Mpu Purwa setengah meledek sahabatnya disertai gerakan meninju kepalan tangannya di perut sahabatnya).

      _ Memang kuakui, aku memang badung dan tukang ribut. Tapi urusan kali ini lain, kakang._ (cetus Ki Sampar angin dengan wajah serius)

   _ Apanya yang lain _ ? (tanya mpu Purwa)

   _ Karena menyangkut keselamatan orang-orang seperti kakang yang sama sekali tidak pernah berani berkelahi. Jangankan membunuh seorang  lawan membunuh seekor nyamukpun merasa takut dosa dan tak tega._  (ledek Ki Sampar angin ).

 _ Kau ini tetap saja suka bercanda seperti dulu, ternyata kau tidak hanya pendekar dunia persilatan tetapi juga pendekar yang pandai berkelakar!_ (kata Mpu Purwa meledek sahabatnya diiringi derai tawa lepas).

    Sementara dua insan yang tampak semakin akrab itu sekilas melihat kedua orang tuanya ketika mendengar suara tawa kelakarnya. Ken Dedes berkata, setelah memungut bunga puspanyidra berwarna merah yang tumbuh di dekat semak-semak.

  _ Lihat kakang!  Bapa dan paman itu!_ (kata Ken Dedes sambil memainkan kuncup bunga ditangannya).

 _ Apa yang dilihat! Mungkin sudah adatnya begitu sejak muda._ (jawab Anggara sambil menggeleng-gelengkan kepala).

 _Tidak perduli membicarakan masalah gawat sekalipun, bapa dan paman selalu bergurau, tidak pernah kehilangan rasa jenaka._ (kata Ken Dedes nada agak gemas).

   Mpu Purwa dan Ki Samparangin terdiam sejenak sepertinya sedang memikirkan masalah yang dihadapinya. Kemudian berkata:

  _ Aku punya usul ?_ (kata Ki Sampar angin).

  _ Usul apa?_

  _ Untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Para brahmana,  pendeta, resi di seluruh Tumapel perlu segera menyatukan diri dalam satu kata dan tindakan dalam menghadapi ancaman kutaraja. Hal  ini penting agar tidak mudah dipecah belah. Bukankah kakang tahu, di kutaraja kini kaum brahmana terbagi dua kelompok, yang satu berdiri di pihak baginda, sementara yang lain tetap menolak bekerjasama._

   _ Iya.....aku tahu itu._ (kata Mpu Purwa sambil berpikir).

   _Tetapi yang kupikirkan sekarang adalah menyikapi tugas brahmana kutaraja yang membawa perintah baginda._

   _ Kita tunggu perkembangannya, kakang. Tetapi aku akan mengumpulkan para pendekar untuk sama-sama menyatukan diri menjaga keselamatan para brahmana. Ini penting kulakukan untuk mencegah pengaruh kekuasaan kutaraja mempengaruhi para pendekar agar tidak diadu domba, baik  sesama pendekar atau diperalat untuk mengganggu para brahmana seperti kejadian yang baru saja terjadi. Sebab kalau kemungkinan ini terjadi, akan lebih mengeruhkan suasana._  (ungkap Ki Samparangin tentang rencananya).

   _Aku setuju! Kau memang ahlinya kalau urusan begini ini, asalkan................_ (kata Mpu Purwa sambil tangannya menekan perut sahabatnya ).

    _Asalkan apa ?_

    _Asalkan tidak menyuruhku berkelai!_ (kata Mpu Purwa dengan jenaka).

     _Ya....tentu tidak, tetapi  kuminta, kakang menggunakan pengaruh kakang untuk menghimpun mereka. Kakang, jangan enak-enak duduk di padepokan seperti yang dituduhkan baginda terhadap kaum brahmana._  (jawab Ki sampar angin sambil meledek sahabatnya).

     _ Apa kau kira pulang- pergi Kediri –Tumapel sampai dibegal di tengah hutan seperti ini kau anggap enak-enak duduk di padepokan?_

    _ Bukan begitu, kakang._ (kata Ki Samparangin dengan nada merendah)

        _ Baik. Kita segera membicarakannya dengan kakang Lohgawe,   aku akan segera menghubungi para brahmana dan resi yang lain !._

    _ Ya, harus begitu kakang.  Ken Arok akan kutugasi sebagai kurir rahasia sekaligus penghubung antara kakang dengan kakang Lohgawe. Karena aku juga segera bertindak menghimpun para pendekar di tlatah Tumapel._  (jelas Ki Sampar angin sambil menggerak-gerakan tangannya).

    _ Lihat kakang ! Bapa dan paman kelihatannya selesai bicara, kini bersiap-siap pergi !_ (kata  Kendedes).

    _ Hayolah cah ayu ....kita pulang !  Biarkan pamanmu tinggal di hutan ini.  Kau tahu kan? Rumah pamanmu ini adalah kandhang langit -selimut mega._   (ajak Mpu Purwa diiringi isyarat tangan sambil tidak lupa melontarkan sindiran kepada sahabatnya mengiringi langkah kakinya menaiki kereta).

        Ki Samparangin terlihat hanya tersenyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala ketika disindir oleh sahabat karibnya yang sudah sangat kenal watak dan  tabiatnya semenjak sama-sama masih muda.  Ketika derit suara roda kereta itu terdengar, tampak kereta  itu bergerak perlahan meninggalkan tempat itu, pandangan mata Ken Arok  masih terpaku pada gadis di atas kereta itu seakan tanpa kedip. Mengetahui dirinya  diperhatikan,  gadis itu sebentar-sebentar menoleh ke belakang, tangannya digerakkan perlahan seperti memberi isyarat untuk bertemu lagi, seulas senyum dibarengi tatapan matanya dirasakan Anggara mampu mencairkan kebekuan hatinya yang selama ini bagaikan gurun tandus yang tidak pernah tersiram air. Pesona citra putri brahmana itu dirasakan melebihi dahsyatnya anak panah  yang menancap di ulu hatinya. Anak muda itu  kini ibarat terkena  senjata pamungkas tetapi  senjata itu tidak mematikan sebaliknya menggugah rasa manusiawinya melahirkan serpihan-serpihan pesona keindahan yang menggairahkan.  Tanpa sadar ia membalasnya itu dengan lambaian panjang seakan gayung bersambut  sampai kereta itu tidak tampak dari pandangannya menyelusup di balik semak-semak menyusuri jalan kecil ke arah timur menuju desa Panawijen.

   _Arok kita berangkat ke Lohgawe!_  (ajak Ki Sampar angin menyadarkan lamunan Ken Arok).

   _Iya, bapa._ (jawabnya Ken Arok sambil bergerak cepat    melompat ke punggung kudanya, tangannya dengan cekatan menarik tali kekang kudanya dan segera menggebrak lari kudanya. Walau kini sedang berada di punggung kuda, ternyata citra putri brahmana itu masih terbayang-bayang di pelupuk matanya. Pertemuannya dengan putri brahmana Panawijen memberi kenangan sejuta pesona keindahan yang tak terlupakan, seakan terpatri kuat di dasar kalbunya).
v                
Pohon pinang yang tumbuh berjajar di halaman padepokan Lohgawe itu dari kejauhan tampak daunnya bergerak-gerak  tertiup angin, pantulan sinar mentari sore itu menerpa ujung-ujung daunnya. Tampak indah dipandang seperti sedang melambai-lambai menyambut kedatangan dua orang berkuda yang kini memasuki regol halaman. Aroma bunga cepaka yang sedang mekar di halaman depan itu seakan ikut mempersilahkan ke dua orang berkuda itu yang kini sedang menambatkan kudanya di pohon Nagasari yang tumbuh di sudut halaman. Kesibukan murid-murid padepokan itu seketika terhenti ketika melihat kedatangan dua orang tamu yang kini berjalan menuju balai pendapa. Salah seorang murid berjalan dengan langkah terburu-buru menemui kedua orang itu sambil membungkuk memberi hormat.

_Silahkan Ki, bapa brahmana sedang berada di sasana pustaka._ (kata salah seorang murid padepokan  agaknya sudah mengenal salah seorang di antara kedua  tamu itu. Ki Samparangin mengangguk  sambil berjalan menaiki undakan pendapa padepokan diikuti Anggara). 

_Ki,  silahkan menunggu, aku akan memberitahu bapa guru!_ (kata murid padepokan itu sambil bergegas pergi memberitahukan kedatangan kedua tamu itu kepada gurunya brahamana Lohgawe).

_Padepokan Lohgawe ini padepokan besar, muridnya berjumlah ratusan, berbeda dengan padepokan Panawijen yang hanya memiliki beberapa murid saja. Kakang Lohgawe adalah seorang brahmana kaloka dari Jambudwipa yang sengaja datang ke Jawadwipa dengan tujuan khusus._

_Tujuan khusus ? _ (tanya  Ken Arok singkat).

_ Iya._

_ Tujuan khusus apa, Paman?_

_Aku tidak tahu. Kakang Lohgawe pernah mengatakan padaku._

Ken Arok menganggukkan kepala sambil pandangannya melihat sekitar pendapa padepokan yang tampak asri. Ketika murid itu memasuki ruang sasana pustaka,  Mpu Lohgawe sedang membaca parita nada suara pelan. Mendengar ada langkah kaki mendekati sasananya, brahmana Lohgawe menghentikan bacaannya dan mendongakkan pandangannya ke arah pintu.

_ Maafkan,  Bapa guru!  Ada tamu Ki Samparangin dan seorang pemuda, kini sedang menunggu di balai pendapa._  (ungkap murid padepokan itu sambil agak membungkuk).

_ Ki Samparangin !._

_ Iya.......guru._

_Mereka tamu istimewaku !. Siapkan hidangan malam. Katakan aku akan segera menemuinya!_ (katanya kepada murid padepokan yang kini bergegas pergi).

Tidak berapa lama brahmana Lohgawe sudah berada di depan pintu bilik dalam yang menghubungkan pendapa dengan ruang dalam.  Ki Sampar angin berkata spontan:

_Kakang Lohgawe..........!  (sapa tamu itu sambil mengulurkan kedua tangannya saling berangkulan hangat).

_Kedatangan pendekar besar sepertimu pasti mengejutkan! _(kata brahmana itu menatap sahabatnya setelah melepaskan rangkulannya),  Kedua orang itu wajahnya tampak berbinar sambil melepas kerinduan).

_Ah bisa saja kakang ini, bukankah keterkejutan kita sudah habis! _  (kata Ki Samparangin bercanda).

_ Lho........habis bagaimana?_

_Karena sudah diambil alih oleh kutaraja. Kekuasaan kutarajalah yang kini membuat kita semua terkejut-kejut._ (canda Ki Samparangin diiringi gelak tawa berderai).

_ Hayo.........silahkan duduk!_ (kata brahmana mpu Lohgawe mempersilahkan).

_ Terima kasih, kakang._

       _Pantas, semenjak pagi burung prenjak ngganter bersahut-sahutan di pagar depan padepokan,  tidak tahunya ada pendekar besar yang datang._ (kata Mpu Lohgawe berbasa-basi).

       _ Ah.......kakang ini tetap saja suka menyanjung. Kakanglah seorang brahmana besar yang kaloka seantero Nuswantara dan Jambudwipa!_

       _Kau ini selalu merendah padahal orang mendengar namamu saja sudah mengkeret lari tunggang-langgang. Kedatangan pendekar besar sepertimu pasti membawa berita besar._

_Tidak juga kakang,  yang besar bukan pendekarnya tetapi masalahnya._ (balas ki Samparangin disambut tawa berderai).

_ Bagaimana kabar dari kutaraja?_

_Aku mendengar berita tambang rawat-rawat, baginda memerintahkan para brahmana kutaraja untuk menyirep daharu di Tumapel._

      Brahmana tua itu terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian berkata:

      _ Dari mana adi Samparangin mengetahuinya?_

      _Dari kakang Mpu Purwa yang baru saja pulang dari kutaraja. Sepulang dari kutaraja secara tidak sengaja bertemu denganku di tengah perjalanan ketika diganggu oleh para begal._

      _ Dicegat oleh begal?_

      _ Iya...kakang. Rupanya begal itu hanya orang-orang upahan._

      _ Lalu, bagaimana keadaan adi Purwa saat ini ?_ (lanjut Mpu Lohgawe bertanya).
          _ Kakang Mpu Purwa selamat tidak kurang satu apapun, Hyang Agung masih melindunginya.  Muridku ini yang mengusir begal itu._  (kata Ki Sampar angin sambil menoleh ke arah anak muridnya untuk diperkenalkan Mpu Lohgawe).
         
          Mpu Lohgawe terdiam sesaat, kemudian mengangguk-anggukan kepala dan berkata:

          _ Ketahuilah! Sepulang dari kutaraja, aku juga diganggu oleh sekawanan orang tidak dikenal di hutan Panitikan. Mereka tiba-tiba menyerangku. Untungnya aku dikawal oleh murid-murid padepokan._ (kata Mpu Lohgawe menceriterakan kejadian yang dialaminya).

          _ Haah.........jadi kakang Lohgawe juga mengalami kejadian serupa  !._ (tanya ki Sampar angin terkejut). Mpu Lohgawe menganggukkan kepala.

          _ Kalau begitu aku semakin yakin orang-orang tak dikenal itu adalah orang suruhan untuk menekan para brahmana. Kukira ini baru gangguan awal!. _ (tandas Ki Sampar angin dengan wajah yang sedang menyimpan kejengkelan).

          _Syukurlah aku dan adi Purwa masih diberi pengayoman oleh Bathara. Sebagai seorang brahmana, aku hanya berharap hubungan antara baginda dan para brahmana pulih kembali seperti sediakala. Baginda tidak lagi memaksakan kehendaknya, memojokkan kaum brahmana.  Kuharap berbagai bentuk tekanan kutaraja dapat segera reda dan berakhir._  (kata Mpu Lohgawe dengan wajah teduh tetapi penuh harap). 

          _Untuk mengakhiri gara-gara seperti saat ini tidak cukup dengan harapan seperti itu, kakang!._ (kata Ki Sampar angin setengah bercanda).

              _ Maksudmu apa ?_ (tanya Mpu Lohgawe setengah meminta penjelasan)

              _Kalau aku tidak begitu!  Setiap bentuk  kekerasan, ancaman dan gangguan harus dibalas dengan kekuatan yang dapat menghentikan tekanan itu, biar mereka memperhitungkan kekuatan kita!._ (kata ki Sampar angin tegas).

          _ Iya aku dapat memahami pendapatmu sebagai seorang pendekar! Tetapi para brahmana tentunya mempunyai kebijaksanaan tersendiri untuk menyelesaikan masalah ketengangan dengan kutaraja. Bukan brahmana disuruh bertarung seperti pendekar !._  (kilah Mpu Lohgawe sambil berkelakar).

          _ Iya .....tentu saja tidak. Masak ada brahmana menyabung nyawa bertarung seperti pendekar, paling hanya ........(Ki Sampar angin sambil tersenyum menirukan sikap layaknya brahmana dengan merapatkan ke dua telapak tangannya di depan dada).

              _ Kau ini sejak dahulu tidak pernah sepi dari bercanda. Hei anak muda! Gurumu ini duhulu pengin jadi brahmana, tetapi karena terlalu berbakat ribut akhirnya menjadi pendekar._  (kelakar Mpu Lohgawe sambil pandangannya tertuju pada Ken Arok).

_Iya ...tapi kalau dihitung jatuhnya sama saja!_ (sahut Ki Sampar angin)

_ Sama saja bagaimana?_

_ Iya!  Walau aku bukan brahmana tetapi membantu brahmana. Jadi cukup jadi pendekar saja, tidak perlu lagi jadi brahmana! Toh sama saja. Coba kalau tidak ada pendekar sepertiku, siapa lagi yang akan membela para brahmana!_ (balas Ki Sampar angin dengan kelit yang  tidak kalah tangkas).

_Kau ini memang mahir dalam bersilat lidah!_ (kata Mpu Lohgawe diiringi derai tawa panjang, janggutnya yang ditumbuhi rambut  putih itu bergerak-gerak).

Ken Arok hanya tersenyum-senyum mengetahui kedua orang tua itu yang menyelingi pembicaraannya dengan canda-tawa segar. Dalam hatinya berkata: “Bapa brahmana Lohgawe yang namanya terkenal seantero Tumapel dan Kediri ternyata orangnya bisa kocak,  suka bercanda seperti orang kebanyakan,  tidak seperti kugambarkan sebelumnya”.

_Kakang,  muridku ini adalah anak kakang Bango Samparan. Namanya Ken Arok, tetapi berhubung dikejar-kejar oleh prajurit Kediri menggunakan nama samaran Anggara. Nama itu  yang dipakai sebagai nama pengembaraannya selama ini._ (jelas Ki Sampar angin).

          _Haah....!  Apa aku tidak salah dengar?_(sahut Mpu Lohgawe terkejut).

          _Tidak kakang! Dialah Ken Arok yang sepak-terjangnya menggegerkan singgasana kutaraja._

          Brahmana tua itu menatap tajam wajah Ken Arok, diamati satu persatu anggota badannya. Kemudian berkata:

          _ Berdirilah, anak muda!_

          Ken Arok terlihat bingung tidak mengerti apa yang dimaksud Mpu Lohgawe, tetapi ia tetap mencoba berdiri seperti yang diminta. Brahmana tua itu pandangan matanya tidak berkedip mengamati sekujur tubuh mulai ujung kaki sampai ujung rambutnya. Sesaat kemudian brahmana itu tampak kepalanya mengangguk-angguk kecil yang maksudnya tidak dimengerti oleh Ken Arok dan Ki Samparangin. Kemudian berkata meminta sesuatu.

          _Boleh aku melihat telapak tanganmu ? _ (pinta Mpu Lohgawe).

          Ken Arok tampak tertegun mendengar permintaan brahmana itu. Ia masih diam terpaku,  tidak  segera  mengulurkan kedua telepak tangannya karena dalam benaknya diliputi keragu-raguan. Pandangannya diarahkan kepada Ki Samparangin seperti meminta pendapatnya. Ki Sampar angin menganggukkan kepalanya sebagai bahasa isyarat setuju  menuruti apa yang diminta brahmana tua itu. Kemudian Ken Arok perlahan mengulurkan kedua telapak tangan.

          _ Heemm ...............tidak salah lagi !._ (kata Mpu Lohgawe disertai wajah yang berbinar-binar, kepalanya yang ditumbuhi rambut pendek hampir pelonthos itu tampak bergerak manggut-manggut sambil tersenyum).

          _ Apa maksud, kakang ?_ (tanya Ki Sampar angin dengan nada tidak mengerti ).

          _Rajah Kalacakra dan tutup kerang!_ (kata Mpu Lohgawe lirih).

          _ Apa maksudnya?_ (kata Ki Samparangin sambil menatap sahabatnya dengan pikiran menduga-duga).

_ Aku belum dapat mengatakannya sekarang, tetapi aku yakin sesuatu bakal terjadi!._ (kata Mpu Lohgawe menyakinkan).

         _ Iya........aku lupa kalau kakang tidak hanya seorang brahmana tetapi juga ahli nujum!  Apa yang kakang ketahui tentang muridku ini ?_  (kata Ki Sampar angin dengan nada agak mendesak).

Brahmana tua itu diam sesaat sepertinya sambil berpikir memilih kata-kata yang tepat untuk tidak membuka rahasia semesta yang masih kineker gaib.  Kemudian berkata:

          _Iya........roda sejarah akan berputar sesuai kehendaknya sendiri ! Tidak akan ada yang bisa mengelak!  Hanya itu yang bisa kukatakan!_

          _Lalu apa hubungannya dengan Ken Arok ?_

          Brahmana tua itu  kembali termenung sepertinya sangat hati-hati dalam mengungkap sesuatu rahasia yang masih tertutup tabir misteri itu. Kemudian berkata dengan bahasa kiasan:

          _ Muridmu adalah bagian dari sejarah, ia akan memutar roda sejarah itu._

          Pendekar tua itu tampak terdiam seperti sedang berpikir untuk menangkap makna di balik kata-kata bersayap yang diucapkan sahabatnya itu.

          _ Kenapa Ken Arok yang harus memutar ?_

         _ Sudah kukatakan tadi, tidak ada orang yang bisa mengelak dari tugas ini. Karena hanya dia yang berani melakukan dan roda itu memang sudah saatnya berputar._

        _ Apakah ada banten yang tergilas roda itu ?_

        _ Aku tidak bisa mengatakannya._

        _ Apakah orang yang memutar dapat mengendalikan arah jalannya?_

        _ Aku tidak tahu._ (katanya sambil menggelengkan kepala)

        Ki Samparangin sesaat terlihat manarik napas panjang sepertinya mulai mengerti maksud di balik kata-kata perlambang yang diungkapkan brahmana itu.

        _ Kakang dan aku ada di mana ?_

        _Kita hanya saksi sejarah, bukan pelaku yang menorehkan tinta sejarah._

        Kini pendekar tua itu tampak manggut-manggut. Kemudian berkata:

        _Tetapi Ken Arok kini buronan nomor satu!_ (kata Ki Samparangin memancing).

        _Tidak selamanya begitu, waktu dan berputarnya roda sejarah akan mengubahnya._

        _ Mengubah jadi apa ?_

        _ Duta adil._

        _ Duta adil ?_

        _Ya duta adil yang akan menghentikan keangkara-murkaan._

        _ Apakah akan berhasil ?_

        _ Aku tidak dapat mengatakan sekarang. _ (kata brahmana Lohgawe sambil menggelengkan kepala)

        _ Mengapa ?_

             _ Itu bukan kekuasaanku._

             _ Siapa yang dapat mengatakan ?_

     _Tidak perlu dikatakan, nanti semua orang akan tahu  dengan sendirinya._ (brahmana itu menghentikan kata-katanya sejenak)

     Ketika pembicaraan terhenti sejenak, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang murid padepokan berjalan memasuki balai pendapa. Setelah  menghadap  gurunya ia berkata:

        _ Maafkan kami menghadap tanpa dipanggil, bapa._ (kata salah seorang murid itu sambil badannya membungkuk memberi hormat kepada Mpu Lohgawe).

        _ Ada apa lagi?._ (kata  Mpu Lohgawe sambil menatap murid yang datang).

        _Ada tamu dari kutaraja ingin bertemu, bapa ._

        _ Siapa ?_ 

 _ Mereka mengaku brahmana dari kutaraja._

 _ Persilahkan masuk !._

      Mpu Lohgawe dan Ki Samparangin bersiap menyambut ketiga orang brahmana dari Kediri, Brahmana Mpu Pamor, Mpu Sridhara dan Mpu Kuturan.

      _Silahkan.......silahkan!_ (kata Mpu Lohgawe menyambut tamunya).

      Setelah sejenak berbincang hal-hal ringan, brahmana Mpu Pamor mulai membuka pembicaraan:

      _Kami datang jauh-jauh dari kutaraja mau mengadukan persoalan kepada kakang._

      _ Persoalan apa ?_ (tanya Mpu Lohgawe).

      _Saat ini seluruh pasukan di Tumapel ditarik pulang ke kutaraja._

      Ki Samparangin pandangan matanya menatap Ken Arok  sebaliknya Ken Arok juga menatap gurunya, karena sebelumnya sudah mendengar berita itu dari telik sandi yang dikirimnya.

      _ Apa hubungannya dengan kita ?_ (lanjut Mpu Lohgawe bertanya)

          _Ada kakang ! Tugas prajurit itu kini digantikan oleh para brahmana ! Saat ini aku, adi Sridhara dan kakang Kuturan dibebani tugas oleh baginda untuk memadamkan kerusuhan yang dilakukan oleh Ken Arok. Sebenarnya ini bukan tugas kami tetapi apa boleh buat. Apabila  dalam waktu tiga bulan ini kami tidak dapat menyelesaikan tugas ini, maka seluruh brahmana di Kediri dan Tumapel akan dipaksa menyembah baginda atau dihukum pancung di alun-alun kutaraja jika menolaknya!_

      _Jadi berita tambang rawat-rawat yang kudengar beberapa hari terakhir ini benar?_

      _ Iya, benar kakang._ (sahut Mpu Kuturan)

      _Kurasa itu bukan tugas tetapi sebuah perangkap!_(sergah Mpu Lohgawe dengan wajah kesal).

      _ Perangkap!_ (tanya Mpu Sridhara).

          _Iya, perangkap yang sengaja dipasang untuk menjebak kita! Ditariknya pasukan mundur dari laladan Tumapel itu hanya suatu siasat. Kemudian baginda bermaksud memojokkan brahmana dengan  diserahi tugas ini.  (kata Mpu Lohgawe).

          Seketika  brahmana dari kutaraja itu wajahnya tampak terperangah mendengar kata-kata itu, mereka saling berpandangan satu sama lain, sepertinya bingung dan tidak menduga sebelumnya. Suasana tegang menyelimuti balai pendapa padepokan Lohgawe malam itu. Beberapa saat para brahmana itu diam termangu sepertinya larut dalam pikirannya sendiri-sendiri. Mpu Lohgawe menarik napas tampak sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Ki Samparangin memberi isyarat pada Ken Arok dengan kerdipan mata, keduanya tampak tenang di wajahnya tidak terkesan gugup ataupun tegang.

          _Sepertinya  baginda sudah tidak memberi pilihan pada kita!  Memberi perintah yang bukan tugas kita!_ (kata Mpu Sridhara).
            
          _Benar, kakang! Kita tidak punya pilihan lain. Kita dipojokkan. Kutaraja sebenarnya hanya menginginkan Ken Arok menghentikan perlawanannya terhadap punggawa Kediri terutama para penarik pajak. Baginda tidak mau kehilangan muka dan sumber pendapatan kerajaan dari pajak yang akhir-akhir ditolak oleh para kawula._ (timpal Mpu Kuturan).

          _Bagaimana pendapat kakang Lohgawe?_ (kata Mpu Sridhaya).

         Mpu Lohgawe menarik napas sambil mengangkat wajahnya, terdiam sesaat sepertinya sedang berpikir, kemudian perlahan berkata:

          _Brahmana harus tetap menjadi brahmana yang berjalan di atas dammanya, bukan seperti prajurit._

          _ Maksud kakang?_

             _Kita harus menafsirkan tugas ini bukan dengan cara memerangi Ken Arok seperti prajurit,  melainkan mendidiknya. Kalau cara ini kukira masih sesuai damma. Tetapi tetap harus diingat, tugas ini hanya sebuah perangkap yang bertujuan memperdayai kita!_ (kata Mpu Lohgawe dengan suara agak menekan).
             Ketiga brahmana kutaraja itu mengangguk-anggukan kepala hampir berbarengan tanda sepakat pendapat Mpu Lohgawe.

      _Lantas kita harus berbuat apa, kakang?_ (kata Mpu Pamor bertanya setengah mendesak kepada Mpu Lohgawe).

      _Itulah yang perlu kita bicarakan saat ini!_ (kata Mpu Lohgawe).

      Brahmana dari Jambudwipa itu diam sejenak, terlihat jari-jari tangannnya bergerak-gerak seakan mengikuti pikirannya yang sedang bergulat, kemudian berkata:

      _Kukira untuk menghentikan perlawanan Ken Arok terhadap punggawa Kediri itu tidak mudah, sekalipun  kaum brahmana yang melakukan._ (kata Mpu Lohgawe).

      Para brahmana kutaraja itu berusaha memahami maksud di balik kata-kata Mpu Lohgawe. Mpu Lohgawe melanjutkan:

      _ Bagaimana adi Samparangin, kau adalah gurunya ?_

      _Terserah kebijaksanaan kakang saja, asalkan muridku jangan dipojokkan._ (kata Ki Sampar angin dengan nada ringan).

      _Ketahuilah! Anak muda yang duduk bersama Ki Sampar angin ini adalah Ken Arok._ (kata Mpu Lohgawe)

      _Ken Arok!_ (sahut ketiga brahmana kutaraja itu hampir berbarengan)

      _ Iya......dialah Ken Arok!_

      Ketiga brahmana kutaraja itu seketika kaget dan tercengang, melihat Mpu Lohgawe menyebut nama anak muda yang duduk tidak jauh dari tempatnya ternyata adalah Ken Arok yang selama ini menggegerkan kutaraja Kediri.  Ketiga brahmana itu sekilas memandang wajah Ken Arok dengan pandangan mata  tidak senang. Mpu Pamor dalam hatinya berkata: “anak muda ini yang membuat kaum brahmana terkena sasaran fitnah dari baginda”.  Kemudian ia berkata:

      _Jadi anak muda ini yang bernama Ken Arok !._ (kata Mpu Pamor sambil menatap wajah Ken Arok)

             _ Iya.......... ada apa bapa ?_ (sahut anak muda itu).

      _ Sungguh aku tak menyangka  bertemu denganmu di sini. Ketahuilah........namamu telah menggoyahkan sokoguru balai agung kedaton Kediri! Akibat ulahmu kaum brahmana terkena fitnah dan samun sakal perkara seperti ini!  (kata Mpu Sridhara setengah menuduh).

      _Sebentar, kakang Sridhara! Kau sepertinya menyalahkan muridku yang tidak pernah bersangkut paut perkara dengan brahmana._ (sahut Ki Sampar angin)

      _Tetapi kenyataannya, akibat sepak-terjang muridmu, kami semua ikut terlibat!_ (kata Mpu Sidhara dengan nada jengkel)

      _ Kau dapat saja menuduh Ken Arok bahkan siapapun, tetapi ingatlah! Di balik tuduhanmu itu, kau tidak pernah tahu sendiri,  bagaimana kekejaman dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh prajurit dan anak buah demang penarik pajak terhadap kawula alit? Kalau Ken Arok membela mereka, apakah itu salah? Coba pikirkan!  Apa yang telah kakang perbuat selama ini terhadap kawula alit yang hidupnya tanpa bergantung pada siapa pun ?

      Suasana pembicaraan di balai padepokan itu terasa tegang dan memanas,sepertinya kata-kata Ki Sampar angin dirasakan seperti tamparan keras oleh brahmana kutaraja yang kebiasaannya gampang menyalahkan orang lain, tetapi sama sekali tidak menyadari bahwa  hidupnya bergantung pad pemberian baginda. Mpu Sidhara dalam hati merasa tersulut api bahwa hidupnya selama ini dianggap bergantung pada belas kasihan baginda, tampak wajahnya merah padam menahan gejolak amarah.
      _Cukup! Kita tidak perlu bertengkar. Penyelesaian perkara ini tidak akan selesai kalau hanya jadi bahan pertengkaran._ (kata Mpu Lohgawe meredakan pertengkaran)

      Ketiga brahmana kutaraja itu diam sambil mukanya tertunduk ketika ditegur Mpu Lohgawe. Suasana lengang itu berlangsung cukup lama. Dua orang pelayan masuk balai pendapa membawa minuman dan sejumlah jajanan yang kini ditaruh di dekat para tamu masing-masing.

      _ Hayo ....diminum dulu!_ (kata Mpu Lohgawe mempersilahkan tamunya)

      _ Terima kasih, kakang._ (kata Ki Samparangin).

      _Adi Pamor, sebaiknya kau berbicara sendiri dengan Ken Arok. Bukannya tadi sudah kukatakan bahwa cara yang kau tempuh harus disetujui terlebih dahulu oleh Ken Arok._

      _Kakang Lohgawe, kalau tadi kedatangan kami hanya mengadukan perkara tugas, kini kuminta kakang bisa menengahi perkara ini._ (kata Mpu Sridhara)

      Mpu Lohgawe hanya diam termenung mendengar bahwa dirinya diminta untuk menengahi perkara brahmana dengan Ken Arok.

      _ Mengapa tidak kau lakukan sendiri?_

      _Kami tidak banyak tahu tentang kemungkinan cara yang terbaik yang dapat ditawarkan kepada Ken Arok._

      _ Baiklah, tetapi aku minta syarat._

      _ Apa syaratnya, kakang?_

      _ Kita harus bersatu dalam perbedaan._

      _ Maksud kakang, apa ?_

      _ Ketahuilah! Tugas kalian tidak akan berhasil tanpa kerjasama dengan Ken Arok. Jadi seandainya ada perbedaan pendapat antara kalian dan Ken Arok nanti, maka yang diperlukan adalah semangat untuk menemukan titik temu itu, bukan saling berlawanan atau memaksakan kehendak._

      _ Mengapa begitu, kakang?_

      _Ketahuilah!, pihak brahmana dan Ken Arok sebenarnya memiliki kesamaan. Ken Arok diburu oleh kutaraja sedangkan kalian juga dipojokkan. Jadi bagi kita yang penting menyadari kedudukan masing-masing. Apapun yang dilakukan oleh brahmana tidak akan sia-sia jika ditolak Ken Arok. Begitu pula sebaliknya, apa yang diinginkan Ken Arok tidak akan berhasil jika tidak disetujui brahmana._

_ Baik, kakang. Kami menyerahkan perkara ini kepada kakang.  (kata Mpu Pamor).

      _Sekarang kita santap malam dahulu. Sehabis itu kita  beristirahatlah, besok pagi kita lanjutkan pembicaraan kita._

v                   

      Keesokan harinya ketika mentari sepenggalah tingginya, tampak ketiga brahmana kutaraja sudah duduk di balai pendapa padepokan, sementara Mpu Lohgawe berjalan dari ruang butulan menuju balai pendapa diiringi Ki Samparangin dan Ken Arok. Setelah beberapa saat bercengkerama, Mpu Lohgawe berkata:

      _ Adi Pamor, Sridhara dan Kuturan. Semalam aku berpikir untuk mencoba menemukan jalan tengah terbaik yang bisa kita lakukan untuk mengakhiri kemelut ini. Membolak-balik cara satu ke cara lain ternyata kutemukan jalan tengah yang kurasa tepat._

      _ Katakan, kakang!_ (kata Mpu Kuturun tidak sabar).

      _ Untuk mengakhiri kemelut perkara ini, kurasa memerlukan bantuan dari Akuwu. Akuwu adalah wakil baginda di Tumapel. Keterlibatan akuwu dalam penyelesaian kemelut ini kurasa tepat, karena akan menjadi saksi kesungguhan para brahmana menyelesaikan perkara ini._
      _ Bagaimana jelasnya, kakang?_ (kata Mpu Pamor)

      _ Kita akan menghadap akuwu untuk sudi menerima Ken Arok sebagai pasukan pengawal dengan syarat Ken Arok bersedia menghentikan segala perlawananannya kepada kutaraja. Selama itu kita akan membimbingnya secara mental sesuai damma para brahmana._

      Ketiga brahmana kutaraja itu terdiam sejenak, sepertinya sedang menimbang pendapat yang diutarakan Mpu Lohgawe. Sesaat kemudian Mpu Lohgawe berkata:

      _ Apakah kalian setuju dengan pendapatku?_

      _Kurasa pendapat kakang Lohgawe cukup masuk akal. Hemm ..........kami setuju kakang._ (kata Mpu pamor).

      _Bagaimana Arok ?_ (kata Mpu Lohgawe sambil menatap anak muda itu)

      _ Maaf bapa, kalau disuruh menjadi pengawal Akuwu, aku tidak mau!_

      _ Mengapa kau menolak?_ (kata Mpu Lohgawe, sementara ketiga brahmana lainnya tanpak terkejut dengan jawaban itu)

      _ Aku lebih baik hidup bebas seperti ini, kecuali kalau ada imbalannya!  Kalau aku mau,  apa imbalannya?_(kata ken Arok dengan tenang).

      _ Tentu! Pasukan kutaraja tidak akan mengganggumu lagi._

      _ Itu bukan imbalan, bapa!  Aku tidak pernah takut pada pasukan kutaraja._

      _ Tetapi bukankah mereka jadi persoalan bagimu selama ini ?_

      _ Tidak bapa, karena  saya bisa mengurusnya sendiri  !._

          _ Kau tidak perlu pusing-pusing lagi kalau setuju menjadi pengawal Akuwu._

        _ Maaf bapa, bagi saya imbalannya bukan itu, karena apa yang dilakukan prajurit itu sama sekali tidak memusingkan saya. Malah sebaliknya mereka kubuat pusing dengan tindakan yang kulakukan selama ini!._

        _ Kalau begitu, maksudmu apa ?. Katakan!_

        _ Saya minta imbalan lain !._

        _ Hayo katakan saja !._ (desak Mpu Lohgawe).

        _ Pertama, yang diangkat sebagai pengawal bukan hanya saya tetapi dengan seluruh anak buah saya yang sampai saat ini masih tersebar belum sempat saya himpun kembali.  Atau saya diberi hak untuk memilih siapa yang akan menjadi regu pengawal. Kedua, pihak kutaraja tidak lagi menganggu kegiatanku di Tumapel.

        _Seandainya syaratmu disetujui, apakah kau tidak akan membuat keributan  dengan punggawa Kediri ?_

        _ Itu tidak akan terjadi lagi, asalkan mereka tidak memulai!_ (kata Ken Arok dengan tegas).

        _Baiklah, aku akan segera menghadap Akuwu Tumapel membicarakan perkara ini. Kalau Akuwu setuju, maka belenggu yang merantai para brahmana akan dilepaskan dan kau secara tidak langsung akan menyelamatkan kewibawaan dan hidup ratusan brahmana, Arok._

        _ Bagaimana kalau Akuwu tidak setuju ?_ (berkata Ki Sampar angin memotong).

             _ Kita coba ! Hari ini kita pakuwon Tumapel!_ (kata Mpu Lohgawe yang beranjak pergi).

        _ Kakang, ijinkan kami bertiga ke Panawijen._ (kata Mpu pamor terlihat tergesa-gesa berpamitan, agaknya mereka  kesal mendengar pembicaraan Ken Arok).

        _Kenapa  kalian tidak ikut  ke Pakuwon._  (tanya Mpu Lohgawe balik)
      _Kami percaya pada kebijaksanaan kakang. Biarkan kami menenteramkan diri di Panawijen untuk sementara waktu._

      _ Baiklah! Sampaikan salamku pada adi Purwa._

      _ Kakang aku dan Ken Arok tidak ikut serta ke Pakuwon, pembicaraan kakang dengan akuwu biar tidak terganggu, toh masih pembicaraan tingkat penjajakan._  (kata Ki Sampar angin)

      Brahmana Lohgawe mengangguk dan berkata:

      _ Baik._ 

      Sementara Ki Sampar angin memberi isyarat mata pada Ken Arok untuk beranjak dari tempat itu menuju ke arah bukit di sebelah barat tidak jauh dari padepokan.

      _Kemarin kau baru saja mengatakan akan membantu para brahmana, tetapi mengapa kau masih meminta syarat atau imbalan segala ?_ (kata Ki Sampar angin setengah memancing).

       _Kukira itu harga yang wajar paman. Bukankah suatu bendamen kedudukannya harus seimbang? Toh saya tidak meminta imbalan apapun dari para brahmana.  Kalau hanya menerima tanpa syarat, berarti saya masuk perangkap. Kunci perkara ini adalah Akuwu, dialah yang akan memenuhi syarat yang kuajukan, bukan para brahmana yang wajahnya masam itu._

      _ Bagus, kalau begitu aku mengerti alasanmu._

      _Dengan syarat itu saya tetap dapat bebas  bergerak leluasa tanpa ada yang menghalangi._

      _ Kau memang cerdik,  anakku._

      _Pamanlah yang mengajariku bersiasat, bukan bunuh diri !._

      _Ketiga brahmana kutaraja itu tampaknya tidak senang dengan kita! (kata Ki Samparangin)

        _Biarkan saja paman! Mereka itu brahmana yang belum bisa berlapang dada karena terkena perangkap baginda! Jadi pantas kalau tidak senang denganku!_ (kata Ken Arok dengan tenang)

             _Paman, lihat bapa Lohgawe dan mereka kini bersiap berangkat ke pakuwon Tumapel._

             _ Kurasa ada baiknya kau mengawal mereka ke Panawijen. Bagaimana pun mereka adalah tamu Tumapel, jadi kalau terjadi apa-apa di sini, Mpu Lohgawe dan kita lah yang bertanggung jawab._

             _ Tetapi sepertinya mereka tidak mau dikawal, paman._

             _ Jadi kau tidak mau mengawalnya?_

             _ Bukan begitu paman._

             _Kalau kau tidak mau mengawalnya,  iya.....sudah biarkan saja mereka pergi sendiri.  Tetapi .........ada seorang gadis Panawijen yang merindukan kedatanganmu._

             _ Ah.........paman ini._ (kata Ken Arok tersenyum dengan wajah tersipu malu). Ken Arok seperti digugah rasa rindunya karena sudah hampir satu setengah candra tidak bertemu dengan gadis yang menghiasi jantung hatinya. Sejenak kemudian, anak muda itu menganggukkan kepala.

            

v     

        Menjelang sore seekor kuda memasuki regol gapura depan padepokan Panawijen diiringi sebuah kereta kuda.   Brahmana Mpu Purwa sedang duduk bercengkerama dengan putrinya Ken Dedes di balai padepokan.  Mengetahui ada tamu datang, segera berdiri beranjak dari duduknya berjalan menyambutnya.

        _ Kakang Purwa !_ (sapa Mpu Pamor kemudian satu persatu brahmana itu merangkul Mpu Purwa yang dianggap lebih tua). Kemudian Mpu Purwa berkata kepada Ken Arok.  Kemudian pandangan Mpu Purwa diarahkan Ken Arok sambil berkata:

        _Terima kasih, anakku! kau telah banyak membantu brahmana. Beristirahatlah sejenak._

        Ken Arok menganggukkan kepala sambil berjalan meninggalkan balai padepokan menuju ke bilik samping pepungkuran. Sementara  Mpu Purwa dalam pembicaraannya dengan ketiga brahmana dari kutaraja sekali-kali terdengar suaranya dari pepungkuran. Mpu Kuturan menceriterakan pertemuannya dengan Mpu Lohgawe, sementara Mpu Purwa mendengarkannya dengan seksama, tampak brahmana tua itu sekali-kali menarik napas panjang, kemudian berkata:

        _ Hem..........masalahnya benar-benar pelik. Aku tidak mengira kedudukan kaum brahmana seburuk saat ini.  Kalau Ken Arok diterima sebagai pimpinan pengawal Akuwu, perkara kutaraja dan kaum brahmana akan selesai. Tetapi ada hal yang belum dipertimbangkan!_ (kata Mpu Purwa sepertinya mengajak berpikir).

        _ Apa itu, kakang ?_

             _ Bagaimana kawula alit ? Mungkin kalian tidak begitu paham keadaan kawula alit saat ini di Tumapel._

             _Ada apa dengan kawula alit?_

        _ Beban hidup mereka benar-benar berat, jangankan membayar pajak untuk makan pun mereka tidak sanggup lagi. Tanaman mereka ludes dimakan hama.  Bukankah kalian sendiri menyaksikan di sepanjang perjalanan dari Lohgawe ke Panawijen. Tanaman padi di sawah dibiarkan rusak tidak terurus karena terserang hama penyakit._ (kata Mpu Purwa)

        _ Benar, aku menyaksikan sendiri._ (kata Mpu Kuturan).

        _ Kalau pemerintah kutaraja tidak memberi kelonggoran atau penundaan pembayaran pajak dan bersikeras memaksa mereka, apa jadinya? Selama ini mereka dipaksa dengan pelbagai kekerasan oleh punggawa penarik pajak, lalu siapa yang akan membela mereka?_ (kata Mpu Purwa setengah mengajak berpikir kepada tiga orang brahmana dari kutaraja).

        _Apa hubungan Ken Arok dengan mereka?_ (kata Mpu Sridhara bertanya).

        _Ki Samparangin dan Ken Arok lah  yang selama ini membela mereka._ (kata Mpu Purwa).
            
        Mendengar perkataan Mpu Purwa, Mpu Pamor, Mpu Sridhara dan Mpu Kuturan tampak setengah membuang muka tidak mengacuhkan, raut wajahnya menyiratkan rasa tidak senang terhadap pembicaraan Mpu Purwa yang dirasakan mulai menyanjung Ken Arok.  Dalam hatinya berkata: “Kakang Purwa ini setali tiga uang dengan kakang Lohgawe, terlalu menyanjung-nyanjung Ken Arok si penjahat kerajaan itu”.

        _Tetapi anak itu telah berani  melakukan kejahatan pembunuhan atau tatayi terhadap punggawa kerajaan?_ (kata Mpu Kuturan).

        _ Ia sekedar membalas apa yang telah dilakukan lebih dahulu oleh punggawa terhadap penduduk desa._ (kata Mpu Purwa dengan nada tenang).

        _Tetapi bagimanapun anak itu tetap bersalah!_ (kata Mpu Sridhara dengan nada suara agak meninggi).

        _ Itu terserah cara pandangmu! Bukankah setiap orang cara pandangnya sendiri-sendiri. Pihak kerajaan menilai Ken Arok adalah perusuh yang telah melakukan kejahatan tatayi sebagai salah satu astadosa. Tetapi di mata rakyat Tumapel Ken Arok adalah pembela dan pelindung mereka! Ken Arok adalah pahlawan mereka._  (kata Mpu Purwa dengan nada suara dengan tekanan).

        _ Menurut kakang Purwa, mana yang benar?_

        _ Yang berpihak pada citarasa keadilan orang banyak!_ (tegas Mpu Purwa).

             _Kalau demikian, kakang Purwa membenarkan tindakan pembunuhan yang dilakukan anak itu!_

             _Aku tidak membelanya. Tetapi pihak kerajaan seharusnya juga tidak boleh sewenang-wenang menganiaya kawula. Ketahuilah! Setiap kesewenang-wenangan cepat atau lambat pasti akan melahirkan perlawanan. Ken Arok hanyalah salah seorang yang berani melawan ketidak-adilan itu. Lihatlah sebabnya, mengapa Ken Arok berani melawan punggawa?  Jangan hanya melihat akibatnya!_ (tegas Mpu Purwa).

             _ Tetapi kami tetap tidak membenarkan tindakan Ken Arok !_ (kata Mpu Sridhara ngotot mempertahankan pendapatnya)

             _ Sama halnya denganku yang tidak dapat membenarkan tindakan punggawa pajak !_ (kilah Mpu Purwa).

             _Pihak kerajaan mempunyai hak dan kekuasaan atas pajak, tetapi Ken Arok tidak mempunyai hak untuk membunuh punggawa pajak!_ (kata Mpu Pamor mengemukakan alasannya).

             _ Kita ini seorang brahmana, tentu cara berpikirnya tidak seperti punggawa kerajaan saja. Ada pepatah yang mengatakan “hutang nyawa dibayar nyawa, hutang budi dibawa mati”.  Ken Arok hanya membalaskan hutang nyawa punggawa kerajaan atas kawula yang mati akibat kekerasan mereka. Sedangkan kecondonganmu seperti itu karena kalian tidak ubahnya seperti orang yang berhutang budi pada baginda! Pantas baginda mengumpat-umpat kaum brahmana, sampai martabat kita jatuh tidak ada harganya!_ (kata Mpu Purwa tegas disertai tatapan mata tajam tidak berkedip).
            
             _Maafkan kakang, kami sepertinya dipojokkan seakan menjadi penyebab semua ini._ (kata Mpu Sridhara).

             _Aku tidak memojokkanmu, tetapi hanya mengingatkan kalian! Sadarilah bahwa  tugas utama seorang brahmana adalah mendidik sesuai damma,  bukan ikut campur di dalam kekuasaan.  Dengan cara itulah martabat brahmana tetap terjaga. Hidup seorang brahmana lebih utama berada menyatu dengan kawula, agar bisa merasakan penderitaannya, mendengar keluh-kesahnya, paham  denyut nadi kehidupannya dan mengerti tetesan air mata mereka, bukan di tengah kemewahan istana! Fitnah besar yang melanda kaum brahmana saat ini adalah hasil karmanya sendiri karena terlalu dekat dengan kekuasaan, dimanjakan oleh hadian dan pemberian, akibatnya kemulian kaum brahmana runtuh terbeli dengan itu semua._ (tegas Mpu Purwa).

             Ketiga brahmana kutaraja itu diam termenung mendengar kata-kata Mpu Purwa yang seakan menohoknya,  dari wajahnya tersirat suatu penyesalan karena terlanjur terlibat dalam kekuasaan baginda. Mpu Pamor kemudian berkata:

             _Terima kasih, kakang telah mengingatkan keterlanjuran kami semua. Tetapi maksud kedatangan kami ke Tumapel ini adalah mengemban tugas untuk membimbing Ken Arok._

             _ Apa lagi tugas seperti yang kalian laksanakan saat ini! Tidak mungkin dapat diselesaikan  tanpa kerjasama dengan Ken Arok?  Kalau pandangan kalian terhadap anak muda itu dilandasi sikap permusuhan, aku yakin tugas itu akan gagal di tengah jalan tidak membuahkan hasil apa-apa. Bukan kah kalian tahu apa akibatnya jika gagal?_

             _ Selama ini kami beranggapan kalau tersudutnya kaum brahmana oleh baginda itu akibat ulah anak muda yang bernama Ken Arok itu.  Jadi terus terang saja kami sulit rasanya kalau harus bekerjasama dengan anak itu._ (kata Mpu Pamor).

             _ Kalau begitu terserah kalian saja! Hanya gara-gara kalian disalahkan oleh baginda, lalu kalian melampiaskan kekesalan pada Ken Arok. Sekarang coba pikirkan, bagaimana cara kalian menghentikan tindakan Ken Arok!_

             _Masalah ini telah kuserahkan kepada kakang Lohgawe. Kini kakang Lohgawe mencoba mendekati akuwu untuk menjajaki jalan penyelesaian kemelut ini._ 

             Ketiga brahmana dari kutaraja itu kini diam wajahnya tertunduk lesu, tidak sepatah katapun terucap dari mulutnya. Kata-kata Mpu Purwa tadi dirasakannya seperti menyebit-nyebit hatinya seakan kepergiannya ke Panawijen seperti pencucian jiwanya yang selama ini kusut kehilangan jatidiri akibat masalah yang membelitnya di kutaraja.

v            

             Sementara Ken Arok sedang berjalan beriring dengan Ken Dedes di sekitar padepokan.

             _ Suasana padepokan di sini begitu indah dan asri ._ (kata Ken Arok sambil  mengamati bunga-bunga yang sedang mekar tertata rapi berjajar di depan altar depan padepokan).

             _ Ah.... tidak juga, kakang.  Di padepokan Lohgawe tentunya lebih asri dari Panawijen._ (kata Ken Dedes disertai lirikan mata yang bermaksud menyindir karena di padepokan  Lohgawe juga ada bunga yang sedang mekar, putri brahmana Lohgawe, Ken Umang ).

             _ Ada bedanya ?._ (kata Ken Arok sambil melirik gadis yang berada di sampingnya itu).

             _ Kakanglah yang lebih tahu ! Bukannya kakang setiap hari memandangi bunga di padepokan Lohgawe!_ (sahut Ken Dedes setengah menyindir).

             _Iya tetap ada bedanya.  Bunga-bunga di sini sedang mekar-mekarnya  dan siap dipetik._ (kata Ken Arok dengan nada menyindir).

             _ Ah.....kakang ! _ (sahut Ken Dedes merasa disindir  tanpa sadar jari-jarinya yang lentik itu mencubit lengan Ken Arok).

             _ Aduh...........cubitanmu ini sakit sekali  !_ (kata Ken Arok sambil berpura-pura meringis kesakitan).

             _Ah.......kakang ini, di Kagenengan saja menghalau sepuluh orang begal saja dapat dilakukan dengan mudah. Masak dicubit begini saja kesakitan._ (sahut Ken Dedes sambil tertawa agak tertahan).

             _ Yang sakit bukan lenganku, tapi yang di dalam._ (kata Ken Arok sambil mengarahkan gerakan tangannya ke arah dadanya).

             _Di Lohgawe kan ada yang mengobati !._ (ledek Ken Dedes sambil jari-jemarinya yang lentik itu memainkan sekuntum bunga soka putih yang dipetiknya).

             _ Hanya di Panawijen ini sakitku bisa sembuh._

             _ Sakit apa ?_ (kata Ken Dedes lirih)

            _ Sakit yang obatnya bertemu seperti ini._ (kata Ken Arok  sambil tangannya menyubit dagu putri brahmana yang ibaratnya seperti lebah bergantung itu).

  _ Ah.........kakang ini nakal!_ (kata Ken Dedes sambil memperlihatkan wajahnya yang agak kemerah-merahan tersipu malu).

  _Iya ......kan kakang? Di padepokan Lohgawe bunganya kan lebih indah, segar  dan harum mangambar daripada di sini ?_ (kejar Ken Dedes).

_Sudah kukatakan, bunga di sini sudah siap dipetik, sedangkan di Lohgawe baru bersemi_ (sahut Ken Arok dengan tenang sambil tidak lepas memandang solah bawa gadis yang telah menggoyahkan hatinya selama ini).

_Kukira..........lebih baik menunggu bunga yang masih bersemi daripada yang sudah siap dipetik !_ (sahut Ken Dedes sambil mengerlingkan matanya yang indah ke arah Ken Arok).

_ Ah.......tidak, kumbang manapun akan menyukai bunga yang sedang mekar dan siap petik._ (kilah  Ken Arok dengan tangkas).

_ Mengapa kumbang-kumbang  nakal itu lebih  suka menghisap madu dari bunga-bunga yang sedang mekar ?_  (kata Ken Dedes setengah memancing).

_ Itu sudah menjadi kodrat alam. Kalau bunga itu tidak dihisap madunya, bunga itu tidak membawa manfaat bagi dirinya maupun alam semesta ini. _  (kata Ken Arok berkilah).

_ Kakang ini pandai bermain kata seperti pujangga saja._
( canda Ken Dedes memancing).

_Pujangga apa?_ (kata Ken Arok pura-pura tidak mengerti).

_Pujangga yang pandai bersandiwara !._ (jawab Ken Dedes yang diikuti senyuman).

   Kedua insan manusia  yang hatinya bak bunga yang sedang  mekar itu, langkahnya berhenti ketika sampai di dekat sendang yang airnya jernih.  Pandangannya mengamati  ikan-ikan yang sedang bersuka cita berkejaran di balik daun teratai yang sedang berbunga merah. 

   _ Kakang, aku punya teka-teki yang belum terpecahkan.  Dapatkah kakang menebak teka-teki itu._ (pancing Ken Dedes sambil melemparkan kuncup bunga soka putih ke sendang)

_ Tadi kakang mengatakan bunga di sini lebih indah dari bunga manapun. Sekarang aku bertanya, apa sebenarnya yang paling indah di arcapada ini, kakang ?_  (tanya Ken Dedes dengan nada tenang ).

_ Wah ......untuk dapat memetik bunga saja,  ternyata ujiannya sangat sulit seperti ini._ (canda Ken Arok jenaka dengan gadis yang membangkitkan pesona hatinya itu).

_Ah...kakang ini bercanda melulu, aku sungguh-sungguh lho, kakang!_  (kata Ken Dedes sambil sedikit merajuk).

   _ Ibaratnya sebuah sayembara !............apa bebananya kalau aku  dapat memecahkan rahasia di balik teka-teki itu ? (jawab Ken Arok berkata dengan nada setengah menantang).

_Iya ....kakang boleh memetik bunga di padepokan Panawijen ini._  (kata Ken Dedes sambil melempar senyum dari bibirnya yang indah dan kerlingan mata menggoda).

_ Apa bisa kupercaya perkataanmu ?_

_ Mengapa tidak kakang._ (kata Ken Dedes dengan mantap)

_Baiklah ..........kakang akan mencobanya. Sesuatu yang paling indah bagi seseorang adalah terletak pada rasa sejatinya._

       _ Maksud kakang apa ?_

_ Rasa keindahan sejati itu baru dirasakan seseorang kalau orang itu cita-cita dalam  hidupnya terwujud.   Kehidupan akan terasa sangat indah, sejuta kata-katapun tidak akan mampu melukiskan keindahan yang dirasakannya. _ (kata Ken Arok sambil  menoleh wajah ayu yang duduk di sampingnya itu).

          Ken Dedes terdiam sesaat merenungkan jawaban itu, kemudian matanya yang bening itu berbinar, wajahnya baik bulan purnama tampak berkenan hatinya,  kemudian berkata:

          _ Apakah rasa keindahan itu dapat bangkit karena melihat panorama keindahan alam ?_

             _ Dapat saja begitu, tetapi tidak selalu._

          _ Maksudnya bagaimana ?_

             _Yang menilai keindahan panorama kadang hanya  pikiran, buktinya kalau pikiran sedang kalut, panorama seindah apa pun akan terlihat tidak indah. Sebaliknya seseorang dapat saja merasakan keindahan yang sejati ketika cita-cita hidupnya tercapai._

          Mendengar kata-kata itu, Ken Dedes merasa berkenan hatinya tanpa sadar mengangguk-angguk kecil,   tampak dari bibirnya yang nyigar kepundhung itu tersungging senyuman yang  melahirkan sejuta arti bagi Ken Arok.

Pada saat itu tampak inang pengasuh yang sudah tua itu berjalan agak membungkuk menghampiri kedua insan yang sedang  memadu kasih itu dan berkata:

_Den, putri.  Bapa brahmana mengutus den putri untuk mengajak tamunya ke sasana bojana._ (kata inang pengasuh tua itu).

Ken Dedes menganggukkan kepala,  perlahan melangkah sambil menarik tangan Ken Arok seraya berkata:

_Hayolah kakang ! Nanti makanannya keburu dingin._ (ajak Ken Dedes).

Ketika berjalan Ken Arok pandangannya seperti mencari sesuatu:

_ Apa yang kakang cari ?_ (tanya Ken Dedes),

_ Mahisa Aghni._  (tanya Ken Arok tentang sahabatnya).

_ Kakang Mahisa Aghni disuruh bapa ke Lumajang ._

          Keesokan harinya ketika mahatari baru muncul di ufuk timur, setelah berpamitan Mpu Purwa, anak muda itu menuntut kudanya diiringi putri brahmana itu.

          _Dinda ! kakang akan segera melamarmu setelah urusanku selesai !_ (kata ken Arok dengan nada serius).

          _ Benar...............kakang ?_

             Ken Arok  menganggukkan kepala,  Ken Dedes berjalan mendekat setelah memetik bunga cepaka mulya putih yang kini dimainkan oleh jari-jari lentiknya. Sekumtum bunga itu diciumnya sebelum diserahkan kepada anak muda yang berdiri di hadapannya.

             _ Terimalah bunga ini , kakang !._
            
             Tangan anak muda itu meraih bunga itu kemudian menyelipkan di telinga. Pandangannya menatap wajah ayu itu seakan tidak mau melepaskan barang sekejap pun. Ken Dedes pun membalas dengan tatapan penuh arti. Anak muda itu melangkah perlahan ke arah kuda sebelum melompat ke punggungnya. Ken Dedes masih saja menatap tambatan hatinya ketika langkah kaki kuda itu perlahan meninggalkan regol luar padepokan, putri brahmana itu berkata:

             _ Hati-hatilah kakang !._ (kata Ken  Dedes menguatkan hatinya walau terasa berat melepas kepergiannya, tanpa terasa air bening menetes dari sudut matanya yang indah yang diusapnya dengan ujung selendang cindenya  yang tersampir di pundaknya). Langkah kuda itu bergerak semakin jauh meninggalkannya, tetapi sepasang mata indah itu terus mengikutinya. Ketika langkah kuda itu akan menyidat jalan, anak muda itu menoleh sambil melambaikan tangannya sesaat kemudian tidak tampak lagi.   Kembang desa Panawijen itu hatinya berkata:

             “.Aku telah berhutang budi padanya, ketika aku dan bapa di rampok di hutan Kagenengan. Ia telah menyelamatkan kehormatanku. Hal itulah yang menjadikanku luluh seakan benteng pertahanan hatiku roboh. Apakah aku harus menebus hutang budi dengan menyerahkan diriku ?   Sebenarnya kakang Anggara tidak pernah mengungkit-ungkit jasanya sama sekali dan tidak pernah meminta imbalan apapun.  Tetapi hal itu yang membuatku sangat terkesan dengan pribadinya. Dia seorang pemuda yang pemberani, gagah,  tidak sombong, cukup sopan dan menghormati orang tua. Tetapi ia lebih banyak tinggal di padepokan Lohgawe. Tentu setiap hari bertemu dengan Ken Umang putri brahmana Lohgawe yang kenes itu. Dari pengakuannya tampaknya kakang Anggara  lebih menyukaiku daripada Ken Umang yang masih sangat belia dan kekanak-kanakan. Aku berharap apa yang dikatakan kakang Anggara itu menjadi kenyataan”.


v         

              Keesokan harinya di wisma palereman padepokan Panawijen, ketiga brahmana dari kutaraja sedang berwawansabda:

            _ Kuamati sejak kemarin, kau termenung seperti orang bingung ! (kata Mpu Sridhara kepada Mpu Pamor).

            _ Aku merasa ada yang salah._ (kata Mpu Pamor singkat).

           _ Apa yang kau anggap salah ?_ (kata Mpu Sridhara).

           _ Apa yang kita lakukan !_ (kata Mpu Pamor)

           _ Maksudmu apa ?_ (kata Mpu Sridhara).

          _ Kita terburu-buru menyerahkan perkara yang ditugaskan baginda kepada Mpu Lohgawe !_ (kata Mpu Pamor dengan wajah yang menyiratkan rasa sesal).

          _ Kenapa dengan kakang Lohgawe ?_

         _Kakang Lohgawe berunding dengan penjahat, musuh besar kerajaan tanpa sepengetahuan baginda._ (kata Mpu Pamor dengan nada kecewa).
         
        _Kesalahan baginda kurasa lebih besar, meminta kaum brahmana menyembahnya adalah suatu kemurtadan. Kau ingat yang dikatakan kakang Lohgawe, baginda bermaksud memusnahkan kaum brahmana kalau tidak secara jasmaniah ya menghancurkan wibawanya !._ (kata Mpu Sridhara).

      _ Mungkin yang kau katakan benar, tetapi merangkul penjahat yang terang-terangan mengibarkan bendera permusuhan dengan kutaraja adalah sama sekali tidak benar._ (kata Mpu Pamor menyanggah).

          _ Kau jangan salah menilai! Kakang Lohgawe memasang jebakan !_ (kata Mpu Sridhara).

          _ Apa kau yakin ?_ (kata Mpu Kuturan yang mulai ikut berbicara).

          _ Iya! Kakang Lohgawe tidak merangkul tetapi memasang perangkap !._ (kata Mpu Sridhara mantap).

          _  Perangkap apa ?_ (sahut  Mpu Pamor)

          _ Perangkap untuk memperoleh kesempatan mendidik dan mengubahnya, bukannya ia menjahati punggawa kerajaan karena bodoh ?_ (kilah Mpu Sridhara).

          _ Aku tidak percaya kepada kakang Lohgawe untuk melakukan dharmanya terhadap anak muda itu._ (sahut Mpu Kuturan).

          _  Mengapa ?_ (kata Mpu Sridhara).

          _ Karena anak muda itu sama sekali tidak bodoh ! Kakang Lohgawe meremehkan anak itu,  menganggapnya bodoh._ (kata Mpu Pamor dengan nada kesal).

           Beberapa saat ketiga brahmana itu berhenti berbicara, sepertinya belum memperoleh jawaban atas teka-teki dari langkah yang ditempuhnya.

           _Bukan kah kita tidak menyadari kalau  anak itu adalah murid Ki Sampar angin, pendekar kaloka yang sangat cerdik  dan licin itu !_ (kata Mpu pamor meyakinkan).

           _Bagaimana kalau baginda mendengar anak muda itu jadi kepala pengawal Akuwu karena kita ?_ (kata Mpu Kuturan)

          _Baginda akan menuduh kita berkianat, tetapi mungkin masih bisa memaafkan kita karena pemasukan uang pajak terus mengalir ke istana akibat punggawa penarik pajak tidak lagi diganggu oleh anak muda itu. Bukankah hal itu yang diharapkan ? (kilah Mpu Sridhara).

         _Bagaimana kalau Mpu Lohgawe gagal ?_ (kata Mpu Kuturan).

_Kenapa gagal ?_ (sahut Mpu Sridhara)

_Karena salah menilai siapa sebenarnya Ken Arok._ (kata Mpu Kuturan).

_ Kakang Lohgawe tentu tidak bodoh, ia tentunya punya cara tersendiri untuk menjinakkan seekor harimau atau ular._ (kilah Mpu Sridhara).

_Kakang Lohgawe memang tidak bodoh, tetapi perkaranya tidak begitu!. Binatang itu dapat hidup dengan hukum-hukumnya sendiri. Mereka akan binasa kalau hidup dengan hukum kehidupan lain apalagi kehidupan brahmana. Jadi mungkin binatang itu kelihatan jinak di depan pawangnya tetapi ia tetap menolak hidup dengan hukum lain yang diterapkan pawangnya, karena ia memiliki naluri sendiri. Ia dapat saja membunuh di luar dugaan pawangnya. Mengubah pikiran mungkin mudah tetapi naluri tidak mungkin dirubah! _ (kata Mpu Kuturan dengan nada kesal).

 _ Aku tidak percaya !._ (kata Mpu Sridhara).

 _ Lihat saja nanti ! _ (kata Mpu Kuturan).

 _Iya tunggu saja harimau itu menerkam korban-korbannya satu persatu!_ (timpal Mpu Pamor dengan nada jengkel).

Ketiga brahmana itu terdiam berhenti berbicara beberapa saat, ketika mendengar langkah kaki menuju sasananya.

 _Aku mendengar kalian bersilang pendapat !._ (kata Mpu Purwa sambil melangkah mendekati ketiga brahmana itu).

Ketiga brahmana itu sepertinya tampak malu atas teguran mpu Purwa, kemudian salah seorang memberanikan berkata:

_ Tidak kakang._ (kata Mpu Pamor singkat).

_ Ingat, kita adalah brahmana ! Jangan terlalu dekat dengan kekuasaan, apalagi memiliki pamrih-pamrih tertentu ! Fitnah besar yang terjadi saat ini akibat kita terlalu dekat dengan baginda. Kita harus dapat memegang sifat satya dan legawa. Dengan sifat itu  brahmana dapat menyelesaikan perkara ini. (kata Mpu Purwa setengah mengingatkan).

_Iya kakang._ (kata ketiga brahmana itu dengan suara yang hampir berbarengan).

_Aku berniat akan bertapa di ardi Indrakila besok._ (kata Mpu Purwa ).

_ Kami akan ikut, kakang !_ (kata Mpu Sridhara).

Keesokan harinya ketika fajar menyingsing di ufuk timur, ke empat brahmana itu berjalan menyusuri jalan kecil menelasak hutan menuju kaki Indrakila. Embun pagi menerpa wajah para brahmana itu sepertinya tidak lagi dirasakan. Tampak mentari rantak-rantak tampak menyembul dari permukaan cakrawala timur, perlahan mulai naik,  bias sinarnya semakin terang menembus sela-sela rerimbunan daun pepohonan. Tampak embun di ujung dedaunan itu terlihat  jatuh ke wajah brahmana ketika tersentuh wajahnya sewaktu berjalan menyelusup di sela-sela pepohonan itu. Ketika bayangan sinar mentari sepenggalah, para brahmana itu sampai di pertapaan yang dituju. Keringatnya mulai terlihat keluar dari pelipisnya. Sementara napasnya terasa berkejaran, dadanya tampak naik-turun. Keringat itu disekanya dengan ujung kain jubahnya yang berwarna kuning lembayung ketika mereka sedang beristirahat sebelum memulai tapak samadinya. 

v           

Suasana di balai agung pakuwon Tumapel malam itu tampak sepi. Akuwu terlihat berjalan dari satu sudut ke sudut balai dengan wajah menunjukkan kegelisahan hatinya. Keboijo sebagai kepala pengawal duduk di salah satu sudut balai dengan muka tertunduk sepertinya mengerti tentang kegelisahan yang melanda hati tuannya.  Ketika Akuwu berjalan mendekat kemudian berdiri di sampingnya, Keboijo tetap diam menunggu apa yang akan dititahkan junjunganya. Sesaat kemudian bertanya:

_ Bagaimana keluargamu ?_

_Baik gusti, hamba bersyukur memiliki isteri yang penuh pengertian dan anak-anak yang baik._

_Aku senang melihatmu bahagia._ (kata Akuwu datar seperti sedang menimbang keadaan dirinya).

_ Apa yang dapat hamba kerjakan, gusti ?_

_ Tidak Keboijo, kau adalah abdi kinasihku, kau selalu mengerti apa yang menjadi kegelisahanku._

_ Iya....gusti. Tetapi hamba tidak berani mendahuluinya sebelum gusti berkenan mengatakannya terlebih dahulu._

Akuwu terdiam sesaat, wajahnya tampak menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong disertai raut wajah menyiratkan kegelisahan sepertinya menatap tanpa ujung dan muara penyelesaian.   Sejenak kemudian berkata:

_Aku prihatin baginda sedang berselisih dengan para brahmana._

_ Kasinggihan gusti._

_ Mengapa hal itu kini berlarut-larut ? Tugas menangkap durjana adalah tugas prajurit, bukan brahmana._

_Baginda kini telah memerintahkan para brahmana untuk menyelesaikan perkara Ken Arok yang menggegerkan itu._

_ Iya....tentunya cara brahmana tidak sama dengan cara prajurit._

_ Hamba juga tidak tahu cara apa yang akan digunakan para brahmana._

_ Keboijo! Kau tahu, dalam  pisowanan lalu baginda menegurku dengan nada murka tentang masalah keamanan dan pajak dari Tumapel. Kini bertambah lagi soal Ken Arok dan para brahmana. Kurasakan tugas di pundakku  ini makin lama makin menghimpitku._

_Memang beberapa kali rajapati  atas punggawa Kediri terjadi di tlatah Tumapel. Selain itu kini semakin banyak kawula membangkang membayar pajak, gusti._

_Itulah yang menyebabkan aku kena murka. Lalu apa yang dapat kuperbuat untuk Tumapel dan Kediri ? Aku rela berbuat apa saja asalkan perkara yang membebani kutaraja selama ini dapat diselesaikan._

_Menurut hamba beban paduka sebenarnya bukan hanya karena tugas ._

_ Kalau bukan tugas, karena apa ?_ (sahut akuwu menatap wajah Keboijo).

_ Tetapi................_ (kata Keboijo tertahan)

_ Tetapi apa ?_ (desak akuwu).

          _Maafkan kelancangan hamba gusti, sebenarnya gusti saat ini membutuhkan seorang pendamping yang dapat diajak berbagi suka dan duka._

_ Maksudmu, seorang isteri ?_

_ Kasinggihan dhawuh._

_Dalam situasi gawat seperti ini, apakah pantas bagi seorang akuwu mencari seorang perempuan sebagai isteri ?_

_ Hamba kira tidak ada salahnya, gusti. Hamba tidak tega melihat gusti Akuwu sering termenung sendiri sepertinya tidak kuasa menyapih duka sepeninggal gusti putri Pambayun berpulang ke swargaloka_

_Memang kuakui ..........sudah cukup lama aku hidup menduda. Aku sepertinya larut dalam kabut duka, setiap malam kesepian datang merayap menggerogoti semangat hidupku. _

_Keberadaan seorang isteri akan dapat mengobati kesedihan,  meringankan beban ketika menghadapi situasi genting seperti saat ini,  gusti._

Akuwu tampak mengangguk-angguk kecil, seperti membenarkan kata-kata dari abdi kinasihnya. Sesaat kemudian berkata:

_Dua perkara menghimpitku sekaligus. Pertama, tugasku sebagai akuwu yang akhir-akhir ini banyak dicela baginda. Kedua, masalah kehidupanku sendiri yang kian rapuh._

_ Sebaiknya, gusti mengunjungi brahmana Limparan._

_ Brahmana Limparan?_

_Kasinggihan gusti, bukan kah sudah lama gusti tidak mengunjunginya?_

Akuwu yang bertubuh tinggi tetapi sepadan tubuhnya itu, kini tampak manggut-manggut tanda setuju saran abdi kinasihnya. Angan-angannya menerawang jauh mengingat brahmana Limparan guru dan penasehatnya.

_Kukira pendapatmu itu baik Keboijo. Tetapi saat-saat genting seperti ini aku tidak bisa meninggalkan pakuwon dalam keadaan komplang._

_ Benar, gusti. Tetapi mengunjungi bapa  Limparan adalah untuk memperoleh petunjuk dan jalan terang ke arah penyelesaian perkara ini. Jadi menurut hamba, kepergian gusti akuwu tidak bisa ditunda lagi._

_ Baik, tetapi kepergianku dengan sesideman,  jangan sampai ada yang tahu!_

          _ Sendika dhawuh, gusti._
Keesokan hari, brahmana Limparan yang usianya sudah uzur itu menerima kedatangan akuwu.

_ Njanur gunung anak mas Akuwu mengunjungi padepokan ini._ (kata brahmana tua itu perlahan dengan nada suara datar)

_ Iya....bapa. Sembah bektiku kunjuk, bapa._

_ Iya...... iya._

Akuwu menceriterakan perkara yang di hadapi kutaraja mulai awal sampai dengan berita brahmana dibebani tugas baginda untuk menyirep daharu perlawanan Ken Arok saat ini. Brahmana tua itu terdiam sambil mendengarkan dengan seksama satu persatu perkara yang diutarakan akuwu. Kemudian ia berkata:

_ Anak mas Akuwu, bapa sudah lama sekali mundur dari dunia keramaian. Bagaimana bapa dapat memberi nasehat urusan ketataprajan seperti yang anak mas minta?_

_Aduh......bapa, ibarat perahu berlayar ananda seperti kehilangan kemudi tidak tahu lagi arah tujuan yang pasti, sehingga beberapa kali pisowanan, baginda murka. Tega kah bapa melihat ananda dalam keadaan seperti ini? _ (kata akuwu dengan nada memelas)

_Bapa sungguh tidak tega melihat keadaanmu saat ini, tetapi baiklah bapa akan menyuplik jangka tentang kekuasaan Kediri dan Tumapel. Mungkin ini dapat sedikit memberi arah bagi langkahmu ke depan, nak mas._

_ Jangka Kediri dan Tumapel, bapa?_

_ Iya.........bapa memegang jangka itu sebagai amanat dari mendiang Gusti prabu Hemabupati, cucu maharaja baginda Airlangga yang menjadi raja di Jenggala._

_Ananda sama sekali tidak menduga, bapa masih menyimpan jangka sejarah Kediri dan Tumapel yang keadaannya semakin tidak menentu akhir-akhir ini._

_Bapa melihat dari sangkalan tahun, sepertinya sudah titi-wancinya terjadi perubahan kekuasaan._

_ Perubahan kekuasaan kutaraja?_

_ Iya, moga-moga bapa tidak keliru._

_Apakah keadaan gara-gara saat ini dapat dikatakan tanda-tanda perubahan seperti yang bapa maksud?_

_ Suratan takdir ibarat roda berputar, ada yang kalah dan ada yang mengalahkan._

_ Kalah dan mengalahkan, bapa?_

_ Begitulah, anak mas._

_Siapa yang kalah dan siapa yang mengalahkan, bapa?_

Brahmana tua itu diam sejenak, kemudian melanjutkan bicaranya.

 _Ketahuilah ananda, negeri Tumapel nanti akan menjadi negeri yang besar, sedangkan Kediri akan tersaput lebu oleh perubahan itu._

_ Apakah Tumapel akan mengalahkan Kediri, bapa ?_

Brahmana Limparan perlahan menganggukkan kepala.

_Bukan kah Tumapel hanya sebuah pakuwon?_

_Benar yang nak mas katakan. Tetapi perubahan itu ibarat cakra manggilingan yang tidak bisa dicegah oleh siapa pun. Jangka akan membuktikan nantinya Tumapel akan menjadi sebuah kutaraja dari  negeri besar dan kaloka._

_Siapa yang akan menduduki tahta Tumapel nanti, bapa?_ (desak akuwu disertai tatapan mata penuh harap)

_Bapa, tidak berani membuka tabir rahasia ini, anakku. Hanya di situ digambarkan yang kuat menduduki tahta Tumapel adalah seorang yang dapat memperisteri seorang putri,  cucu dari baginda prabu Hemabupati yang memiliki tanda nareswari pada bagian bagaretnanya._

_Apakah bapa mengetahui, di mana putri dimaksud ?_(desak Akuwu tidak sabar)

Brahmana tua itu berhenti berbicara sambil menundukkan wajahnya yang sudah keriput itu, beberapa kedipan mata sepertinya suatu tanda bahwa ia sedang mengingat peristiwa dua puluh tahun lalu. Kemudian perlahan berkata:

_Maafkan bapa, terpaksa bapa tidak dapat mengungkap rahasia ini. Itu sudah menjadi janji bapa pada baginda Hemabupati sebelum  mangkat. Kalau itu bapa langgar, akan terkena walad._

Akuwu wajahnya terlihat kecewa mendengar kata-kata gurunya. Ia hanya bisa tertunduk lesu, seakan kabut tebal yang menyelimuti pikiran dan hatinya kian bertambah.

_ Baiklah, bapa. Ananda mohon diri pulang ke Tumapel._

_Tunggu!_ (kata brahmana ketika melihat muridnya pergi dengan hati kecewa)

 _ Apakah nak mas dapat kupercaya?_ (kata Mpu Limparan sambil menatap wajah akuwu)

_ Dipercaya apa, bapa?_

_Bapa akan membuka rahasia ini tetapi dengan satu syarat,  ananda harus berjanji._

_ Syarat apa, bapa?_

_ Nak mas tidak boleh membuka rahasia ini kepada siapa pun dan sewaktu meminang putri itu harus dengan cara baik-baik. Apakah  nak mas mau berjanji?_

_Tentu.....bapa! Ananda berjanji akan memegang teguh janji itu,  apabila sampai melanggar ananda akan binasa._

_ Ketahuilah ananda, cucu baginda Hemabupati itu adalah bernama niken Anjar Pawestri, kutitipkan pada sahabatku Mpu Purwa di Panawijen._

Mendengar penuturan gurunya, akuwu hanya mengangguk-anggukan kepala sambil tatapan wajahnya agak tertunduk.

_Terima kasih, bapa. Tetapi yang masih menjadi teka-teki bagi ananda, mengapa cucu seorang raja binatara sampai dititipkan ke padepokan Panawijen?_

_ Ceriteranya panjang, anakku! Ketahuilah!  Waktu itu terjadi perselisihan antara Panjalu dan Jenggala. Baginda Jayabaya di Panjalu bersengketa dengan kakaknya baginda Hemabupati di Jenggala. Perang saudara tidak dapat dihindari lagi. Baginda Hemabupati kedapatan kalah perang, hampir seluruh keluarganya terbunuh.  Ketika itu baginda yang terluka parah menitipkan pesan kepada bapa agar cucunya diselamatkan. Akhirnya bapa berhasil lolos dari kobaran api kedaton yang dibumi hanguskan pasukan Panjalu, kemudian menitipkannya kepada sahabat bapa, brahmana Mpu Purwa di Panawijen._

_ Mengapa, bapa tidak mengasuhnya sendiri?_

_Bapa adalah brahmana wakil ring kasogatan di negeri Jenggala, tentu akan mudah diketahui telik sandi Panjalu dan itu akan mengancam keselamatan gusti putri Anjar Pawestri. Semenjak bayi itu kutitipkan di Panawijen, bapa pun harus menghilangkan jejak meninggalkan negeri Jenggala yang telah runtuh, selanjutnya  madepok di dusun Jugil lereng selatan ardi Welirang  yang jauh dari keramaian ini, nak mas._

Akuwu diam tertegun mendengar kisah pelarian yang memilukan itu. Rupanya ia sedang hanyut terbawa kisah tragedi yang dituturkan gurunya itu. Dalam hatinya berkata:
Sebuah pelarian yang luar-biasa, ini semua berhasil karena bapa guru Limparan setia dan teguh memegang janji kepada baginda Hemabupati”.

Setelah beberapa lama, akuwu berkata:

_Bapa, ananda merasa sangat berterima kasih atas nasehat dan arahan, bapa. Perkenankan ananda mohon diri pulang ke Tumapel._

_ Hati-hatilah anakku!  Jangan sekali-kali kau langgar janjimu!._

_ Bapa tidak perlu khawatir, ananda akan selalu memegang janji itu, bapa._ (kata Akuwu sambil memberi hormat dan beranjak pergi meninggalkan padepokan Jugil dengan wajah berseri-seri)

v         
      
        Keesokan harinya, sepulangnya dari padepokan Jugil, Akuwu dihadap oleh Keboijo, pimpinan pasukan pengawal di wisma paningrat.

_ Apa kau pernah pergi ke padepokan Panawijen?_

     Keboijo tampak  kaget, tiba-tiba tuannya melempar  pertanyaan secara  mendadak, tetapi ia kendalikan dirinya di antara kebingungannya menebak arah pertanyaan itu,  wajahnya kemudian diangkat sambil menarik napas, lalu berkata: 

_ Pernah, gusti._

_ Apa yang kau lihat?_

_ Kalau hamba tidak keliru ada seorang putri brahmana yang cantik rupawan dan halus budi bahasanya._

_ Katakan siapa namanya ?_

_ Putri brahmana Purwa itu bernama Ken Dedes. Konon kecantikan dan keagungannya tersohor seantero Tumapel._

_ Apakah dia putri satu-satunya di padepokan itu?_

_ Iya....gusti. Tidak ada lagi putri brahmana Purwa selain Ken Dedes._

Tampak Akuwu menarik napas panjang, wajahnya berubah berbinar seakan telah menemukan titik-titik terang,  pandangannya menatap ke depan sedang membayangkan citra putri brahmana seperti yang diceritakan gurunya brahmana Limparan.  Akuwu  masih tampak  berdiri mematung sambil kedua tangannya dilingkarkan dadanya. Sebentar-sebentar ujung jarinya dimainkan di bibirnya. Tetapi masih ada teka-teki yang masih membingungkan:

Bapa guru Limparan mengatakan gadis itu bernama Anjar Pawestri. Tetapi mengapa bernama Ken Dedes. Apakah mungkin bapa brahmana Purwa sengaja mengubahnya agar tidak diketahui oleh penguasa Panjalu?”.  Aku akan membuktikannya sendiri.

_ Baik, Keboijo. Antarkan aku besok ke Panawijen!_

_Apakah tidak sebaiknya, mengirim utusan terlebih dahulu, gusti ?_

_Tidak,  aku ingin melihatnya sendiri._

_Sendika dhawuh gusti._

Ketika pagi tiba, kereta kuda itu tampak telah siap di depan bale agung pakuwon Tumapel.   Keboijo dengan beberapa puluh prajurit tampak sibuk mempersiapkan keberangkatan ke Panawijen yang jaraknya tidak jauh dari pakuwon. Kini, akuwu tampak berjalan keluar bale agung menuruni undakan menunju kereta sambil memberi isyarat berangkat. Tampak Keboijo dan Tumpak Jalak dengan gagahnya duduk di punggung kuda di barisan paling depan  memandu jalannya kereta. Langkah kaki kuda itu bergerak perlahan keluar pintu gerbang utama Pakuwon diiringi sepuluh orang prajurit pengawal. Ketika kereta iring-iringan itu melintas di jalan banyak kawula alit menyaksikan iringan kereta itu sambil berdiri berjajar.  Kawula alit itu bersorak sorai, ketika akuwu melambaikan tangan ke arah mereka.  Ketika  iring-iringan telah memasuki regol luar padepokan Panawijen. Suasana padepokan itu tampak sepi, seorang cantrik padepokan terlihat berlari tergopoh-gopoh mendekati Keboijo, kepala pengawal.

_He......cantrik ! Sampaikan kepada gurumu, gusti akuwu akan berkenan singgah di padepokan ini !._

_Ampunkan hamba, gusti. Bapa brahmana saat ini tidak berada di padepokan._

_ Kemana ?_

_Sudah beberapa hari ini tidak tampak. Hamba tidak mengetahui perginya._

_Baiklah.......bolehkah gusti Akuwu singgah sebentar di padepokan ini ?_

_Oh............silahkan!._ (kata cantrik itu tampak agak gugup mempersilahkan).

Akuwu sudah turun dari kereta, pandangannya diarahkan untuk melihat-lihat keadaan padepokan yang tampak asri. Sesaat kemudian akuwu melangkahkan kaki menuju sendang yang airnya jernih tidak jauh dari pendapa. Tertegun melihat ikan-ikan yang sedang bercengkerama di balik daun teratai merah yang bunganya menyembul di permukaan.  Keboijo mengiringinya.

_ Aku tidak menduga suasana padepokan ini begitu asri. Sejauh mata memandang ke arah barat tampak ardi Indrakila dan ardi Panderman, ke arah timur ardi Bromo, ke arah tenggara tampak ardi Mahameru yang di kepundannya selalu menyembulkan asap putih bergulung-gulung ke angkasa._ 

_ Kasinggihan gusti._

_ Apakah putrinya tinggal di padepokan ini ?_

_ Iya, hamba sudah menyuruh menyampaikan kedatangan gusti._ (kata Keboijo).

Akuwu tampak mengangguk-angguk, tidak lama kemudian seorang anggota pengawal berjalan agak terburu-buru mendekat akuwu, sambil berkata:

_ Gusti akuwu dipersilahkan ke bale pendapa._

Akuwu kini berjalan diiringi Keboijo menaiki tangga trap-trapan pendapa, kemudian duduk di kursi rotan yang tertata rapi di tengah ruangan.  Tidak lama dari pintu butulan gandok yang menghubungkan bale pendapa dengan ruang dalam itu terdengar suara deritan pintu. Dari balik pintu itu muncul sesosok gadis berwajah elok mempesona, berperawakan langsing tinggi semampai, di telinganya terselip sekuntum locari putih. Gadis itu  memandang akuwu dengan seulas senyum. Akuwu terpana,  pandangan matanya tanpa kedip  seperti tersihir tak ubahnya menyaksikan dewi Supraba turun dari kahyangan. Dalam hati akuwu berkata:

 Citra kembang padepokan Panawijen ini ternyata tidak hanya cantik tetapi juga memancarkan keanggunan melebihi putri kedaton sekali pun. Walau hidup di padepokan sederhana, guratan dan trah kebangsawanannya masih kentara sekali”. Merasa ditatap, gadis itu menundukkan wajahnya tampak  tersipu malu. Ia  memberi hormat dan mempersilahkan tamunya duduk. Tampaknya gadis itu akan bergegas pergi, tetapi sebelum melangkah, akuwu menahannya dengan berkata :

_ Tunggu sebentar cah ayu ! Aku adalah akuwu Tumapel  ingin bertemu bapa brahmana._

_Bapa sedang tidak ada di padepokan._ (kata Ken Dedes dengan suara manis sepet madu).

_ Lalu siapa andika ?_ (kata Akuwu)

_ Nama hamba Ken Dedes, putri bapa brahmana._

_Duduklah bersamaku, aku ingin berkenalan denganmu._ (pinta Akuwu). 

_ Maaf gusti, bukannya  hamba menolak tetapi tidak sopan bagi seorang gadis menemui tamu tanpa ada orangtua yang mendampinginya._

_ Ah.....tidak apa, aku datang bukan untuk maksud buruk malahan sebaliknya aku ingin melamarmu !._

Mendengar kata akuwu seketika Ken Dedes bagaikan tersambar halilintar di siang bolong, bumi padepokan yang selama ini tenang seakan diguncang gempa bumi, air sendang yang berada di sudut padepokan tampak mendidih. Ken Dedes tidak mengira seorang akuwu yang menjadi panutan kawula seluruh Tumapel menyatakan maksud meminang dirinya dengan cara serendah ini. Seketika Ken Dedes bergegas lari menuju pintu bilik dalam, tanpa diduga di depan pintu itu sudah dijaga rapat oleh beberapa prajurit yang  menghalanginya. Tangan-tangan kuat itu menyahutnya. Tangan halus itu mencoba meronta, tetapi apa arti rontaan seorang gadis dibanding tangan-tangan kuat para pengawal yang siap memberandat itu. Ketika kedua tangan gadis itu tidak berdaya, dua orang pengawal segera menariknya berjalan untuk di hadapkan pada akuwu.

_Ken Dedes sebenarnya aku tidak bermaksud memperlakukanmu seperti ini! Tetapi mengapa kau menolakku?_ (kata Akuwu diiringi senyuman).

_ Tidak ! Kau tidak beda dengan raja Daha! Memperlakukan keluarga brahmana seperti pesakitan!  Pantas kawula di Tumapel kini tidak menghormatimu lagi!_ (kata Ken Dedes sambil meronta melepaskan kedua tangannya tetapi rupanya sia-sia). Menerima umpatan itu sang akuwu seketika darahnya terasa bergolak mendidih, harga dirinya seorang yang paling berkuasa di Tumapel merasa terhina, wajahnya seketika berubah merah padam, matanya tampak merah berkilat kocak ngondar-andir disertai dengus napas memburu. Di balik itu hasrat birahinya memuncak ketika menyaksikan putri brahmana itu meronta-ronta.  Kemudian tan taha-taha berkata dengan nada membentak:

_ Pengawal ! Bawa gadis ini ke kereta !_

Akuwu segera bergegas meninggalkan bale pendapa itu menaiki kereta, gadis itu meronta ketika diseret akan dinaikkan paksa ke dalam kereta.

     _ Lepaskan aku ! Lepaskan ! Kau biadab ! _ (rontak gadis itu sejadi-jadinya tetapi teriakan itu tidak dihiraukan). Tiba-tiba seorang pemuda berlari akan menolong putri gurunya yang sedang meronta itu. Pemuda itu mendekati kedua orang pengawal yang memegang kedua tangan Ken Dedes.   Melihat gelagat pemuda itu akan memberi perlawanan, kedua pengawal lainnya  meloncat dari punggung kuda dan segera menghadang. Sambil berkacak pinggang kedua prajurit itu berkata:

      _ Kau mau apa ?_ (kata salah seorang prajurit dengan angkuhnya).

      _ Tentu saja aku akan menyelamatkan putri padepokan ini dari orang-orang  jahat seperti kalian !._

      _ Heh....tutup mulutmu ! Minggir !._ (bentak salah seorang prajurit lainnya).

      _ Aku tidak mundur sebelum kau melepaskannya!_

      _ Ho...hoo.......hhoooooo ! Sesumbarmu seperti jawara saja ! Lihat kau ini tidak lebih dari anak desa yang konyol !_ (ejek prajurit).

      Seketika Wreksapati tidak dapat mengendalikan dirinya dan melabrak dua orang prajurit itu.  Serangan-serangan Wreksapati dapat ditangkis dengan mudah oleh kedua prajurit itu. Pertarungan itu tampaknya berjalan tidak seimbang dan kini berbalik kedua prajurit itu dengan cepat menyerangnya. Pemuda itu sepertinya tidak kuasa menahan serangan  prajurit pengawal yang tampaknya sudah terlatih dalam pertarungan. Tidak berapa lama pukulan demi pukulan serta tendangan bersarang menghajar babak belur ke arah tubuhnya.  Ketika pemuda itu tampak melemah gerakannya dengan kaki sempoyongan, salah seorang pengawal menghunus keris yang diselipkan di pinggangnya dan dengan sekali gerakan cepat dan menghentak disarangkan ke dada pemuda itu. Darah menyembur dari luka tusukan itu. Ujung keris tembus sampai belikat, pemuda itu roboh bersimbah darah  beberapa saat berkelojotan dengan mata melotot sesaat lagi tubuhnya  tidak bergerak.  Perempuan tua yang menyaksikan kejadian singkat itu seketika menjerit-jerit sejadi-jadinya minta tolong pada orang-orang di sekitar padepokan. Kemudian berlari menubruk tubuh anaknya kini telah tidak bernyawa.

      _ Wreksapati anakku !  Mengapa kau nekat melawannya !. Akhirnya kau jadi korban, nak !._ (jerit perempuan tua itu memilukan sambil menggoncang-goncang tubuh anaknya yang terkulai lemas  itu disertai raungan tangis menyayat hati).  Ken Dedes melihat kejadian itu dengan  linangan air mata yang terbendung, napasnya seakan sesak, kakinya seakan tidak berdaya untuk menyangga tubuhnya. Tiba-tiba pandangannya menjadi gelap, bumi terasa berputar-putar  dan sesaat kemudian gadis ayu berkuning langsat itu jatuh kantaka tidak sadarkan diri.  Emban wanita tua yang melihat  putri asuhannya jatuh pingsan segera berlari menghampirinya, sambil menggoncang-goncang tubuhnya. Tanpa disadari kedua orang prajurit sudah berdiri di belakangnya. Tangan prajurit itu menjambak rambut wanita tua itu dan menariknya dengan sontak. Emban tua itu jatuh gelasaran di tanah. Salah seorang prajurit itu membopong Ken Dedes. Ketika itu emban tua itu berusaha bangkit untuk merebut putri asuhannya, tapi apa daya bagi seorang wanita yang telah renta itu, dengan sekali kibasan tangan, emban tua itu jatuh tersungkur di tanah sambil merangkak-rangkak bangun sementara tangannya berusaha menggapai-gapai.

      _ Den putri !.......Den ........! _ (pekik wanita tua itu sebelum menghembuskan napas terakhirnya).

      _ Biyung !............biyung !_ (teriak Ken Dedes ketika tersadar dari pingsannya).
     
      _ Lepaskan aku ! ......lepaskan aku ..!._  (ronta gadis itu ingin melepaskan dari cengkeraman tangan prajurit).

      _He prajurit lepaskan !._  (perintah Akuwu, prajurit itu melepaskan cengkeraman tangannya). Ken Dedes segera berlari ke arah biyung embannya yang terkulai lemah tak bernyawa dalam keadaan memilukan itu.

        _Biyung............biyung,  bangunlah biyung !._ (kata Ken Dedes sambil menggerak-gerakkan tubuh wanita tua yang tampak pucat itu). Setelah beberapa saat menggoncang-goncangkan tubuhnya, barulah Ken Dedes sadar bahwa inang pengasuhnya telah tidak bernyawa lagi.  Seketika itu gadis itu  berteriak memilukan : Biyung. !...biyung !

            _ Oh ...biyung...........jangan tinggalkan aku biyung !_ (tangis Ken Dedes memilukan melihat inang pengasuhnya meninggal di dalam dekapannya).

    _ Kau memang pembunuh.!._  (Ken Dedes dengan wajah geram sambil tangannya menuding salah seorang prajurit yang menyebabkan kematian).  Prajurit yang dituduh itu hanya tertawa. Ken Dedes makin marah dengan sikap prajurit itu, lalu bangkit dan berkata:

    _ Kau memang bukan manusia ! tetapi binatang !_ (umpat Ken Dedes)
         
        Di tengah-tengah suasana hiruk-pikuknya keributan berlangsung, tiba-tiba  seorang pemuda datang sambil berlari ke tempat itu. Ken Dedes memanggilnya:

                 _ Kakang Wiraprana !  (Kedua insan itu berpelukan cukup lama)

    _ Kakang lihatlah biyung dan Wreksapati telah tiada !_ (kata Ken Dedes sambil menunjuk tubuh perempuan tua yang masih terlentang di tanah). Wiraprana lari menghampiri  biyung emban yang sudah tidak bernyawa itu, sambil memeriksa keadaannya. Kemudian berlari menghampiri saudaranya Wreksapati yang tergeletak bersimbah darah. Seketika darahnya mendidih, matanya merah berkilat laksana mata elang, kemudian berkata dengan nada geram.

    _ He ....prajurit biadab !  Belum pernah kusaksikan kebiadaban seperti yang kalian lakukan ini !._

   _ Haa....haaaaaaa.........haaaaaaaaaa  !. (tawa Tumpak Jalak nyaring membalas umpatan pemuda itu).

   _ Kau seorang diri, mau apa ?_ (tantang Tumpak Jalak sambil berlagak angkuh berkacak pinggang berjalan mengelilingi pemuda itu dengan pandangan meremehkan)

   _ Aku akan mempertahankan harga diriku sebagai murid padepokan._ (kata Wiraprana tegas).

   _ Ho....hoo...hooo !  Lebih baik kau ikut kami menjadi prajurit Tumapel._

   _  Apa ?  Menjadi prajurit bejat seperti kalian!_ (kata Wiraprana sambil tangannya menuding wajah Tumpak jalak).

   _ Iya...daripada jadi murid padepokan berkepala gundul dengan kain warna lembayung seperti itu !._ (sahut Tumpak Jalak mengejek).

   _ Huh...kau benar-benar telah menghina padepokan ini! Rasakan ini !._ (kata Wiraprana berteriak sambil menyerang Tumpak Jalak ketika tidak lagi dapat menahan amarahnya). Tumpak Jalak dapat mengelak serangan yang datangnya cepat dan bertubi-tubi itu.  Sesaat kemudian Tumpak Jalak melompat surut ke belakang dengan gerakan yang cukup gesit. Kemudian berkata:

   _ Hei .......Wiraprana ! Kuperingatkan kau untuk membiarkan kami pergi! Jangan menambah korban akibat ketidak-sabaran kami!_ (bentak Tumpak Jalak sambil tangannya menuding Wiraprana).

   _ Bagiku mati lebih baik daripada membiarkan bedebah busuk  seperti kalian mengotori padepokan ini._ (balas Wiraprana dengan gagah).

   _ Akan kuladeni tantanganmu !._ (kata Tumpak Jalak sambil melompat ke depan mendekati Wiraprana).

      Kedua orang itu campuh  kembali ke arena pertempuran dengan sengit mengadu kerasnya tulang, uletnya kulit. Keduanya saling menyerang dengan segenap tenaga. Jurus demi jurus berlalu, tampaknya pertarungan masih berjalan seimbang. Elmu kanuragan Wiraprana benar-benar tidak dapat dipandang remeh. Bahkan ketika memperoleh kesempatan anak itu dapat menyarangkan tendangannya secara telak ke rusuk lawannya. Tumpak Jalak terhuyung surut ke belakang sambil batuk-batuk mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Sesaat kemudian Tumpak Jalak maju ke tengah arena setelah mengatur pernafasannya. Kali ini serangannya lebih ganas disertai kibasan pedang yang menjilat-jilat laksana lidah seekor naga.  Wiraprana melompat-lompat menghindari sabetan pedang itu. Ketika Tumpak jalak mulai tampak mengendor serangannya dan terlihat semakin lamban, kini  ganti Wiraprana mengambil kesempatan untuk menepis tangan lawannya. Pedang terlepas dari genggaman meletik ke udara. Tumpak Jalak kaget dan terngaga mulutnya. Belum sempat tersadar, Wiraprana melompat sambil menyahut pedang itu dan dengan gerakan  secepat kilat menyabetkan pedang itu ke leher lawannya. Terdengar teriakan mengaduh keluar dari mulut lawannya yang meringis menahan sakit. Tumpak  Jalak terhuyung-huyung akhirnya jatuh terjerembab ke tanah dengan darah bersimbah dari lehernya.  Tampak sesaat berkelojotan sebelum tubuhnya terkulai lemas menghembuskan napasnya yang terakhir.

     _ Huh ......anak muda ini membunuh teman kita, hayo kita keroyok !._ (kata Keboijo memerintahkan sepuluh anak buahnya mengeroyok anak muda itu). Wiraprana berusaha meloncat ke sana-ke mari menghindar serangan dan kepungan sepuluh orang lawannya. Waktu pertarungan terus berlalu, Wiraprana sama sekali tidak dapat mengembangkan serangannya karena jumlah lawan yang dihadapinya tidak seimbang.  Yang dapat dilakukan hanya menghindar dari serangan senjata yang bertubi-tubi.  Bahkan makin lama gerakannya makin lamban. Ketika dalam suatu kesempatan kelengahan itu dimanfaatkan oleh Keboijo melempar pedangnya. Secepat kilat pedang itu melesat  ke arah dada Wiraprana sampai menimbulkan suara berdesing. Ketika mengetahui,  melesatnya pedang itu sudah sangat dekat, sepertinya sudah terlambat dan akhirnya  tidak kuasa lagi menghindar dan.........achh...........pedang itu menembus dada Wiraprana.
      Seketika itu anak muda kaget setengah terbelalak, sambil berdiri mematung menahan rasa sakit, sebentar kemudian jatuh terduduk dan roboh bergelimpangan  di tanah bersimbah darah. 

      _ Oh.....kakang !_ (pekik Ken Dedes ketika mengetahui Wiraprana jatuh tidak berdaya. Sesaat kemudian gadis itu merasa pandanganya gelap dan ambruk kantaka  tidak sadarkan diri seperti  tak kuasa menahan beban batinnya terobek-robek). Salah seorang prajurit dengan cekatan menyahut tubuh gadis itu dan secepat kilat menaikkan ke dalam kereta disandingkan dengan akuwu. Seketika kusir kereta itu seperti memperoleh aba-aba dari kepala pengawal segera mencambukkan pecutnya dengan keras,  kuda  itu kaget dan melonjak sontak  dengan kaki depannya   terangkat. Sesaat kemudian kusir itu menggebrak lari kereta itu secepat kilat meninggalkan padepokan disertai kepulan debu berhamburan ke udara. Prajurit pengawal bergegas mengikutinya di belakang.  Salah seorang cantrik padepokan berlari ke arah kenthongan di sudut pendapa. Tangannya meraih kayu pemukul dan tidak berapa lama terdengar suara kenthongan titir sandi rajapati. Seketika orang-orang desa ramai berdatangan, menyaksikan tiga orang yang jatuh menjadi korban pembunuhan dengan rasa pilu dan bulu roma bergidik.

v         

      Nyala api obor di sudut padepokan Lohgawe itu tampak bergerak-gerak diterpa angin yang malam itu bertiup cukup kencang.  Hujan turun tidak begitu deras tetapi disertai kilatan petir yang keras menggelegar laksana membelah angkasa.  Di tengah keremangan malam itu seekor kuda berlari memasuki regol padepokan Lohgawe. Penunggangnya tampak basah kuyup, segera meloncat dari punggung kuda. Kuda itu dituntunnya perlahan memasuki istal yang letaknya di belakang padepokan. Pemuda itu melangkah menuju biliknya di samping padepokan.  Tidak lama kemudian terlihat api unggun menyala di beranda depan bilik bambu itu. Pemuda itu tampak sedang membuat perapian untuk menghangatkan tubuhnya yang hampir setengah hari diguyur hujan. Setelah beberapa saat menghangatkan tubuhnya, tiba-tiba anak muda itu dikagetkan oleh suara panggilan seorang gadis.

   _ Kakang! Ini sekedar untuk penghangat._ (kata gadis itu menyuguhkan secangkir wedang panas dan jajanan hangat).

      Anak muda itu menoleh dari arah datangnya gadis yang memanggilnya itu,  sesaat kemudian gadis itu berjalan menghampirinya sambil meletakkan wedang hangat dan beberapa potong jajanan.

      _ Terima kasih, kau repot-repot saja._ (Kata Ken Arok sambil sekilas memandang gadis belia itu).

      _ Apa bapa sudah pulang dari pakuwon ?_

      _ Bapa  ?_ (kata Ken Umang setengah keheranan).

_ Iya......bapa dan paman Sampar angin !_

      _ Bapa dan paman sedang duduk di ruang dalam, kakang._

          Air hujan yang jatuh dari atap ijuk itu terdengar gemericik, sebentar-sebentar kilatan cahaya petir  menyibak gelapnya malam. Sekilas Ken Arok melihat wajah gadis belia itu tampak cantik dengan dandanan yang mengundang birahi.  Wedang hangat itu segera diseruput, kemudian Ken Arok bersiap akan menuju ruangan dalam yang letaknya berseberangan dengan biliknya. Belum lagi melangkah, tangan halus itu menahannya.

      _ Kakang mau kemana ?_ (tanya gadis itu dengan nada agak kecewa sambil wajahnya bersungut-sungut).

      _ Menemui bapa dan paman !._

      _Tunggu !_ (kata Ken Umang manja sambil tangannya memegang erat lengan Ken Arok).

          _Kakang membohongiku! Kemarin berjanji akan mengantar ke bukit, nyatanya ditinggal pergi._ (kata Ken Umang merajuk).

          _ Aku nekat pulang dengan basah kuyup seperti ini agar besok pagi bisa mengantarkanmu ke bukit itu. Aku pergi karena diutus bapa mengantarkan brahmana kutaraja  ke Panawijen._ (kata Ken Arok berkilah)

         _ Jadi kakang tidak bohong ?_ (tanya Ken Umang merajuk).

_ Siapa yang bohong ?_ (kata Ken Arok meyakinkan).

_Terima kasih, kakang !_ (kata Ken Umang secara spontan mendaratkan ciuman bibirnya yang menggairahkan itu ke pipi Ken Arok, seketika Ken Arok kaget  tanpa menduga sebelumnya, lebih-lebih ketika merangkulnya dari belakang, terasa dua permata yang menonjol di dada gadis itu menyentuh punggungnya, seketika itu wajahnya terkesiap, darah mudanya mengalir deras seakan mendidih, desah napasnya memburu. Hawa dingin malam itu seakan berubah panas sepanas bara api. Tetapi Ken Arok segera sadar dan  dapat mengendalikan dirinya, kemudian berkata:

_ Besok pagi kakang akan antarkan ke bukit itu._

_Sebenarnya aku dapat saja pergi sendiri ke bukit itu, tetapi teman-temanku selalu menakut-nakuti kalau di dalam gua terdapat seekor naga yang sangat menakutkan, kakang._

_ Seekor naga ?_

_ Iya, salah seorang temanku pernah melihat naga itu ketika  memakan kijang yang masih tersisa di mulutnya. Bapa melarangku pergi sendirian tetapi kalau ada yang menemani baru diijinkan._

_ Iya.....iya!  Masuklah ke dalam, kini aku akan menemui bapa dan paman._ (kata Ken Arok menyabarkan gadis belia yang manja itu agar menuruti perintahnya, sesaat kemudian gadis belia meninggalkan tempat itu dengan suka cita). Ken Arok hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat sifat gadis yang periang itu. Dalam hatinya berkata:

“kalau gadis asli Jawadwipa usia sebaya dengannya  sudah tahu malu tetapi gadis Jambudwipa seperti Ken Umang sama sekali belum punya malu”. Ken Arok tanpa terasa sudah berada di depan pintu ruangan dalam yang setengah terbuka.

        _ Kau sudah datang, anakku ! (sapa Mpu Lohgawe ketika Ken Arok muncul dari balik pintu).

          _ Iya, bapa. Setelah dari Panawijen aku segera berpamitan bapa Mpu Purwa._

          _Terima kasih, kau telah banyak membantu para brahmana._ (kata Mpu Lohgawe).

          _ Duduklah !_ (kata Ki Samparangin sambil sekilas melihat wajah muridnya).

          _ Kau tentunya bertanya, mengapa aku dan pamanmu belum pergi ke pakuwon ?_

          _ Iya....bapa!  Aku tadi mengetahuinya dari Ken Umang._

          _ Aku dan pamanmu mendapat kabar bahwa akuwu sedang tidak berada di tempat._

          _ Tidak berada di pakuwon ?_

          _ Beberapa prajurit pengawal yang tinggal di pakuwon tidak mengetahui ke mana akuwu pergi._

          Belum lama berbicara, tiba-tiba dikejutkan suara derap kaki kuda memasuki halaman padepokan. Tidak lama kemudian salah seorang murid padepokan memasuki ruangan, sambil berkata:

          _ Maafkan bapa, ada utusan brahmana dari kutaraja._

          _ Antarkan kemari !_ (perintah Mpu Lohgawe).

          Utusan itu memasuki ruangan dalam di antar murid padepokan. Setelah memberi hormat, utusan itupun duduk di atas tikar menghadap Mpu Lohgawe, sambil berkata:

          _ Maafkan bapa, kami diutus brahmana Mpu Narayana. Beliau mengirimkan nawala ini untuk disampaikan bapa._ (kata utusan itu sambil tangannya mengambil gulungan lontar yang diselipkan di balik bajunya. Perlahan diserahkan kepada Mpu Lohgawe).  Perlahan gulungan lontar itu dibuka, perlahan kemudian dibacanya.

          _Hem...........perkembangan di kutaraja semakin tidak menentu!._ (kata Brahmana Jambudwipa itu setelah membaca isi nawala).

          _ Tidak menentu bagaimana ?_ (kata Ki Sampar angin ingin tahu).

          _ Baginda kini menyatakan dirinya sebagai titisan bathara Syiwa yang akan menghukum para brahmana yang membelot ke Tumapel. Dalam nawala itu baginda menegaskan jika Mpu Pamor, Mpu Sidhara dan Mpu Kuturan apabila dalam jangka waktu tiga purnama tidak dapat menyelesaikan tugasnya akan dipenggal lehernya di alun-alun manguntur kutaraja karena dianggap pengkhianat._

          _ Dianggap pengkhianat ?  Bukannya ketiga brahmana itu mengemban tugas dari baginda sendiri !._ (kata Ki Sampar angin setengah tidak mengerti).

          _Jadi Mpu Narayana mengiriman nawala ini agar brahmana kutaraja yang kini berada di Tumapel itu segera kembali tepat pada waktunya agar  baginda tidak menjatuhkan hukuman ?._ (tanya Mpu Lohgawe memperjelas pada utusan).

          _ Iya, bapa._

          _ Ketahuilah saat ini, brahmana Mpu Pamor, Sridhara dan Kuturan tidak berada di sini, melainkan di padepokan Panawijen. Aku mengerti maksud baik barhmana Narayana, tetapi mereka telah menyampaikan hasratnya untuk sementara waktu tidak akan pulang kembali ke kutaraja, apapun yang terjadi sebelum tugas yang diembannya usai!.  Sampaikan kepada gurumu brahmana Narayana, persoalan Ken Arok sedang ditangani. Ketiga brahmana kutaraja bersamaku akan menyelesaikan tugas yang diperintahkan baginda, semoga dalam waktu tidak terlalu lama ?_

          _Kasinggihan, bapa. Saya akan sampaikan pesan ini kepada bapa brahmana Narayana._

          _ Baik ! beristirahatlah, esok pagi aku menitipkan nawala untuk disampaikan brahmana Narayana, gurumu!_ (kata Mpu Lohgawe). Utusan itu undur diri diiringi murid padepokan untuk beristirahat.   Mpu Lohgawe terdiam sesaat, kemudian berkata:
         
         _ Baginda tampaknya terus menekan brahmana. Itu suatu bukti baginda sengaja menyudutkan brahmana. Perubahan di tanah Jawadwipa ini sering didahului oleh gara-gara seperti peristiwa saat ini. Tingkah laku baginda prabu yang mengaku titisan batara guru menjadikan bumi Jawadwipa ini menjadi panas laksana bara api,  samudra laksana mendidih, bumi berguncang laksana sungsang bawana balik. Kesewenang-wenangan ini ibaratnya prahara bagi bumi Jawadwipa._ (ujar brahmana Lohgawe melukiskan dengan kata-kata kiasan).

          _ Iya,  kini semakin  jelas semuanya, kita tidak  bisa lagi duduk termenung seperti gunung, tetapi kita harus bergerak laksana ombak, berlari laksana api,  bergelora laksana samudra !  Apa salahnya ketiga brahmana itu akan dihukum pati?_ (timpal Ki Sampar angin dengan bahasa perumpamaan disertai sorot mata merah berkilat yang menunjukkan jiwa kependekarannya bangkit).

          _ Iya............aku tidak melihat kesalahan ketiga brahmana kutaraja itu apalagi berkhianat.  Tidak terbersit sedikitpun dari wajahnya atau sepenggal katapun yang keluar  dari Mpu Pamor, Mu Sidhara maupun  Mpu Kuturan untuk berkhianat. Ketiganya datang ke Tumapel atas titah baginda, kini baru sepekan melakukan tugas sudah ada berita ancaman hukuman seberat itu. Sungguh baginda sudah kehilangan nurani kebijaksanaan sebagai raja._ (kata Mpu Lohgawe sambil menatap wajah Ki Sampar angin).

          _Bagaimana pendapatmu Arok ?_ (kata brahmana Jambudwipa itu tiba-tiba).

          Ken Arok terdiam sesaat seperti sedang memikirkan jawabannya. Kemudian berkata:

          _Maaf bapa, menurut dugaanku,  baginda saat ini telah hilang kepercayaan terhadap brahmana. Kemungkinan kedua, baginda sengaja menjebak brahmana ke dalam perangkap yang dibuatnya._

          _ Apa maksudmu ?_ (tanya Mpu Lohgawe)

          _Baginda berusaha menjatuhkan kewibawaan brahmana, menumpuk kesalahan demi kesalahan yang dituduhkan, kemudian setelah cukup alasan, baginda akan menjatuhi hukuman._ (kata Ken Arok dengan tangkas)
         
Mendengar penuturan Ken Arok, Mpu Lohgawe diam-diam memuji kecerdikan anak muda itu dalam melihat secara jernih di tengah-tengah kabut kemelut pertikaian yang terjadi saat ini.

_ Iya, aku juga punya dugaan seperti itu.  Mpu Pamor dan Mpu Sridhara pernah mengatakan padaku beberapa waktu lalu. Jauh sebelum hubungannya dengan kaum brahmana memburuk, baginda telah berusaha menggerogoti kewibawaan brahmana dengan caranya sendiri._ (kata Mpu Lohgawe).

_ Apa maksudnya ? _ (kata Ki Sampar angin).

_Setiap malam pisowanan, baginda selalu menggelar cerita Mahabarata dan Ramayana di balai agung istana._

_ Apa hubungan cerita itu dengan kaum brahmana ?_ (kata Ki Sampar angin).

_ Ketahuilah ! Kedua wiracerita itu sangat menyudutkan kedudukan dan kewibawaan kaum brahmana. Sebaliknya sangat menjunjung tinggi kedudukan para ksatria._ (jelas Mpu Lohgawe).

_ Apa benar begitu, kakang ?_ (kata Ki Sampar angin).

_ Iya...........itu namanya menggoroti secara halus._ (kata Mpu Lohgawe).

_ Kalau sekarang, tidak lagi menggerogoti,  tetapi.............._ (kata Ki Sampar angin tidak diteruskan)

_ Tetapi apa ?_ (sahut Mpu Lohgawe)

_Menelan mentah-mentah!_ (canda Ki Samparangin) . Mendengar canda Ki Samparangin, brahmana Lohgawe tertawa terpingkal-pingkal.

_Bisa saja kau bercanda._ (kata Mpu lohgawe ketika tawanya hampir reda).

_ Semula memang dimulai dari perangkap halus, setelah merasa dapat mengendalikan, baginda bertindak lebih berani dan kasar.  Tidak lagi  kewibawaan brahmana yang dijatuhkan tetapi mengancam keselamatannya._ (kata Ki Samparangin diiringi wajah serius).

_ Kini, sebagian kecil brahmana masih mendukung baginda, mungkin karena takut tidak berdaya menghadapi tekanannya. Tetapi sebagian besar telah membelot baik secara terang-terangan maupun diam-diam !._ (kata Mpu Lohgawe).

_Biarkan saja, mana yang lebih dahulu !._ (kata Ki Samparangin)

_ Apa maksudmu ?_ (tanya Mpu Lohgawe memperjelas).

_Sudah biasa setiap pihak dalam perseteruan, masing-masing punya rencana dan tindakan sendiri. Baginda sudah memulainya, kini tinggal rencana dan tindakanmu mewakili kaum brahmana!_

             _Aku mengerti, ibarat sebuah permainan, kita tinggal menunggu rencana dan tindakan mana yang lebih unggul pada babak-babak akhir yang menentukan._ (kata Mpu Lohgawe tangkas).

          _ Lalu kau sendiri sebagai pendekar membuat  rencana dan tindakan apa ? ._ (kata Mpu Lohgawe memancing).

          _ Aku ?_ (kata Ki Sampar angin seakan mungkir ).

          _ Iya.....kau!._ (kata Mpu Lohgawe).

          _ Aku tidak punya rencana muluk-muluk,_ (kata Ki Sampar angin).

          _Apa rencanamu ? Selama ini aku tidak pernah mendengar!._ (kata Mpu Lohgawe).

          _ Bukankah setiap siasat tidak perlu diungkapkan!_

          _Iya.....tetapi kau sepertinya belum berbuat sesuatu._ (desak Mpu Lohgawe).

          _ Kau tidak perlu tahu sekarang kakang, nanti suatu saat akan tahu dengan sendirinya !_ (kata Ki Sampar angin menghindar).

          _ Aku sempat mendengar isteri prameswari baginda, Ratu Amisani sakit keras._ (kata Ki Sampar angin mengalihkan pembicaraan).

          _ Iya! Menurut Mpu Pamor hampir semua tabib dan Mpu pangusadan telah dipanggil ke istana tetapi semuanya takluk menyerahkan lehernya kepada baginda karena merasa tidak mampu menyembuhkan penyakitnya._ (kata Mpu Lohgawe menceritakan seperti yang dikatakan Mpu Pamor).

_ Sakit macam apa itu?_ (kata Ki Samparangin menyela).

_ Mpu Pamor setengah berbisik mengatakan padaku bahwa permaisuri terkena racun?_ (kata Mpu Lohgawe menirukan kata Mpu Pamor).

_ Hem...... tidak salah dugaanku,  terkena racun !_ (kata Ki Samparangin menduga).

_ Kapan kau menduga?_

_Iya.........dalam bayanganku._ (kata Ki Samparangin singkat).

_Permaisuri bukan terkena racun seperti biasanya, melainkan racun yang membuat hatinya selalu dirundung kesedihan dan merana!_

_ Apa tanda-tandanya yang dikatakan Mpu pamor ?_

_ Badannya sering menggigil terasa sangat panas,  wajahnya memucat berubah biru kehitam-hitaman, keadaan badannya semakin lemah dan  rapuh._(kata Mpu Lohgawe menuturkan cerita Mpu pamor).

_ Jelas !  itu terkena racun yang sangat berbahaya !._ (kata Ki Samparangin sambil jari telunjuknya digerakkan untuk meyakinkan).

_ Racun apa itu ?_

_Kalau tidak keliru itu racun Kunjana darubeksi._  (kata Ki Samparangin menduga ).

_ Kau ternyata banyak tahu tentang racun!  Oh...iya aku ingat karena kau tidak saja pendekar utama dunia persilatan tetapi juga guru besar ilmu racun dan telik sandi._

_ Kau ini ada-ada saja! Bukankah racun di Jambudwipa dan Kitanagari (negeri Cina) lebih hebat dari ilmu racun di Jawadwipa ini!_ (kata Ki Samparangin membalas ledekan Mpu Lohgawe).

_Tidak! Racun itu lebih aneh daripada racun di Jambudwipa maupun Kitanagari. Korban tidak mati seketika melainkan hanya membuat orang menjadi hilang gairah hidupnya. Sedang racun dari Jambudwipa dan Kitanagari hanya ganas mematikan saja._

_ Wah.............kalau begitu akan kubuat racun yang bisa menjadikan merasa senang dan dapat melupakan semua kesedihannya, kemudian kuberikan kepada kaum brahmana saat ini yang sedang bersedih akibat tertekan dipojokkan oleh baginda._ (ledek Ki Samparangin).

_Kau ini ada-ada saja! Terus apa penangkal racun yang menjangkiti permaisuri itu ?_

          Ki Sampar angin menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik napas panjang, kemudian berkata:

          _ Elmu racun itu sudah hilang hampir seratus tahun lalu, aku sendiri sebelumnya menduga kalau elmu racun kunjana darubeksi itu sudah musnah, tetapi tanda-tanda yang diderita permaisuri itu jelas terkena racun itu._ (kata Ki Sampar angin dengan mimik dibuat-buat seperti orang keheranan).
         
          _ Apa ada obat penangkalnya?_ (tanya Mpu Lohgawe)

          _Sebenarnya ada,  tetapi ................_ (kata Ki Samparangin tidak diteruskan)

          _ Tetapi apa ?_ (kata Mpu Lohgawe setengah mendesak).

          _Oh....tidak, percuma kukatakan ! Akupun  bukan tabib atau  ahli pangusadan yang dapat menyembuhkan!  (kata Ki Sampar angin mengelak).

          _Lalu ahli apa ?_ (kata Mpu Lohgawe)

          _Iya........ahli yang tidak perlu dikatakan!_ (kata Ki Samparangin berkelit).

          _ Seharusnya kau pergi melawat ke kutaraja mengajukan diri untuk mengobati sakit permaisuri._ (kata Mpu Lohgawe).

          _ Aku sendiri sudah tidak lagi punya isteri, mengapa harus repot-repot nyembuhkan isteri orang lain?  Lebih baik kau sajalah yang pergi! Siapa tahu baginda akan berbaikan kembali dengan kaum brahmana!.- (kata Ki Samparangin meledek sahabatnya).

          _ Aku ?_

          _ Iya. Kaulah  orang yang tepat !._

          _Kukira belum sampai mengobati aku sudah digantung lebih dahulu, apalagi kalau baginda mengetahui  yang mengajukan Ken Arok  sebagai pimpinan pasukan pengawal adalah aku. _ (kata Mpu Lohgawe sambil tertawa diiringi Ki Samparangin, sementara Ken Arok hanya tersenyum-senyum melihat kedua orang tua itu bercanda).

        _ Kasihan, ada pihak yang sengaja meracun prameswari._ (kata Mpu Lohgawe)

          _ Apa kau tahu ?_ (sahut Ki Samparangin).

          _ Mestinya begitu, karena seperti kau katakan ia terkena racun, berarti ada orang yang meracuninya._

          _ Sudahlah......aku mau istirahat. Hayo Arok kita pergi !._ (kata Ki Sampar angin menyudahi pembicaraan malam itu dengan bergegas pergi menuju biliknya disertai sikap menghindari pembicaraan tentang racun yang menjangkiti permaisuri). 

v        

          Keesokan harinya tampak balai agung pakuwon Tumapel tidak seperti biasanya. Para pengawal tampak sibuk mondar-mandir di sekitar pakuwon, tidak jelas apa yang dikerjakan.   Brahmana Mpu Lohgawe telah memasuki gerbang pakuwon, belum lama melangkahkan kakinya di jalan menuju bale agung, tiba-tiba seorang pengawal setengah berteriak:

          _ Berhenti ! Ada keperluan apa bapa memasuki pakuwon ?_ (bentak salah seorang pengawal dengan kasar disertai tatapan mata penuh selidik).

         _ Aku akan menemui akuwu._ (kata brahmana Lohgawe)

         _ Akuwu tidak bisa diganggu !._ (kata pengawal setengah membentak).

        _ Kalau akuwu tidak mau menemuiku tidak apa, tetapi kalau  pakuwon ini hancur lebur,  kaulah yang harus bertanggung jawab !_ (kata brahmana Lohgawe dengan menggertak disertai nada kesal).

        _ Kau mengancam ?_ (kata prajurit sambil membentak).

        _ Siapa yang mengancam ? Kau ini tidak tahu anak muda, akulah yang membawa perintah baginda dari kutaraja!_ (kata Mpu Lohgawe berbohong).

        Mendengar utusan pembawa perintah baginda Kertajaya, seketika prajurit pengawal itu kaget sambil mulutnya ternganga, kemudian memberi hormat sambil minta maaf atas kelancangan dan kekasarannya. Prajurit pengawal itu mempersilahkan Mpu Lohgawe memasuki balai agung. Setelah beberapa saat duduk, tiba-tiba akuwu muncul dari balik pintu sekat bilik dalam.

             _ Bapa mpu Lohgawe !._ (sapa Akuwu dengan ramah sambil mempersilahkan tamunya duduk).

             _ Tentu ada keperluan penting yang membawa bapa datang ke pakuwon ini._ (kata akuwu membuka pembicaraan).

        _ Benar yang ananda katakan, bapa mengemban perintah secara tidak langsung dari baginda._ (kata Mpu Lohgawe kemudian menceritakan awal mulanya kedatangan tiga brahmana dari kutaraja yang menyerahkan perkara yang ditugaskan baginda kepadanya, sampai berniat untuk menyerahkan perkara ini kepada akuwu).

          _ Aku mengerti bapa, betapa beratnya beban brahmana saat ini. Kami di Tumapel ini juga terjepit.  Di satu sisi kami memahami beban kawula sudah cukup berat, tetapi di sisi lain sebagai akuwu kami adalah abdi sang prabu yang harus menjalankan kebijaksanaannya.  Berat bagi lidah ini untuk berterus terang kepada beliau tentang keadaan kawula sebenarnya, apalagi kalau sedang murka.  Padahal semua orang di Tumapel ini mengetahui banyak kawula yang sudah tidak mampu lagi membayar pajak karena panen gagal dan terlanda bencana alam tetapi mereka tetap dipaksa  membayarnya. Akhirnya mereka memilih lari ke hutan menjadi orang jahat._

          _ Kalau demikian,  perkaranya menjadi jelas, bahwa ananda senasib dengan kami. Di satu pihak kami mengetahui perkara yang sebenarnya, tetapi di pihak lain tidak dapat berterus-terang kepada sang prabu._

             _Saat ini sang prabu menuntut kami untuk menyembah beliau kalau tidak dapat menyelesaikan perkara Ken Arok yang dianggap sebagai musuh besar kerajaan._

          _Oh........apakah kami tidak salah dengar apa yang bapa katakan !._

             _ Ananda tidak salah dengar, memang kenyataannya saat ini kami terjepit. Tidak dapat menyelesaikan perkara Ken Arok, kami akan dipaksa menyembah dan dihukum.   Tetapi kalau menyanggupi perintah itu kami juga tidak dapat berbuat apa-apa._

          _ Sungguh bapa terlalu tabah menghadapi ujian ini._

          _Itu masalah yang kami hadapi ananda, sebenarnya masalah itu kecil saja dibanding  dengan beratnya beban di bahu kawula Kediri. Yang penting ialah bagaimana kita dapat meringankan beban rakyat ?  Untuk itulah kami datang ke sini._

          _Kami merasa benar-benar mendapat kehormatan diajak berunding masalah ini._

          _ Demi untuk kepentingan semua, kami sebenarnya mempunyai gagasan......................._ (kata Mpu Lohgawe sengaja tidak diteruskan untuk memancing reaksi akuwu).

          _ Katakan bapa!  Gagasan apa yang bapa maksud !._

          _ Bukannya akuwu tahu bahwa Ken Arok tidak dapat dibunuh. Sekian lama prajurit kutaraja sampai senopati sekalipun turun-tangan, jangankan membunuhnya malah yang terjadi sebaliknya. Para prajurit dan punggawa pajak mati terbunuh dengan cara mengerikan untuk tontonan kawula._

          _ Tolong bapa.....katakan saja secara jelas dan terperinci, apa maksudnya ?_

             _ Begini, ananda !. Kalau Ken Arok tidak dapat dibunuh, mengapa tidak dijinakkan saja !_
            
          _ Dijinakkan ?_

          _ Iya._

          _ Bagaimana caranya ?_

          _ Iya. Ibarat seekor ular Puspa kajang buas yang tidak dapat dicegah membunuh ternak dan manusia, mengapa tidak kita sediakan saja kambing di depan gua persembunyiannya secara teratur?  Pasti ular itu tidak akan menjarah ternak dan membunuh manusia lagi. Nah! Setelah keadaan tenang, siapa tahu kita baru dapat membunuhnya._

          _ Iya, kami dapat mengerti gagasan bapa, tetapi tolong dijelaskan lebih terurai ?_

             _ Sebenarnya gagasan atau rencana ini sederhana saja.  Kita memberikan sesuatu yang diinginkan tanpa terlalu merugikan kita, tetapi dia kita tuntut untuk menghentikan kejahatannya terhadap kerajaan._

          Akuwu terdiam beberapa saat lamanya, tampak dari wajahnya sedang berpikir untuk memecahkan perkara yang dihadapkan kepadanya. Kini ia menarik napas panjang dan berkata dengan nada arif.

          _ Kami belum dapat mengatakan apa-apa tentang gagasan itu._

      _Oh....tidak apa. Ananda adalah pemimpin yang baik. Ananda sangat berhati-hati. Bapa sungguh sangat hormat pada ananda. Darah raja-raja pasti mengalir di urat ananda. Memang, ananda tidak perlu menentukan sikap sekarang. Yang penting kita sudah ada saling pengertian dan ananda sudah bersiap-siap menghadapi perkembangan masalah ini._

          _Tetapi, akibat perbuatan Ken Arok kedudukan bapa sebagai brahmana juga terancam bahaya._

          _Kami berserah diri dan mempercayakan keselamatan brahmana pada Sang Bethara._

          _ Setelah dirasa cukup, bapa minta diri, ananda._

          _ Silahkan, bapa._

          Setelah beberapa pekan berlalu, Mpu Lohgawe kembali bertemu akuwu membicarakan kelanjutan perkara yang telah disampaikan pada akuwu sebelumnya.

          _ Setelah mempertimbangkan dan mengingat kepentingan kawula akhirnya kami dapat memutuskan perkara ini. Tetapi Keboijo sebagai kepala pengawal  perlu memahami masalah yang kita hadapi._

          _Ananda benar-benar seorang yang bijaksana dan pandai memelihara hati orang._

          _ Pengawal!  Panggil kepala pengawal Keboijo ke mari!_ (perintah akuwu).

          Tidak lama kemudian Keboijo masuk sambil menyembah, kemudian berkata:

          _Hamba, siap menerima perintah akuwu._ (kata Keboijo memperlihatkan keluguannya).

          _ Aku ingin merundingkan sesuatu._ (kata Akuwu datar)

          _ Benar, perwira!  Ada hal penting yang menyangkut dirimu._ (timpal brahmana Lohgawe).

          _Saya siap menjalankan kebijaksanaan akuwu._ (sahut Keboijo)

          _Begini perwira. Dalam tawar-menawar kami dengan Ken Arok, telah disetujui bahwa setengah saja dari anak buahnya yang dijadikan pengawal. Akan tetapi Ken Arok menyetujui usul itu dengan syarat dia diangkat menjadi Kepala pengawal. Maksudnya kau menjadi wakilnya._ (kata Mpu Lohgawe menjelaskan)

          _ Saya tidak melihat masalah apapun dalam hal ini, bapa._ (sahut Keboijo).

          _Kau benar-benar perwira sejati yang mendahulukan kepentingan kerajaan daripada dirimu sendiri._ (kata Mpu Lohgawe memuji)

          _Apakah kau mempunyai gagasan atau pertimbangan lain yang dapat kami pertimbangkan untuk diusulkan kepada Ken Arok ?_ (kata Akuwu bertanya)

          _ Maksud akuwu ?_(sahut Keboijo)

          _ Maksudnya, kau tetap jadi kepala pengawal sedang Ken Arok mendapat penghargaan dalam bentuk barang atau uang._ (kata Akuwu menawarkan)

          _Saya benar-benar tidak berkeberatan menjadi wakilnya, akuwu._ (kata Keboijo mantap).

          _ Baiklah kalau begitu._ (kata Akuwu menegaskan)

          _ Syukurlah perwira. Kau benar-benar ksatria yang setia pada dharma. Kami kaum brahmana, harus berterima kasih padamu dan kepada gustimu, akuwu Tunggul Ametung (kata brahmana Lohgawe memuji).

          _Kamilah yang harus berterima kasih. Kami diberi kesempatan membuat dua kebaikan sekaligus. Pertama, menghentikan kegiatan Ken Arok, kedua ikut meredakan ketegangan antara kaum brahmana dengan Sang prabu._ (kata Akuwu ).

          _Anandalah yang membuat perkara ini ibarat lolos dari lubang jarum. Kami akan segera mengirim berita ini kepada Ken Arok._ (timpal Mpu Lohgawe).

          _Baiklah kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, silahkan bapa istirahat. (kata Akuwu mempersilahkan).

          _ Bapa tidak dapat lama-lama di pakuwon, ananda. Ijinkan bapa minta pamit kembali ke padepokan. _ (kata Mpu Lohgawe minta diri).

          _ Silahkan, bapa_ (sahut Akuwu mempersilahkan).

v          

          Hari demi hari berganti, pekan demi pekan berlalu, padepokan Panawijen tampak sepi dan suram setelah terjadi peristiwa rajapati. Pedhut ampak-ampak menyelimuti padepokan itu sejak terjadi peristiwa rajapati,  dukapun  masih belum mau beranjak dari tempat itu. Seorang cantrik tua berjalan tertatih-tatih menyalakan lampu di pendapa. Tetapi sorot sinarnya sepertinya  tidak mampu menghapus kesuraman padepokan itu.  Lebih-lebih murid-murid padepokan yang jumlahnya tidak seberapa itu  telah pulang ke kampung halamannya semenjak peristiwa itu terjadi.  Ketika memasuki senjakala suasana sepi itu semakin mencekam. Beberapa tetangga yang dekat dari padepokan tidak lagi berani keluar rumah. Cantrik tua yang duduk di angkring yang terletak di sudut luar pendapa itu sebentar-sebentar mengibaskan sapu lidinya untuk mengusir nyamuk diiringi suara batuk-batuk. Padahal sebelum peristiwa rajapati terjadi, pendapa itu hampir tidak pernah sepi dari keramaian. Mpu Purwa setelah mengajar para muridnya, biasanya memberi kesempatan kepada tamu-tamunya siapa saja untuk dapat bertemu, kadang sampai larut malam. Kalau siang hari, putri brahmana itu mandi sambil bersuka cita berbarengan teman-temannya di sendang dekat padepokan. Belum lagi tamu-tamu penting yang kerap kali menginap di padepokan. Semuanya itu menjadikan padepokan itu laksana bersinar penuh keramahan dan keteduhan.

          Malam itu ketika belum begitu larut, tanpa disangka  empat orang berpakaian brahmana memasuki halaman padepokan. Cantrik tua yang tidur di angkring itu terbangun mendengar ada langkah mendekatinya. Sejenak cantrik itu mengamati, tampaknya ia kaget setelah mengetahui siapa yang datang, kemudian berkata:

          _ Aduh, bapa brahmana! ampunkan saya!_ (kata cantrik itu setengah ketakutan).

          _ Apa yang terjadi ?_

          Cantrik tua itu menceritakan awal mulanya kejadian rajapati dan pembrandatan putri Ken Dedes dari padepokan ini.

          _Putriku diculik !.  Katakan siapa yang melakukannya ?_ (kata Mpu Purwa kaget).

          Cantrik tua itu  tampak semakin gemetaran, keringat dinginnya mengucur, mulutnya seperti terkunci tidak kuasa lagi mengatakan pelaku penculikan dan rajapati  itu.

          Para tetangga ketika mendengar suara Mpu Purwa datang, mereka segera keluar dari rumahnya menuju ke padepokan. Tidak lama kemudian hampir seluruh warga desa beramai-ramai berkumpul di halaman padepokan.

          _Siapa yang menculik anakku ? _ (tanya Mpu Purwa setengah berteriak mengulang kepada orang-orang desa Panawijen yang berdiri berkerumun di tempat itu).

      _ Akuwu dan prajurit Tumapel, bapa Mpu !._ (jawab salah seorang dari mereka)

                   _ Apa yang mereka cari di padepokan ini ? (tanya Mpu Purwa)

    _ Mereka sengaja membrandat den ayu Ken Dedes, bapa! (sahut salah seorang dari mereka)

     _ Benar, mereka tidak saja membrandat den ayu Ken Dedes, tetapi membunuh Wreksapati dan biyungnya serta Wiraprana yang membela diri._  (kata orang desa lainnya).

      Mendengar jawaban itu, Mpu Purwa yang selama ini tidak pernah kelihatan marah, kali ini wajahnya berubah merah padam, giginya berkerot-kerot,  desahan napasnya terdengar kasar, darahnya laksana mendidih, genggaman tangannya tanpa sadar mengepal-ngepal seperti ingin meremuk wajah orang yang berbuat keji itu.  Kemudian berkata:

      _Hei ....orang-orang Panawijen! Dengarkan aku akan menjatuhkan umpat !_

      Mendengar perkataan brahmana Mpu Purwa akan menjatuhkan umpat sebagai sabda brahmana, seketika orang-orang desa yang berkerumum di situ menjadi terperangah, bulu kuduknya merinding, hatinya menjadi ciut, wajahnya tampak ketakutan seakan sabda brahmana yang akan dijatuhkan itu menimbulkan prahara yang menggetarkan hatinya. Tangan dan kaki mereka gemetaran, keringat dinginnya mengalir deras bagaikan diperas. Keadaan menjadi tegang mencekam. Tanpa dinyana-nyana langit yang sebelumnya terang tiba-tiba berubah mendung, tampak gumpalan awan hitam berarak tampak menggelayuti angkasa di sekitar padepokan.

      _ Hei Akuwu !  Kau........telah melumuri tanganmu dengan darah di tempat yang aku sucikan ini!   Kau telah membrandat  anak gadisku secara paksa! Kau telah menodai kehormatanmu sendiri sebagai manusia yang beradab !  Ingatlah ! Kau kelak  akan mati terbunuh secara nistha dan sia-sia!_ (kata brahmana Mpu Purwa dengan nada lantang sementara tangannya bergerak menunjuk ke langit).

      Usai umpat dijatuhkan, seketika langit berubah menjadi gelap gulita, suara gemerosak seperti hujan deras di antariksa.  Petir  menyambar-nyambar laksana membelah angkasa seakan melampiaskan amarahnya seperti ingin meluluh-lantakkan bumi Tumapel.  Hujan badai disertai angin topan dahsyat  yang membuat pepohonan di sekitar padepokan itu tumbang bosah-baseh seakan murka terhadap orang orang-orang yang berbuat keji di padepokan itu.  Orang-orang desa yang semula menyaksikan kejadian dahsyat itu kini lari berhamburan dengan ketakutan luar biasa. Lututnya gemetaran seperti tidak kuasa lagi  menyangga berat badannya,  akhirnya  di antara mereka banyak yang jatuh terjerembab di tanah berlumpur.   Getaran perbawa gaib yang  dahsyat  itu membuat hati orang-orang desa Panawijen menjadi miris dan takut.

v        
         
          Pada saat bersamaan jatuhnya umpat brahmana Panawijen itu, di pakuwon Tumapel terjadi peristiwa ganjil yang menghebohkan.  Malam itu ketika Akuwu bersenang-senang dengan segenap punggawa dan prajurit pengawal tiba-tiba dikejutkan  oleh sambaran petir yang kilatannya sangat terang diikuti oleh suara gemlegar dahsyat. Sementara hujan deras disertai angin lesus  seakan berusaha menjebol balai pakuwon.  Bangunan gerbang gapura Pakuwon yang tampak kokoh itu seketika hancur berantakan tersambar petir diiringi kepulan asap berhamburan ke udara. Akuwu yang larut dalam kasukan beksan beserta punggawa tinggi lainnya seketika terkejut jatuh berguling-guling ke lantai terkena hantaman bias udara petir yang sangat kuat. Soko guru dan atap balai agung yang kokoh itu berguncang hebat seperti akan runtuh. Orang-orang yang berada di balai itu seketika lari berhamburan keluar menyelamatkan diri. Malam hiburan itu berakhir dengan perasaan takut dan miris. Salah seorang pengawal dalam hatinya berkata:

             “Aneh!  Tidak ada mendhung tidak ada anginsebelumnya,  tiba-tiba halilintar menyambar gapura pakuwon menjadi hancur lebur rata dengan tanah. Apakah itu sebuah pertanda akan terjadi sesuatu ataukah sekedar petir menyambar?”. Apakah kejadian ini suatu pertanda akan terjadi sesuatu di pakuwon ini?
         
v           
         

          Beberapa  hari berikutnya,  kepak suara kaki kuda berlari dari kejauhan  makin terdengar jelas dari padepokan Panawijen. Penunggang kuda itu memacu kudanya seperti memacu angin.  Memasuki pelataran padepokan pemuda itu segera meloncat dari punggung kuda, kemudian berlari mencari bapa gurunya yang tergolek lemah di dipan di tunggui oleh Mpu Pamor, Mpu Sridhara dan Mpu Kuturan.

      _ Bapa ! ......bapa .........!  Kenapa bapa sakit seperti ini ?  Oh....bapa ! (Mahisa Aghni seketika mendekap bapa gurunya di pangkuannya  disertai tangisan yang mengharukan). Keadaan bapa gurunya tampak terkulai lemah. Mengetahui Mahisa Aghni datang memangkunya, Mpu Purwa membuka mata dan berusaha untuk berkata dengan suara lirih terputus-putus:

      _ Mahisa, adikmu Ken Dedes telah diambil paksa Akuwu ?  Kau kutugaskan untuk mengawasi adikmu itu,  moga-moga dia  kelak menemui kebahagiaan!_ (suara Mpu Purwa makin lemah).

      _ Tentu........bapa, tentu  !  Aku akan menjaganya adik Ken Dedes sampai kapanpun ! Tetapi bapa harus sembuh!_ (kata Mahisa Aghni sambil mendekap gurunya sambil berlinang air mata).

Tiba-tiba dari kejauhan sayup terdengar suara derap kaki kuda. Langkah kaki kuda itu semakin jelas ketika  memasuki halaman padepokan. Anak muda yang  bertengger di punggung kuda itu meloncat dengan gerakan sangat ringan tanpa memberhentikan hewan tunggangannya sebelumnya. Anak muda itu segera berlari ke ruang dalam dan ........

_ Bapa!  Kenapa mesti terjadi seperti ini!_ (kata Ken Arok yang mendekap Mpu Purwa). Cukup lama anak muda itu tidak melepaskan dekapannya, Mpu Purwa berusaha mengatakan sesuatu:

_Anakku  Arok!  Sewaktu aku menjatuhkan umpat, hanya kamu yang tampak di mata bapa._ (kata Mpu Purwa lirih).

_ Iya........tapi bapa jangan banyak bicara dulu. Keadaan bapa masih sangat lemah. (kata Ken Arok sambil tangannya memeriksa badan Mpu Purwa yang sudah dianggap orang tuanya sendiri).

_ Bapamu jatuh sakit semenjak kepulangannya beberapa hari lalu dari bertapa di Indrakila. Beliau kaget putrinya diculik akuwu._ (kata Mpu Pamor setengah berbisik kepada Ken Arok).

_ Mengapa aku tidak tinggal di padepokan ini ketika bapa pergi ke Indrakila!  Mahisa ! Mengapa kau  pergi ke Lumajang sekian lama ?  Akibatnya padepokan ini diinjak-injak oleh orang yang tidak berbudi !_ (kata Ken Arok seperti tidak dapat mengendalikan diri- menyalahkan dirinya sendiri).

_ Arok ! Jangan salah paham! Aku juga baru datang dari Lumajang menunaikan tugas yang bapa guru berikan, aku sendiri tidak mengetahui kejadiannya! (jawab Mahisa Aghni sambil menatap sahabatnya Ken Arok). Mendengar jawaban Mahisa Aghni, amarah Ken Arok kelihatan agak reda. Ia duduk kembali di dipan dekat bapa gurunya berbaring sambil menundukkan wajahnya, kedua telapak tangannya ditutupkan diwajahnya seperti sedang menahan kesedihan yang amat mendalam). Kemudian ia berkata:

_ Di mana Wiraprana !._  (tanya Ken Arok)

_ Ia tewas bersama Wreksapati  mempertahankan kehormatan, ketika berusaha merebut dinda Ken Dedes !._  (jawab Mahisa Aghni lirih). Ken Arok menggeleng-gelengkan kepala sambil kedua telapak tangannya masih ditutupkan di mukanya yang masih tertunduk lunglai).  Kemudian tanpa sadar Ken Arok berdiri, pandangannya ke arah  pada Mpu Pamor, Mpu Kuturan dan Mpu Sridhara dengan tatapan kemarahan yang memuncak. Matanya berubah merah berkilat dan liar, dengus napasnya membekos, kemudian berkata sambil tangannya menunjuk ke arah tiga orang brahmana dari kutaraja itu.

_ Lihatlah! Apa yang diperbuat punggawa Kediri terhadap keluarga brahmana. Bagaimana kalau kejadian seperti ini menimpa keluarga bapa sendiri ?  Masihkah bapa menyudutkan orang sepertiku yang selama ini membela kaum lemah dan teraniaya? Orang-orang Kediri termasuk kaum brahmananya dengan gampang menuduhku sebagai penjahat kerajaan,  tetapi mereka sendirilah yang sebenarnya penjahat!_ (kata Ken Arok agak melampiaskan kekesalannya kepada tiga orang brahmana kutaraja yang sejak semula menampakkan ketidak-senangannya pada dirinya).

_Sudahlah....Arok !  Kini aku semakin mengerti dirimu ! Maafkan sikap kami selama ini padamu!_ (kata Mpu Kuturan merendah).

_ Mahisa Aghni ! aku tidak tega melihat keadaan bapa seperti ini !_ (kata Ken Arok sambil berjalan menghampiri Mahisa Aghni).

_ Maksudmu ?_ (kata Mahisa Aghni bertanya).

_Aku akan pergi mencari pangusadan._ (kata Ken Arok singkat).

_Pergilah ! Aku dan bapa brahmana Pamor  akan menunggu dan merawatnya._ (kata Mahisa Aghni sambil menepuk bahu sahabatnya).

Ken Arok keluar dari ruangan dengan wajah lesu, berjalan menyusuri lorong-lorong kecil di sekitar padepokan yang biasa dilaluinya bersama kekasihnya Ken Dedes. Langkah anak muda itu terlihat sedikit gontai itu terhenti di tepi sendang, seketika ingatannya terbayang pada wajah kekasihnya yang pernah mengikat janji di tempat ini. Tempat ini seakan menjadi saksi bisu janji-setiaku dengan dinda Ken Dedes  tetapi kini semuanya hancur berkeping-keping. Ken Arok tersadar dari lamunannya ketika ia tidak boleh terlambat mencari sarana usada untuk bapa kekasihnya. Ia segera belari ke arah kandang kuda, sesaat kemudian menggebrak larinya meninggalkan padepokan Panawijen dengan hati hancur berkeping-keping. Ingatannya kembali menerawang, kenangannya  bersama Ken Dedes muncul satu persatu  di pelupuk matanya. Tetapi ketika tersadar kekasihnya tidak lagi berada di padepokan, seketika terbayang ronta-tangisnya ketika para pengawal akuwu menyergapnya dengan kasar. Ketika bayangan kekerasan itu begitu mengganggu perasaannya, seketika tangannya menarik ikat kendali kuda dengan sontak. Hewan itu berhenti mendadak dengan kaki depan terangkat sambil meringkik panjang. Ken Arok melompat dari punggung kuda itu kemudian wajahnya dibenamkan pada sebuah pohon besar di pinggiran hutan sambil tangannya yang dikepalkan itu dipukul-pukulkan.  Ketika perasaannya larut dalam kesedihan yang memuncak itu, tiba-tiba terdengar suara bergema:

_Arok anakku! Berhentilah bersedih ! Kau tetap dapat memilikinya !_

Mendengar suara yang sudah amat dikenalnya itu, Ken Arok berbalik arah memandang sekeliling tempat itu. Tidak lama kemudian, pamannya Ki Sampar angin telah berdiri di hadapannya.

_Tenangkanlah hatimu, anakku !_ (kata Ki Samparangin seakan mengerti betapa hancur hati muridnya). Orang tua itu kemudian berjalan berbalik meninggalkan Ken Arok sambil menghadap ke hamparan sawah, tiba-tiba ia berteriak keras ibarat seorang pujangga yang membaca karya sastranya.

      Siapa yang dapat memisahkan cinta ?  Senjata apapun tak akan mampu ! Percayalah pada kekuatannya !  Masih ada hari, masih ada harapan !  Janganlah berkecil hati! Perjuangkanlah ! Karena cinta memerlukan bukti bukan janji apalagi tangis keputus-asaan seperti ini!”_ (kata Ki Sampar angin keras menggema seakan gemanya menembus seluruh penjuru hutan dan sudut persawahan). Mendengar kata-kata yang diucapkan gurunya, Ken Arok seperti tersadar dari kepedihan dan keputus-asaan yang dirasakannya.

   _ Paman !._ (teriak Ken Arok sambil berlari mendekati pamannya kemudian ia bersimpuh di lutut orang tua itu). Orang tua itu tanpa sadar tangannya mengelus rambut muridnya, sambil berkata:

   _Bangkitlah anakku !_ (kata Ki Samparangin menyuruh Ken Arok berdiri).

   _Terima kasih, paman telah menyadarkanku!_

   _ Aku maklum, kau masih muda. Tetapi janganlah kau larutkan dalam kebinasaan cinta, karena cinta adalah kekuatan, bukan suatu kebinasaan. Semuanya masih belum terlambat.  Kau akan meraihnya, anakku!_  (kata Ki Samparangin sambil menepuk bahu muridnya).

     Ken Arok merasa terhibur dengan kata-kata gurunya yang dirasa dapat mengurangi kekusutan hatinya, membangkitkan gairah hidupnya. Tampak anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala, wajahnya kembali tenang menyambut hari-hari seperti dikatakan oleh gurunya.

     _ Hayo kita segera ke padepokan!  Srana pangusadan yang  diperlukan bapamu sudah kubawa!_



TAMAT


BERSAMBUNG EPISODE KEDUA:


RAHASIA DI TAMAN BABOJI